Rabu, 21 November 2012

HIJRAH HATI NURANI


HIJRAH HATI NURANI
Oleh : Anis Purwanto

            Sebelum Rasulullah SAW melakukan hijrah, yang penuh dengan pengalaman, pengorbanan, penderitaan dan lain-lain, tapi kemudian ternyata menjadi titik awal dari penyebaran dan kebangkitan Islam. Maka Nabi Muhammad SAW bersama dengan para sahabat lebih dahulu melakukan sikap dan strategi, yang menurut Prof. Mahmud Syaktut dalam Min Taujihatil Islam disebut ‘hijratul qolbiyah” (hijrah hati nurani) yang merupakan pusat pendidikan dan latihan untuk menghadapai jaman dan tantangan yang lebih berat, yaitu pindah menyingkirkan diri dari tanah air yang mereka cintai, ke suatu tempat yang masih belum jelas, pada waktu itu menjadi tumpuan harapan.
            Riwayat menunjukkan bahwa kota Makkah pada saat itu dikuasai oleh rezim Quraisy yang menegakkan dan mempertahankan system jahiliyah. Mereka penuh kebatilan, kemusyrikan, fanatisme dan lain-lain. Dan mereka mempunyai posisi dan fasilitas yang lebih kuat disbanding umat Islam, baik dilihat sudut kualitas maupun kuantitas. Meski dalam keadaan yang demikian itu kurang lebih 12 tahun, Rasulullah SAW dan para sahabat dapat bertahan mengembangkan ajaran Islam walaupun dalam keadaan dan situasi yang sangat rawan,  setiap detik menghadapai bahaya yang mengancam keselamatan jiwa.
            Ditengah-tengah rezim yang dapat saja melakukan kehendaknya, Rasulullah SAW bertahan menyemaikan bibit kebenaran sampai saat turunnya perintah illahi untuk hijrah ke negeri yang memberikan harapan. Periode inilah yang kemudian oleh Prof. Mahmud Syaltut disebut sebagai hijratul qolbiyah (hijrah hati nurani). Dan selanjutnya dapat dipergunakan sebagai uswatun khasanah (iktibar yang baik) yang dapat menjiwai seluruh perjuangan kaum muslimin dari segala zaman, walaupun dalam situasi yang sulit sekalipun, dimana dakwah Islam mendapat tantangan dan hambatan yang bertubi-tubi.
            Namun Rasulullah SAW dan kaum muslimin yang masuk golongan minoritas ketika itu sanggup bertahan, tidak hanyut kedalam arus yang melanda. Sebab dalam hijratul qolbiyah itu umat Islam saat itu telah digembleng dengan ajaran tauhid yang kuat (militant) sehingga disaat hijratul badaniyah (hijrah fisik) mental mereka telah tertata baik. Kerena sebelum hijratul badaniyah mereka telah melakukan hijratul qolbiyah, hijrah dari kemusrykan kepaham tauhid, yang meliputi keihklasan, tawakal , cinta sesame, mengangkat derajat manusia dari lumpur jahiliyah yang merusak, yang setiap waktu terjadi pertumpahan darah dan penindasan terhadap kaum yang lemah.
            Hijratul qolbiyah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW itu perlu diterapkan oleh kaum muslimin dalam setiap perjuangan. Apalagi dalam situasi dan kondisi Negara seperti di Indonesia sekarang ini. Dimana keadaan umat Islam sangat rentan perpecahan dan permusuhan. Tiap=tiap muslim harus berusaha jangan sampai terbawa arus yang dapat mengakibatkan perpecahan umat, yang dapat merugikan perjuangan dan kegiatan dakwah Islam secara keseluruhan. Tetapi sebaliknya tiap-tiap muslim harus berusaha jangan terbawa arus (hanyut) dengan keadaan yang merugikan itu, tetapi tetap berjuang menentang keadaan yang dianggap merusak. Paling tidak jangan sampai telibat atau melibatkan diri dengan sesuatu yang merugikan diri dan perjuangan. Meski yang demikian itu merupakan uapaya atau jawaban yang minimal (lemah) yang disebut Rasulullah SAW dengan “adh’aful iman”.
            Bisakah kita mewujudkan dalam abad 15 hijrah itu merupakan abad kebangkitan umat Islam ? Sudahkah ada tanda-tandabahwa Islam di Negara kita ini mulai bangkit ?.  Ataukah justru dengan adanya berbagai konflik yang berbau “SARA” diberbagai daerah di Indonesia itu menjadikan umat Islam surut “perjuangannya’?. Memang dakwah Islam kita masih ada dan tetap menggelora disetiap dada para penggiat keagamaan (da’I, penyuluh agama). Tetapi tantangan dan hambatan tetap berat dan siap menghadang didepan. Hanya kita yang mempunyai “biyadihi” kokoh dan ditambah dengan “bilissanihi” yang bil hikmah wa mau’idhotil khasanah saja yang mampu, selain didasai dengan keihklasan yang berwawasan fidun ya khasanah wa fil akhiroti khasanah”.
Umat di Indonesia.
            Walaupun kita sering berbicara tentang umat Islam Indonesia. Secara jujur perlu kita akui bahwa istilah ummat disini belum menunjukkan arti yang sesungguhnya. Terlalu banyak factor yang menyebabkan kita masih mengalami dis integrasi. Faktor-faktor yang berasal dari perbedaan kepentingan politik, perbedaan pemahaman agama yang terlalu dibesar-besarkan, dan umat yang masih harus terus dimantapkan dan didewasakan.  Yang kesemuanya ini merupakan factor internal. Sedang factor eksternal sering bersifat provokatif terhadap integrasi umat.
            Padahal bila kita dapat membangun umat yang kuat dan bersatu, maka hampir sama saja kita membangun bangsa Indonesia yang kuat dan bersatu. Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat yang mengalami kerapuhan dan pecah kedalam pasti akan mempengaruhi bangsa secara keseluruhan. Oleh karena itu bila kita ingin membangun umat yang padu dan kuat, secara langsung kita juga membangun Indonesia yang stabil, padu dan sentausa.
            Satu masalah yang perlu kita perhatikan dan kita atasi adalah gejala makin merosotnya sensitivitas dan solidaritas umat, kelemahan wawasan dan kelemahan strategi dan taktik serta melemahnya ukhuwah Islamiyah (bahkan mungkin sekali kelemahan tauhid), umat Islam seperti gampang diobok-obok dan dimanfaatkan oleh berbagai kekuatan politik. Sebagai contoh bagaimana getolnya mereka merangkul umat Islam disaat menghadapi pemilihan umum. Seperti halnya merusak sesuatu lebih gampang dari membangun, maka proses pengobok-obokan yang terjadi pada umat Islam karena berbagai kepentingan, akan memerlukan kerja yang luar biasa sulit untuk memulihkan kembali. Ingatan kita langsung tertuju kepada hadits Nabi bahwa dikhawatirkan suatu ketika umat Islam akan diperebutkan orang seperti hidangan diatas meja yang diperebutkan oleh orang yang sedang lapar.
            Karena itu, dari berbagai factor umat, yang penting didalam kaitan tauhid dan pembangunan umat, kita perlu mempertajam sejarah kita supaya kita tidak mengulangi kesalahan-kesalahan dimasa lampau. Dengan pemahaman tauhid yang tumpul dan statis itulah sesungguhnya merupakan sumber awal dekadensi dan degenerasi umat. Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk umat, sebagai kontribusi bagi terciptanya integrasi umat. Wallahu a’lam.

Kamis, 08 November 2012

DO'A UPACARA : PERINGATAN HARI PAHLAWAN


DO’A UPACARA
PERINGATAN  HARI PAHLAWAN
10 Nopember 2012

Bismillahirrahmanirrakhiim.
Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wassalatu wassalamu ‘ala ashrafil ambiyai wal mursalin, sayyidina Muhammadin wa’ala alihi washohbihi ajmain.

Ya Allah, Yang Maha Esa.
Kami persembahkan puji dan syukur kehadirat-Mu, atas segala rahmat dan karunia-Mu pada hari ini kami dapat menyelenggarakan upacara untuk memperingati Hari Pahlawan, semoga acara ini mendapat curahan rahmat dan ridha-Mu.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang.
Kami mohon kepada-Mu ya Allah, terimalah persembahan dharma bakti para pahlawan kusuma bangsa, tidak saja sebagai pengabdian terhadap tanah air, bangsa dan Negara, tetapi sebagai pengabdian dan ibadah kepada-Mu  sesuai dengan janjimu, lipatkanlah pahala mereka, curahkanlah rahmat dan ampunan-Mu kepada mereka dan terima mereka di sisi-Mu.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Jadikan kami sebagai anak bangsa yang pandai mensyukuri nikmat-Mu dan tahu menghargai serta berterima kasih kepada pahlawan bangsa. Hiasi diri kami dengan perilaku terpuji dan nilai-nilai pengabdian dan kepahlawanan, serta jauhkan diri kami dari sifat dan perilaku yang tercela.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk.
Sadarkan hati kami bahwa kemerdekaan yang kami nikmati sampai sekarang ini adalah hasil jerih payah, cucuran keringat dan tetesan air mata serta tumpahan darah para pahlawan. Oleh karena itu ya Allah, tunjukkan kami kepada jalan yang benar, jalan yang telah ditempuh oleh para pahlawan kami dan berilah kami kekuatan dan petunjuk-Mu dalam melanjutkan perjuangan mereka untuk mewujudkan cita-cita para pendahulu kami dalam melanjutkan pembangunan bangsa kami.

Ya Allah, Yang Maha Bijaksana.
Jadikanlah kesempatan memperingati Hari Pahlawan ini sebagai momentum untuk semakin merekatkan rasa kesatuan dan persatuan bangsa kami.
 Ya Allah, Yang Maha Pengampun.

Ampunilah dosa kami, para pemimpin kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami serta para pahlawan kami, serta terimalah do.a dan permohonan kami.

Robbana atina fiddun ya khasanah wa fil akhiroti khasanah wa khina ‘adza banner. Wal hamdulillahi rabbil ‘alamin.


Rabu, 07 November 2012

KHUTBAH JUM'AT BAHASA JAWA : MUKHASABAH ING AKHIR TAHUN


KHUTBAH  JUM’AT BAHASA JAWA
 MUKHASABAH ING AKHIR TAHUN
Dening : ANIS PURWANTO

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Minangka pambukaning khotbah ing siang punika, sumangga sesarengan kita ngeningaken cipta saha manah kita, kanthi nyaosaken puja puji syukur ing ngarso dalem Allah SWT, kanthi karunianipun Allah SWT, kita taksih kabimbing iman lan Islam sarta kesadaran kagem nindakaken kewajiban ibadah Jumat ing siyang punika. Saestu, kita anyekseni bilih mbaten wanten pangeran kajawi Allah SWT, Gusti ingkang Maha Mirah lan Maha asih, Maha Penyayang lan Maha Pengampun dumateng sedaya hambanipun. Lan kita anyekseni bilih Nabi Muhammad SAW punika Rasul ingkang kautus nyebaraken rahmatipun Allah dumateng sedaya isi jagat agung punika. Mugia shalawat lan salam atur dumateng junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sahabat lan sedaya penderekipun, kalebet kita sedaya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
 Dinten Jumat punika kita sampan wanten ing pethitipun warsa 1433 H, insya allah  Jum’at ngajen kita sampun lumebet ing warsa enggal tahun 1434  H, ing dinten punikamalah sampun tanggal 2 wulan Muharram utawi ingkang asring kita sebat wulan asuro utawi suro. Pramila keterangan khutbah jum’at ing siang punika, keparenga kula aturaken sekedik keterangan ingkang wanten gegayutanipun kaliyan persiapan anggen kita badhe methuk datengipun warsa enggal tahun 1433 H.
Para sederek,  kados limrahipun tiyang bebakulan, kadas mbok bakul ingkang mbikak wande, wekdal-wekdal akhir utawi saksampunipun nutup warungipun biasanipun lajeng dipun ginakaken kagem ngetung-ngetung. Setunggal dinten punika kalawau sadeanipun untung punapa rugi. Manawi rugi punapa sebabipun, lan manawi bathi kados pundi caranipun saget ningkataken bebathenipun ing wekdal dinten candakipun. Semanten ugi, ing pagesangan kita punika, mestinipun kita ugi saget ngetang-ngetang amal ibadah kita salami setunggal tahun, tahun 1433 H punika.
Iman saha taqwa kita saya ningkat punapa mbaten, kesadaran saha semangat ngibadah kita saya ningkat punapa mbaten, kathah benere punapa salahe, untung punapa rugi. Pramila saking punika etung-etung amal utawi dzikir mukhasabah saestu sanget ageng manfaatipun, menggah kita ingkang kagungan niat wantenipun peningkatan ing sedayanipun, sae ing babagan kadonyan langkung-langkung wanten urusan keakhiratan.                                            
Bilih saget kita sanepakaken amal kita ingkang kepengker punika kadas dene buku, kanthi buku lami punika, ing pangajab kita pikantuk piwucal saha pengalaman ingkang saget kita dadosaken guru saha tuladha ingkang sae, sahingga ing catetan buku enggal mangke kacathet sejarah pagesangan kita ingkang sae.
Atur katerangan punika jumbuh kaliyan pangandikanipun Allh SWT, wanten Surat Al-Hasyr ayat 18.
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ (١٨)
 “He wong-wong kang padha iman, taqwa-a sira kabeh marang Allah, lan saben-saben wong supaya padha nggatekake marang sakabehing amal tumindak ana ing dina-dina kepungkur kanggo kemaslahatane dina-dina kang bakal tumeko, lan padha taqwa-a sira kabeh marang Allah, satemene Allah iku Maha Pirsa apa bae kang kok tindakake”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Sebab, sejatosipun bilih gesang kita ing ngalam ndonya punika ibarat sakkeclapan. Kita mestinipun lajeng kedah tumunten ceket-ceket  menggalihaken amal saha tumundak kita ingkang saget ndadosaken kita ngasilaken kesaenan kanthi bathi sakathah-kathahipun, Mestinipun kita ugi saget niru mbok bakul. Kepingin bathi ingkang kathah, mbaten purun manawi ngantos rugi. Jawanipun, para sederek, kadas kaserat wanten ing Surat Al-Mukminun ayat 1-11, Allah sampun paring jaminan gesang sukses lan menang dateng tiyang ingkang purun ngestokaken nenem perkawis : 1, Estu-estu iman dateng Allah SWT, 2. Khusuk lan njagi shalatipun, 3. Nebihi amal tumundak muspra, ingkang mbaten wanten ginanipun, 4. Mbayaraken zakatipun, 5. Njagi kribadinipun, lan 6. Njagi amanat lan netepi janji.
            Yektosipun kita sedaya sampun sami mangertos bilih sedaya amal ibadah punika sae, sae menggahipun kita saha menggahipun Allah. Namung terkadang karana kirangipun kedasaran andadosaken kita lajeng lirwa, rumaos kirang penting, ora pati manfaat, punapa malih bilih kaukur kanthi nilai materi, wekdal ingkang kagem ngibadah rumaos kabuang percuma. Nanging badhea kados punapa kemawon, manawi kita sedaya sami jujur, estunipun kita punika kagungan iman, kagungan pepinginan khusuk ngibadah, shalat kita pingin mboten gothang. Cekak atur, kita pingin nindakaken sadaya amal kesaenan lan kepingin ninggalaken sadaya awisanipun Allah. Kuncinipun kantun kita piyambak-piyambak, pingin nindakaken, punapa mbaten, sakmenika punapa mbenjang-mbenjang.
            Kanthi makaten para sederek, mestinipun kita sampun saget mbiji dumateng kita piyambak, ugi dhumateng sedaya amal, sae ingakng gegayutan kaliyan urusan kadonyan langkung-langkung urusan keakhiratan, sampun kasil punapa dereng, sampun mbekta manfaat punapa dereng. Hasil saking etung-etung punika badhe kita dadosaken modal utami kagem mlangkah ing wekdal-wekdal ingkang badhe dateng. Sebab, meskipun sekedik, kita yakin kita sampun nindakaken kesaenan, lan punika mesti wanten faedahipun kagem gesang lan pagesangan kita, lha saeba maremipun bilih anggen kita nindakaken kesaenan punika kaetang sampun kathah, lan sampun sampurna. Namun, sedaya punika patut kita syukuri, karana ngantos ing titi wanci punika kita taksih dipun paringi wekdak kagem ngawontenaken niti-niti dumateng diri kita piyambak. Lan menggahipun Allah taqwa minangka biji ingkang paling inggil.
Al-Qur’an Surat Al-Hujarat ayat 13 nyebadaken:
إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ
“Satemene wong kang paling mulya ing ngarsane Allah, ing antarane sira kabeh, yaiku wong kang paling taqwa marang Panjenengane”.
            Mugi-mugi ayat shawuhipun Allah punika saged saya nambahi gumregah lan gumregut ing semangat kita anggenipun badhe terus ningkataken ketaqwaan kita dhumateng Allah sarana nindakaken sedaya dhawuhipun lan nebihi sedaya awisanipun Allah SWT.
            Akhiripun, mumpung sekedhap malih kita taksih dipun engetaken kanthi wantenipun prastawa pergantian warsa enggal, wiwit sapunika kita sami cancut tali wanda, ngribah kekirangan kita ing wekdal kawuri, kagem kesaenan ing wekdal saklajengipun. Sumangga dzikir etung-etung ing akhir tahun punika, saestu kita dadosaken bahan niti utawi instrospeksi diri, kagem ndandosi kekirangan, nambah ingkang kirang, ningkataken ingkang sampun sae. Kanthi makaten mugia kita kagolong tiyang ingkang untung, wilujeng ing ndonya ngantos ing akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.
           

Selasa, 06 November 2012

AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH LANDASAN MENCAPAI TUJUAN DAKWAH ISLAM


AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH LANDASAN MENCAPAI TUJUAN DAKWAH ISLAM
Oleh : Anis Purwanto

            Dakwah Islam di Indonesia meskipun sudah berlangsung berabad-abad, namun masih terus dihadapkan pada berbagai tantangan dan permasalahan. Hal ini, akan terus ada sepanjang sejarah kemanusiaan masih berlangsung. Baik yang bersifat eksternal dakwah, misalnya berupa upaya pendangkalan aqidah (deislamisasi) dan pemurtadan (proselitisasi) serta bentuk hambatan lain yang bersifat internal.
            Salah satu gejala disekitar tantangan dan hambatan internal dakwah adalah menyempitnya didalam memberi pengertian dakwah Islam. Pandangan sementara orang, dakwah merupakan aktivitas penyampaian informasi tentang ajaran Islam dari seorang penceramah kepada para pendengarnya. Menyempitnya pemahaman dakwah demikian itu, sedikit banyak diakibatkan sempitnya pemahaman kita tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan pencapaian dakwah.
            Tetapi, lepas dari pasal sempit-menyempit ini, pada hemat kita, sebagai landasan dakwah, Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak akan dipersoalkan lagi. Akan tetapi lebih banyak melihat dari segi persoalan yang dialami oleh umat Islam sebagai pemegang tugas dakwah, yang membawa missi Al-Qur’an dan As-Sunnah.
            Telah diakui oleh umat Islam seluruh dunia, Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan pedoman dasar yang harus diikuti oleh setiap muslim. Bagaimanapun pemahaman mereka dan bagaimanapun ia tidak menjalankan syari’at Islam, ia pasti mengetahui kaidah dasar ini.
            Al-Qur’an sampai saat ini masih tetap dibaca, dipelajari dan dipahami oleh umat Islam. bahkan ada gejala yang masih menggembirakan pada akhir-akhir ini, tumbuh berkembangnya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dikalangan anak-anak kita. Sebagai bukti bahwa Al-Qur’an masih dicintai oleh segenap kalangan umat. Malah hampir menjadi tradisi umat Islam menyertakan muskhab Al-Qur’an sebagai mahar dalam perkawinan. Hal ini, pertanda adanya keinginan untuk memulai hidup berumah tangga sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. MTQ juga telah menjadi tradisi pereodik, setidak-tidaknya untuk umat Islam di Indonesia. Bahkan tidak sedikit masyarakat kita tertarik dengan kutipan ayat atau hiasan dinding dari ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah, terutama yang mempunyai nilai seni yang tinggi (kaligrafi).
            Kenyataan diatas memang tidak ada salahnya. Namun gejala itu belum dapat mewakili konsep kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagai usaha pemurnian ajaran agama Islam. Sebab pada umunya, kita hanya menganggap Al-Qur’an itu sebagai kitab suci, tanpa menyadari mengapa kitab itu dikatakan suci. Dan kita mengetahui As-Sunnah itu berasal dari Nabi Muhammad SAW, tanpa menyadari bahwa As-Sunnah itu merupakan ajaran yang harus diikuti. Didalam pelaksanaan ibadahpun, tidak banyak dari kalangan umat Islam yang melakukan karena pemahaman dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
            Berbicara mengenai pemahaman umat Islam terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah, terutama dalam usaha pemurnian ajaran Islam, sampai saat ini ,asih terus diupayakan, meskipun pada awalnya banyak mendapat tantangan dari umat Islam sendiri. Kita masih ingat bagaimana amal usaha Muhammadiyah (Yogyakarta 1912), membuka sekolah umum dijaman penjajah Belanda, dengan konsep kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah (met de Al-Qur’an and As-Sunnah). Sayyid Quthub dalam bukunya Keadilan Sosial dan Abd. Al-Qadir Audah (Ahli Hukum Islam di Mesir) mencoba menyingkap prinsip Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga mendapat tantangan ummat Islam. Juga tidak banyak yang mau mendukung Mauraci Bucailla, karena idenya mengenai Al-Qur’an dan Sains Modern, dalam bukunya La Bible, Le Coran et la Sciance.
            Bahkan dalam praktek, terdapat pihak yang berusaha menerangkan Islam dengan kaca mata lain, yang memberikan prioritas kepada segi yang sementara orang dianggap sekuler (Barat). Sehingga muncul berbagai konsep yang berusaha memisahkan Islam sebagai suatu Dien dengan Negara (separation/fashl) dan disisi lain berupaya untuk mereaktualisasikan ajaran Islam dalam kehidupan modern (meminjam istilah H. Munawir Sadzali MA, mantan Menteri Agama RI).
            Siapapun kita, akan berpendapat bahwa umat Islam dimana saja berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sama, namun dalam prakteknya kita akan menemui corak umat yang beraneka ragam. Ini merupakan pertanda bahwa umat Islam mempunyai pemahaman yang tidak sama. Sedang didalam pelaksanaan dakwah islam pemahaman terhadap kedua landasan ini sangat menentukan tercapainya tujuan dakwah.
            Namun kecenderungan umum, kita masih erat berpegang kepada prinsip dasar Islam ini (salaf), yang mengacu dari pemahaman yang benar dari generasi umat pertama (As-Salafiyah). Mereka dapat menjiwai ajaran Islam, karena mereka benar-benar memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Untuk menjiwai ajaran ini, masyarakat Islam kini tidak mempunyai pilihan lain selain memahami dari sumber asli sebagaimana adanya dan menerapkan dalam praktek. Pemahaman tanpa usaha penerapan tidaklah cukup, dan begitu pula sebaliknya.
Orientasi Dakwah Al-Qur’anik-Metodologik.
            Dakwah merupakan manivestasi dari pemahaman yang mendalam dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Melalui dakwah, diharapkan ajaran Islam, dikenal oleh umat, dihayati dan diamalkan (QS. Ali Imran:104). Sebagai rahmat seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), Islam dapat menjamin terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan umat.
            Dalam kategori social, umat Islam merupakan warga masyarakat yang memeluk Islam. Istilah “ummat” berasal dari Al-Qur’an, yakni “Ummatan wahidatan” (QS>2:213) dan “khaira ummatin” (QS.3:110). Yang pertama menunjukkan adanya pemeluk dien yang tidak terputus sejak Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad SAW dan istilah yang kedua menunjukkan adanya umat berkualitas terbaik, yang fungsinya mengajak orang lain agar hidup secara Islam (Makruf) dan mencegah dari ucapan dan tindakanyang dapat merugikan diri dan orang lain, sebagai akibat ingkar kepada Allah SWT (mungkar).
            Kedua hal tersebut mempunyai hubungan fungsional. Sebab tanpa ihtiyar realisasi dakwah islam (amar makruf nahi mungkar) yang dilakukan oleh umat yang berkualitas terbaik (khaira ummatin), ummatan wahidah tidak mungkin dapat terwujud. Dan tanpa ummatan wahidah maka tidak mungkin khaira ummatin dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
            Berangkat dari sifat dan fungsi dakwah tadi, sebagaimana pengemban missi Islam, da’I harus mampu mengejawantahkan ajaran Islam secara kaffah. Karenanya perlu dikembangkan pola orientasi dakwah yang Al-Qur’anik metodologik. Dakwah dikembangkan dari hasil pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan pendekatan keilmuan yang inter dan multi disipliner (metodologis), yang esensinya berangkat dari pemahaman tersebut.
            Perangkat yang paling mendasar, dalam hal ini adalah meneliti kembali epistemology dan teologi dakwah yang selama ini kita pakai. Karena memperbaiki epistemology dakwah (keilmuan dakwah) merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Sebab diperlukan pengkajian yang sangat mendalam. Di lain fihak kita harus memahami epistemologi Islam terlebih dahulu. Karena epistemology dakwah merupakan pengemban utama pelaksanaan dakwah.
            Sedang pada aspek lain, diperlukan perbaikan teologi dakwah Islam, sebab teologi dakwah yang berkembang dikalangan para pelaksana dakwah, dipandang tidak sesuai untuk mendinamisasikan dakwah Islam. Hanya saja, sebelumnya kita harus pula memperbaiki pemahaman kita terhadap teologi Islam.  Karena teologi dakwah merupakan bagian dari teologi Islam.
            Inilah sebabnya, kita perlu menata kerangka dakwah yang lebih dinamis, yang tetap bertumpu kepada nilai Islam (AL-Qur’an dan As-Sunnah). Sehingga dakwah memiliki sikap optimistis dalam perspektif masa depan.
Tujuan Dakwah.
            Tujuan dakwah tidak berbeda dengan tujuan Risalah Islam, yang diemban oleh para Rasul Allah. Risalah Allah menjadi sempurna dan berakhir dalam bentuk seperti yang diwahyukan didalam Al-Qur’an dan dipraktekkan seperti yang terhimpun dalam As-Sunnah, “Dialah yang mengirim Rasul_Nya dengan petunjuk dan agama (cara hidup yang benar) supaya Dia menampakkannya lebih unggul dari semua agama (cara hidup) yang ada, walaupun orang-orang musrik tidak menyenanginya” (QS At-Taubah:33), Ash-Shaf:9, dan Al-Fath:26).
            Dengan berpulangnya Rasul ke rahmatullah, umat Islam secara otomatis mendapat tugas meneruskan Risalah tersebut. Ini adalah tugas setiap muslim, yang terkandung makna tanggung jawab yang saangat dalam.
            Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, pelaksanaan dakwahnya harus berpegang pada prinsip bil hikmah (QS. An Nahl:125), dengan menghindarkan dari sifat memaksakan kehendak (QS.2:256). Sebab kebebasan beragama merupakan masalah yang fitri, disamping memang manusia sejak lahir telah mampu memilih untuk beriman kepada Allah atau mengingkari-Nya (QS.18:29). Karenanya, manusia memiliki konsekuensi logis untuk menanggung segala perbuatannya. Bila beriman akan mendapat pahala dan bila kufur mendapat siksa.
            Berangkat dari konsep tersebut, tujuan paripurna dakwah adalah terwujudnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Meskipun dari beberapa sarjana muslim berusaha merumuskan dari sumber Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang manfaat dakwah untuk kehidupan di dunia, misalnya Dr. Muhammad Yusuf Musa, seorang ahli hukum Islam dari Mesir, mengelompokkan menjadi : pendidikan individu, masyarakat dan perdamaian dunia.
            Disisi lain dalam Al-Qur’an terdapat sebuah prinsip umum yang jelas untuk merubah sikap, “Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu bangsa, sebelum mereka merubah nasibnya sendiri” (QS. Ar Ra’d:11). Dan dalam hadts shahih juga disebutkan bahwa amal seseorang tergantung kepada niatnya, Allah akan membukakan jalan untuk orang yang berhijrah kejalan-Nya atau kepada selain-Nya. Pilihan berada di tangan kita, hidup secara Islam atau selain Islam. Wallahu a’lam.