Rabu, 16 Agustus 2017

KHUTBAH JUM’AT MEMPERINGATI HUT RI KE 72 TAHUN 2017



KHUTBAH JUM’AT MEMPERINGATI HUT RI KE 72 TAHUN 2017
MERAJUT KEMBALI CITA-CITA KEMERDEKAAN
Ed. : ANIS PURWANTO

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًا مُرْشِدًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصَحابهِ اْلأَخْيَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
قَالَ تَعَالَي عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Istiqomah dalam syukur atas nikmat Allah adalah ciri pribadi muttaqin. Pandai bersyukur akan melahirkan optimisme hidup, sehingga semangat untuk terus mengembangkan diri secara positif akan terus terpelihara dan pada gilirannya kesalehan hidup secara vertikal maupun horisontal, hamlum minallah wa hablum minannas akan senantiasa terjaga. Inilah sebenarnya hakekat taqwa , sebagaimana dimaksud  oleh Al-Qur’an Surat Al Hujarat : 13 , yang insya Allah akan dianugrahi tempat tertinggi di sisi Nya.
إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ
“Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa”.
Kaum Muslimin Rakhimakumullah.
            Hari ini Jum’at tanggal 18 Agustus 2017. Saudara. Rasanya belum lama kita merasakan gegap gempita kemeriahan menyambut HUT RI ke 71 tahun lalu dan kemaarin kita kembali merasakan kemeriahan itu dalam peringatan ke 72 tahun kemerdekaan bangsa kita. Kemerdekaan adalah merupakan nikmat agung yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-Nya, oleh karena itu mensyukurinya merupakan sebuah keniscayaan yang harus menjadi budaya kita sebagai seorang muslim. Kita diingatkan apa yang dikatakan Musa kepada kaumnya:
وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَـٰقَوۡمِ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ جَعَلَ فِيكُمۡ أَنۢبِيَآءَ وَجَعَلَكُم مُّلُوكً۬ا وَءَاتَٮٰكُم مَّا لَمۡ يُؤۡتِ أَحَدً۬ا مِّنَ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya : “Hai kaumku, ingatlah ni’mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. (QS.Al Maidah :20).
            Tentu ada banyak hal yang harus menjadi bahan perenungan di usia 72 tahun kemerdekaan bangsa kita. Sebuah pertanyaan besar yang menjadi titik pijak perenungan kita adalah “apakah perjalanan bangsa ini, dengan segala bentuk dinamika yang telah dilakoninya, telah sesuai dengan kehendak para  pendiri bangsa ini ?“. masihkan ada bara api pekik “merdeka atau Mati” pada setiap  dada anak bangsa kita ?
Kaum Muslimin Rakhimakumullah
            Sebab, ada banyak ragam pengertian kata merdeka. Ada yang beranggapan merdeka adalah kebebasan mutlak untuk berkehendak semau kita. Seperti yang dianut oleh faham liberalisme atau penganut faham kebebasan tak terbatas, terutama di negara-negara barat.            Ada pula yang memberi pengertian merdeka dalam pengertain yang sempit. Faham ini banyak diikuti oleh para pengikut mahdzab diktatorisme , dimana kebebasan anggota masyarakatnya dikekang dengan sangat ketat oleh penguasa, pemimpin ibarat tuhan yang apa kehendak dan kemauannya harus dijalankan oleh rakyat yang dipimpin.
            Sedang merdeka yang kita inginkan adalah merdeka yang memberi kebebasan kepada rakyat, tetapi juga ada rule of game atau aturan main yang harus dipatuhi dan membatasi setiap kemerdekaan yang dimiliki oleh masing-masing pribadi, dan salah satu jawaban atas kebutuhan kita akan rule of game diatas adalah Islam.
Kaum Muslimin Rakhimakumullah.
            Dalam konsep ajaran Islam kita akan mendapati bahwa agama samawi ini telah menerapkan esensi kemerdekaan dalam misinya, meski agama ini lahir pada sebuah tatanan sosial bangsa  Arab waktu itu, yang sama sekali tidak menghormati asas-asas kemerdekaan. Perbudakan yang meraja lela, pembunuhan dan pembelengguhan hak azasi kaum perempuan, pelecehan satu golongan terhadap golongan lain, merupakan sebagian contoh bagaimana bobroknya tatanan sosial yang terjadi saat itu.
            Dalam pranata sosial yang demikian, islam lahir membawa keteduhan ajaran, Islam mampu menghadirkan pranata yang menyejukkan. Ditambah kemampuan sang pembawa kebenaran, yakni Rasulullah SAW dalam menampilkan diri sebagai uswatun khasanah, jadilah Islam sebagai sebuah kekuatan maha dahsyat yang mampu mengubah tatanan jahiliyah menjadi pencerahan di semenanjung Arab hanya dalam waktu 23 tahun.
            Contoh kongkrit dukungan Islam terhadap nilai-nilai kemerdekaan tidak hanya terbatas konsep saja, tetapi juga menjadi tatanan praktis, misalnya anjuran Rasulullah SAW kepada para sahabatnya untuk memerdekakan hamba sahaya, seperti yang sering dilakukan oleh Abu Bakar dan Ustman bin Affan, serta pemberlakuan hukuman memerdekakan budak bagi pelaku pelanggaran syar’I tertentu.  Dan ajaran-ajaran lain tentang tasyawur (musyawarah), ta’awun (saling tolong menolong antar sesama), ta’aruf (persahabatan) antar sesama baik sebagai pribadi maupun antar suatu bangsa merupakan contoh praktis lain yang tak terbantahkan dari ajaran agama mulai ini.
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعً۬ا وَلَا تَفَرَّقُواْ‌ۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً۬ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦۤ إِخۡوَٲنً۬ا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan kamu, sehingga dengan karunianya kamu menjadi bersaudara”. (QS. Ali Imran :103).
Karenanya,      konsep masyarakat madani adalah solusi dari segala persoalan negeri, bukan berarti bangsa ini belum melakukan, tetapi konsep masyarakat madani hanya lebih  banyak dibahas dan dikemukakan sebagai topik politik, ataupun isu politik, sehingga secara jelas lebih menampakkan sebagai wacana dan belum sampai pada realitas.
Kaum Muslimin Rakhimakumullah.
            Perjuangan mengisi kemerdekaan yang ke 72 ini adalah menciptakan kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa ini. Kedaulatan ekonomi yang masih terbelenggu oleh sestem kapitalis harus segera dibebaskan, diganti dengan sistem kerakyatan. Sekalipun merubah sistem yang mengutamakan pertumbuhan menjadi sistem yang menomersatukan kesejahteraan dan keadilan rakyat itu tidak mudah, tetapi setidak-tidaknya pemerintah dan semua intitusi yang memlilki wewenang dan kekuasaan berpihak kepada rakyat.
Sehingga Hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan RI ke 72 ini adalah momentum penting untuk dilakukan perubahan. Tanpa ada perubahan, bangsa ini akan mati, dan perubahan terus menerus menuju perbaikan adalah suatu keniscayaan. Dengan tetap mengembalikan   cita-cita bangsa, pada tempat tertinggi, jauh diatas kepentingan pribadi dan golongan.
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya atas setiap usaha kita meraih cita-cita kemerdekaan bangsa, menuju negeri adil makmur , “baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur” amin ya rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar