Rabu, 17 Oktober 2012

AKTUALISASI SEMANGAT BERKORBAN DALAM MEREDUKSI KRISIS DIMENSIONAL


AKTUALISASI SEMANGAT BERKORBAN DALAM MEREDUKSI KRISIS DIMENSIONAL
Oleh : Anis Purwanto
               
                Secara jujur kita harus berani mengatakan, bahwa sebagian dari kehidupan kita masih terlalu banyak diarahkan oleh hawa nafsu. Makanya tidak terlalu berlebihan bila kemudian kita selalu diharuskan untuk mengenang kembali peristiwa dramatik yang terurai pada sejarah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Dengan harapan dapat menimba iktibar yang terkandung dalam peristiwa itu, yakni suatu peristiwa yang melukiskan, betapa iman yang dipilih secara sadar dan sengaja dapat mengalahkan segala-galanya. Dalam kasus sejarah kenabian, peristiwa yang dalami Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as merupakan peristiwa dilematis, tetapi keduanya sepakat menempuhnya karena pancaran iman.
            Kita dapat mengatakan bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa yang luar biasa, karena drama yang dimainkan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, adalah  darama pertentangan antara dua nilai yang bertolak belakang secara diametral, yang dapat menghantarkan Ismail ke pintu maut.
            Dari sejarah kita mengetahui bahwa Ismail di mata Ibrahim , bukanlah semata-mata anak bagi seorang ayah, namun Ismail adalah buah hati bersulam kasih saying, yang telah didambakan Ibrahim as sangat lama, dan merupakan hadiah yang diterimanya, sebagai imbalan karena ia telah memenuhi hidupnya dengan perjuangan. Tetapi tanpa diduga, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as agar menyembelih buah hati yang sedang tumbuh menyenangkan itu, “Ibrahim berkata, Hai anakku, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?. Dia (Ismail) menjawab; Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar”.(QS As Shaffat:102).
            Petapa guncangnya jiwa nabi Ibrahim as menerima wahyu Allah tersebut, tidak lah dapat dibayangkan. Ibrahim as sebagai hamba Allah SWT yang paling muhklis dan patuhpun bias gemetar dan goyah. Batinnya bergolak. Hati kecilnya diliputi tanda Tanya. Siapakah yang lebih dicintai, Allah SWT ataukah Ismail anaknya. Inilah pilihan yang sangat dilematis itu.
            Namun getaran jiwa yang dikendalikan oleh iman, akhirnya memenangkan Ibrahim as dalam pergolakan batin itu. Langkahnya berpihak kepada Allah SWT, dan pasrah mengorbankan Ismail anak yang sangat dicintainya. Maka dilembah Mina yang sepi, sang ayah berbicara kepada putranya. Langit yang menjadi atap Jazirah Arab ikut merekam peristiwa yang sangat luar biasa itu, seakan tak sanggup menyaksikan peristiwa langka itu. Sejarah manapun belum pernah mencatat adanya peristiwa antara ayah dan anak seperti ini.
            Dari pengorbanan Nabi Ibrahim as, telah memberikan gambaran tentang adanya revolosi keyakinan yang amat besar untuk memantapkan keyakinan dan patuh hanya kepada Allah SWT, dan tidak sepantasnya manusia merendahkan diri dihadapan benda-benda atau materi yang bersifat duniawiyah, betapapun sepintas lalu tampak hebat dan mengagumkan. Maka ketundukan dan pasrah diri hanya ditujukan kepada Allah Sang Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya. Disinilah letak konsep tauhid, dimana tauhid manusia akan terangkat derajatnya dan mampu menghadapi berbagai problema, dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi.
            Kateladanan Nabi Ibrahim as hendaknya dijadikan contoh bagi kaum keluarga masa kini. Kecintaan kepada keluarga secara berlebihan dapat berakibat memudarnya keutuhan tauhid kita. Disamping dapat berakibat lahirnya sifat egoistis, ujub dan takabur hingga tidak dapat menghormati kepada orang lain. Demikian kecintaan harta secara berlebihan akan menimbulkan sikap materialistis, sebuah sikap yang dibenci oleh Islam. Begitupun mencintai agama, manakala dilakukan dengan fanatic buta akan melahirkan sifat anti pati terhadap orang yang tidak sepaham dengan dirinya, sehingga ketenteraman yang merupakan inti dari ajaran agama, tidak pernah sampai pada tujuannya. Sifat tersebut apabila kita telusuri lebih dalam, semuanya akan berpangkal kepada hawa nafsu yang tidak terkendali, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diber rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun labi Maha Penyayang”. (QS.Yusuf:53).
            Jika dibandingkan, ajaran Islam sebagaimana yang telah diperagakan dengan bagus oleh Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, dengan praktek-praktek kehidupan sekarang ini, maka secara jujur harus diakui bahwa masih terlalu lebar jarak antara cita-cita Islam, dengan kenyataan riil perilaku umatnya. Banyak diantara kita yang bukan saja enggan mengurbankan sesuatu yang dicintai, untuk sekedar turut dirasakan oleh saudara seiman, Namun lebih dari itu banyak diantara kita, yang telah membuat saudara-saudara seiman menjerit, merintih dan menangis, lantaran mereka menjadi korban perbuatan kita sendiri. Penipuan, kebohongan, pelanggaran, penindasan dan kesewenang-wenangan, sering terjadi diantara kita, hanya demi memperoleh dan memenuhi kepuasan pribadi, kelompok atau golongan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, bilamana ada yang sudi mengorbankan agama dan keyakinan demi kesenangan dan kenikmatan sementara. Oleh karena itu, peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as yang puncaknya dirayakan sebagai Idul Adha, harus mampu mengingatkan bahwa kita tidak boleh mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan kita, tetapi yang harus dikorbankan adalah sifat-sifat yang dikendalikan oleh hawa nafsu
            Sekecil apapun amal dan pengorbanan kita, asalkan kita perjuangkan dengan sungguh-sunnguh serta ihklas karena mengharap ridha Allah, pasti kebahagiaan dan kesejahteraan serta limpahan rahmat dan karunia Allah akan selalu kita petik hasilnya dengan berlipat ganda. Semakin dominan jiwa ihklas dalam diri kita, semakin bersinarlah cahaya kebenaran didalam hati kita. Bukan saja ihklas terhadap hubungan antara manusia dengan Allag SWT tetapi juga hubugan antara sesama manusia.
            Kita berharap, semoga setiap Idul Adha yang oleh umat Islam dirayakan setiap tahun itu, semangat berkurbannya dapat mengilhami, menggugah dan mengaktualisasikan cara berfikir dan bertindak kita dan seluruh umat Islam, dalam mengatasi berbagai krisis dimensional, khususnya para pemimpin bangsa,  Ulama, Kiai, dai dan penyuluh agama serta semua elemen bangsa sekarang dan kedepan, agar dengan idzin Allah SWT kita dapat segera mengangkat negara menuju Negara yang baldatun toyyibatun wa rabbum ghafur, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. Wallahu a’lam.

KHUTBAH IDUL ADHA : MENELADANI NABI IBRAHIM AS MEMBANGUN PERADAPAN MASA DEPAN


KHUTBAH IDUL ADHA  1433 H/2012M
MENELADANI NABI IBRAHIM AS MEMBANGUN PERADABAN MASA DEPAN
Oleh : Anis Purwanto


Allahu Akbar 3 X, Allahu Akbar Walillahil Hamd !
Hadirin Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah.           

Sungguh sangat patut kita berbahagia pada hari ini, sebab kita masih memiliki kesempatan untuk bernafas sebagai seorang mslim, kita pun merasa segar dan bahagia sebagai seorang mukmin yang semenjak tadi malam hingga kini kita mengumandangkan kalimah “Takbiier dan tahmied” dengan maksud mengagungkan Ilahirabbi.

            Mengumandangkan takbir, bukan sekedar ikut latah terbawa arus, akan tetapi merupakan ledakan keyakinan dan pendirian yang terkadang seperti meredup jauh ke dalam, tertindih oleh belbagai macam beben mental yang cukup menyiksa. Berteriak dengan suara lantang bersama-sama menyebut dan mengagungkan asma Allah, sungguh sangat melegakan.

            Saudara, Kadar ketaqwaan seseorang sesungguhnya dapat diukur dari seberapa besar rasa syukurnya terhadap nikmat Allah yang demikian banyak. Semakin banyak ia bersyukur, meski bagaimana keadaannya dan dimana tempat tinggalnya, maka semakin tinggi pula kadar ketaqwaannya. Syukur yang sering kita wujudkan dengan ucapan hamdallah ternyata bukanlah sekedar amalan lisan semata, ia adalah sebuah ungkapan dari serangkaian pekerjaan hati yang didalamnya sarat dengan muatan esensi atau hakekat pengabdian total kita sebagai hamba Allah SWT, Rabb semesta alam. Itulah sebabnya mengapa Allah menjadikan kata kufur sebagai lawan kata syukur, yang hal ini berarti pula bahwa tatkala kita enggan bersyukur maka sesungguhnya kita sedang terjebak dalam tabiat pembangkang. Sebuah tabiat yang diancam dengan pedihnya Adzab Allah SWT.

لَٮِٕن شَڪَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ‌ۖ وَلَٮِٕن ڪَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ۬

 “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

            Salah satu gambaran kongkrit tentang bagaimana kedua tabiat diatas selalu bergelut dalam perjalanan kehidupan manusia digambarkan oleh Allah dalam satu hikmah perjalanan hidup Nabiyullah Ibrahim as, sementara disisi lain sosok pembangkang sejati diperankan oleh Raja Namruz dan pengikutnya. Kisah keduanya digambarkan dengan sangat apik dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an, sebagai contoh misalnya dal Surat Al-Baqarah ayat 258 dikisahkan tentang bagaimana mereka berdebat tentang hakekat kebenaran Tuhan :

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبۡرَٲهِـۧمَ فِى رَبِّهِۦۤ أَنۡ ءَاتَٮٰهُ ٱللَّهُ ٱلۡمُلۡكَ إِذۡ قَالَ إِبۡرَٲهِـۧمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحۡىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۟ أُحۡىِۦ وَأُمِيتُ‌ۖ قَالَ إِبۡرَٲهِـۧمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأۡتِى بِٱلشَّمۡسِ مِنَ ٱلۡمَشۡرِقِ فَأۡتِ بِہَا مِنَ ٱلۡمَغۡرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ‌َ

”Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan. Ketika Ibrahim mengatakan : “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan”, orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata :”Sesungguhnya Allah menerbitkan matahani dari timur, maka terbitllah dia dari barat”, lalu terdiamlah orang kafir itu”

Allahu Akbar 3 X, Allahu Akbar Walillahil Hamd !
Hadirin Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah.

            Dilain ayat ada banyak kisah tentang bagaimana Ibrahim menjadi penentang utama bagi para penyembah berhala, bahkan tak terkecuali ayahnya sendiri, Azar, juga beliau tentang, hingga akhirnya berakibat pengusiran Ibrahim dari rumahnya.

            Kekuatan keyakinan dan ke-istiqomah-an Ibrahim merupakan senjata utama penentu keberhasilan beliau meletakkan landasan-landasan ketauhidan bagi kaumnya. Landasan tauhid ini penting dalam tata kehidupan kita, sebab ia akan menjadi titik tolak sekaligus ruh yang seterusnya akan mempengaruhi pola perilaku kita sehari-hari. Seorang yang memiliki keyakinan tauhid kuat, maka ia akan terus merasa diawasi oleh mata-mata Allah dimanapun dan kapanpun ia berada. Ia akan lebih berhati-hati dalam melakukan tindakan, sebab sedikit saja ia tergelincir dari jalan lurus maka telah tersedia di hadapan ancaman azab Allah.

            Inilah sesungguhnya salah satu problem dasar masyarakat kita. Tipisnya keyakinan tauhid menyebabkan kita semakin berani berkawan akrab dengan syaitan, berkawan akrab dengan dosa-dosa. Kita lebih takut pada ancaman pengawasan manusia bahkan penjara Negara dari pada pengawasan dan penjara Allah yang Maha Melihat, sehingga ketika kita merasa aman dari pengawasan manusia, secepat kilat kita langgar apa yang bukan hak kita, kita makan apa yang bukan hak kita. Naudzubillahi min dzalik.


Allahu Akbar 3 X, Allahu Akbar Walillahil Hamd !
Hadirin Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah.

            Kesalehan seseorang Ibrahim juga terlihat dari keikhlasan beliau untuk mengorbankan apa yang sangat beliau cintai. Kisah penyembelihan putra beliau Ismail dalam Al-Qur’an Surat Ash Shaffat ayat 102 dapat menjadi buktinya :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ 

“Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata :”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

.           Bahkan saudara, kisah uji iman yang dilakonkan oleh Ibrahim as, menjadi simbul pengorbanan yang luar biasa kadar keihklasannya. Bahkan kisah dari peristiwanya masih sangat relevan serta memiliki arti yang amat penting dalam hidup dan kehidupan kaum mukminin sepanjang masa. Yakni kisah dua insane hamba Allah yang telah diuji keimanannya, dimana Nabi Ibrahim as yang telah berpuluh tahun mendambakan hadirnya anak, lalu berhasil memiliki anak yaitu Nabi Ismail. Akan tetapi menginjak usia remaja yang begitu disayangnya, tiba-tiba Nabi Ibrahim as menerima wahyu dalam bentuk mimpi berisi perintah untuk menyembelih Ismail as. Anak satu-satunya yang amat disayanginya.

            Demikian kokohnya keimanan kedua hati hamba Allah SWT, yang telah teruji itu bukannya goncang, akan tetapi justru melahirkan suatu keteguhan. Sedemikian nikmatnya hidup yang penuh rasa taqwa, sehingga cobaan yang seberat apapun menjadi ringan dan bahkan membahagiakan.

            Perjalanan emas Nabi Ibrahim as dan putera beliau Ismail as ini kemudian menjadi inspirasi dari kewajiban kita untuk melaksanakan ibadah Qurban. Selain merupakan ujian atas keikhlasan kita untuk mengorbankan sesuatu yang kita cintai, ibadah qurban juga mendidik kita untuk lebih banyak peduli terhadap sesama. Betapa harus kita akui bahwa berbagai pertimbangan sosial yang terjadi pada masyarakat kita banyak dipengaruhi oleh kurang meratanya pendistribusian hasil-hasil pembangunan di Negara kita. Si kaya terus menerus menumpuk perpendaharaan harta, sementara si miskin dibiarkan terus hidup berkubang dalam kesengsaraan. Keadaan semacam ini jika terus dibiarkan akan menjadi bom waktu yang siap meledak setiap saat, dan jika ini terjadi maka akan menjadi ancaman terhadap stabilitas dan pada gilirannya disintegrasi bangsa akan sulit dielakkan.

            Sekali lagi, kesalehan merupakan kata kunci bagi dibukanya jalan menuju berkah Allah, dan jika jalan ini yang hendak kita pilih maka Ibrahim dan keturunannya merupakan suri tauladan yang ideal bagi kita. Allah berfirman :

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ فِىٓ إِبۡرَٲهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُ 

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia” (QS. Al Mumtahanah : 4).

Allahu Akbar 3 X, Allahu Akbar Walillahil Hamd !
Hadirin Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah.

            Bersamaan dengan Hari Raya Idul Adha yang kita nikmati hari ini, saudara-saudara kita yang memiliki kemampuan dan kesanggupan tengah khusuk melaksanakan ibadah haji di Mekkah Al Mukarramah. Mereka bersama-sama bertalbiyah mengagungkan asma Allah, mengakui bahwa Dialah pemilik segala keagungan, dan bahwa manusia dihadapan Allah tak lebih dari debu yang akan terbang kemana angin qudrah-iradah Allah swt membawa. Ibadah haji disamping merupakan salah satu bentuk ibadah mahdhah juga merupakan sebuah wisata sejarah tentang bagaimana Nabi Ibrahim as meletakkan dasar-dasar keyakinan tauhid yang disimbolkan dengan peninggian dan pembangunan pilar-pilar Ka’bah. Tujuannya tidak lain adalah untuk menyegarkan kembali ingatan umat Islam tentang bagaimana perjuangan Ibrahim membangun peradaban             umat melalui prinsip-prinsip dasar ke-ilahi-an. Dan hasilnya luar biasa, semua mengakui keunggulan peradaban ini, sehingga berpijak pada argument ini, founding father bangsa kita-pun menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa, sila pertama dari dasar Negara kita Pancasila, sebagai landasan bagi dinamika peradaban bangsa Indonesia. Namun diakui atau tidak, kita yang kebetulan menerima amanah untuk meneruskan cita-cita besar bangsa ini seringkali lupa. Kita suka bermain dalam sekat-sekat subhat yang sarat dengan iming-iming kenikmatan sesaat produk tipu daya iblis, dan tanpa kita sadari perlahan-lahan kitapun terperosok dalam perangkap mereka. Cahaya ilahi-pun kemudian redup bersamaan dengan munculnya aneka logika pembesar bagi jalan salah yang kita pilih, lalu jadilah kita teman sejati setan, kita sering halalkan yang haram dan kita haramkan yang halal.

            Apa yang kita alami sekarang ini pada dasarnya adalah konsekwensi dari apa yang kita lakukan kemarin, Senang susah, sukses dan tidaknya hidup kita hari ini tergantung kita sendiri. Sebab kita telah diberi hak dan kesempatan yang sama oleh Allah swt untuk mewujudkan hidup kita sesuai keinginan kita. Dan kita sadar bahwa kebanyakan dari kita, tidak berani bila mendapat tantangan dengan tanggung jawab yang berat. Karena senyatanya, orang-orang yang mempunyai jiwa sukses itu senang adanya tantangan-tantangan, dan sadar bahwa tantangan-tantangan itu mengandung tanggung jawab, sebab disitulah sebetulnya ia melihat adanya kesempatan yang besar. Sifat dan sikap tanggung jawab yang kita maksudkan disini paling tidak mempunyai 3 (tiga) macam aspek :

Pertama, adalah berani menanggung resiko. Artinya, semua yang kita lakukan pasti ada resikonya. Seorang petani mempunyai resiko, panen atau gagal panen.  Seorang pedagang mempunyai resiko, dagangannya hari itu mendapat laba atau malah rugi besar. Pejabat resikonya bisa naik pangkat atau malah di pecat. Bahkan ibadahpun ada resikonya, yaitu di terima oleh Allah atau ditolak. Hal itu tergantung dari pelaksanaannya, sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya apa tidak, berlandaskan ihklas karena mengharap ridha Allah atau hanya ingin mendapat pujian semata. Pendeknya, semua yang kita lakukan akan kembali kepada kita sendiri. Apa yang terjadi hari ini adalah hasil dari tindakan kita di hari kemarin.

مَّنۡ عَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَلِنَفۡسِهِۦ‌ۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَا‌ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّـٰمٍ۬ لِّلۡعَبِيدِ   
“Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri, dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-ham(Nya)”. (QS Fushshilat : 46).

            Kedua, adalah berani menghadapi kesulitan. Disini Allah telah memberikan rumus kepada kita :

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا (٥) إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرً۬ا (٦)

 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS Alam Nasyrah : 5-6).

            Saudara, bagaimana jikalau rumus Allah tersebut kita balik, “barang siapa yang senang mengahadapi masalah yang ringan dan mudah, maka ia akan selalu mendapat kesulitan dan kesusahan”. Kerja kita berangan-angan, berkhayal yang indah-indah, hidup kita dalam pusaran jikalau, jikalau saya jadi orang yang kaya, jikalau saya hidup berkecukupan, tanpa  harus bekerja keras, tanpa mengalami kesulitan. Karena senyatanya, orang yang berani mengalami kesulitanpun  terkadang masih juga mengalami kegagalan dalam segala urusannya, akan tetapi dari berbagai  kegagalan yang kita alami, terselip pengalaman yang sangat berharga, demi meraih kesuksesan dikemudian hari. “Sing sopo wonge doyan rekasa, dheweke bakal beja. Sapa gawe, nganggo. Sing nandur bakal ngundhuh, lan jer basuki mawa beya”.  Kesemuanya itu merupakan konsekwensi dan tanggungjawab bagi seseorang yang ingin berhasil di kemudian hari.
Ketiga, adalah mengerjakan semua amal dengan sebaik-baiknya. Mengerjakan amal shaleh dengan sebaik-baiknya, sudah termasuk tanggung jawab yang berat. Berhasil apa tidak semua usaha kita tergantung bagaimana kesungguhan kita didalam mengupayakan. Yang pasti Allah senang terhadap sesuatu yang paling baik. “ Sesungguhnya Allah senang kepada perkara-perkara yang paling unggul dan paling tinggi mutunya. Dan Allah benci kepada perkara-perkara yang buruk, hina dan tidak sempurna”. (Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir, Imam Tabrani, 2826).

Allahu Akbar 3 X, Allahu Akbar Walillahil Hamd !
Hadirin Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah.

Inilah sebagian kecil dari butir-butir hikmah Idul Kurban yang dapat kita implementasikan, dipedomani untuk kita praktekkan di tengah-tengah sisa kehidupan kita. Tentu semuanya berpulang kepada kita masing-masing, sejauh mana kepedulian kita memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Idul Adha kali ini. Sekali lagi semoga saudara-saudara kita yang kebetulan saat ini sedang melaksanakan ibadah haji benar-benar mendapat haji yang mabrur, sehingga barokah kemabrurannya dapat menjadi kunci terbukanya pintu rahman-rahim Allah swt. Kelak saat mereka kembali ke tanah air, mereka akan menjelma menjadi manusia-manusia mumpuni yang tidak saja mampu mengidentifikasi problem-problem zaman tetapi juga mampu menjadi solusi-solusi atas problematika zaman.

Karenanya, lahirnya manusia-manusia semacam ini menjadi sebuah keniscayaan bagi bangsa kita saat ini, sebab kenyataannya dari sekian banyak keberhasilan pembangunan masih menyisakan berbagai problem sosial seperti ketimpangan dan disharmonisasi hubungan antar elemen bangsa, tak pelak masih terus tumbuhsuburnya perilaku koruktif, kolotif dan nepotif dan bentuk-bentuk pembangkangan terhadap ruh dan cita-cita reformasi.

Akhirul kalam, mari kita berharap dan memohon kehadirat Allah swt, emoga kita semua, selalu mendapat hidayah, ma’unah dari Allah swt. Sehingga tergolong hamba-hamba-Nya yang tetap sabar dalam menghadapi problematika hidup yang semakin lama semakin berat, kapan dan dimanapun kita berada saat ini. Tetap istiqomah menjalankan nilai-nilai iman dan taqwa secara konsekwen lestari.

Sebagai penutup khutbah, marilah kita menundukkan kepala dan mengheningkan hati kita, berdo’a mohon kepada Allah swt , semoga semua upaya dan harapan kita mendapat ridha Allah SWT. Amin ya rabbal ‘alamin.


Selasa, 02 Oktober 2012

IMPLEMENTASI KUTBAH HAJI WADA' NABI SAW DALAM KEGIATAN DA'WAH ISLAMIYAH


IMPLEMENTASI KUTBAH  HAJI WADA’ NABI SAW
DALAM KEGITAN DA’WAH ISLAMIYAH
Oleh : Anis Purwanto

     Wajib kita ingat kembali rekaman peristiwa tanggal 09 dzulhijah 1400 an tahun yang lalu, di saat haji wada’ Nabi Muhammad saw. Berkhutbah di atas punggung unta “ Al-qashwa” di Padang Arofah, di hadapan jama’ah haji pada saat itu. Para ahli tarikh merekam khutbah Nabi pada waktu itu dan menyebutnya sebagai khutbah perpisahan. Sebab setelah peristiwa tersebut Nabi tidak pernah melakukan haji lagi. Al-Qur’an menyebut haji ini sebagai haji akbar, sebab wukufnya jatuh pada hari jum’at. Bahkan ribuan tahun sesudah itu sampai sekarang orang masih menyebut haji yang wukufnya jatuh pada hari jum’at sebagai haji akbar.
     Meskipun menurut kalender hijriyah, pelaksanaan wukuf pada tahun ini tidak jatuh pada hari jum’at yang berarti bukan haji akbar, namun kita sebagai umat Islam, khususnya jama’ah haji menyebutnya ibadah haji yang dilakukan sebagai haji akbar, karena gemuruh dzikir di Arofah tahun inipun tidak berbeda dengan gemuruh dzikir pada waktu Nabi. Bahkan boleh jadi udara sekarang sama panasnya dengan udara pada waktu itu. Arafah ini adalah Arafah yang dulu juga. Namun disamping banyak yang sama, kini menurut kabar ada yang juga berbeda. Dahulu Arafah adalah padang pasir yang gersang, sekarang pepohonan hijau tumbuh di sana-sini bahkan fasilitas ibadah yang lain demi nyamnannya jama’ah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah dapat berbeda di zaman Nabi.
     Akan tetapi di dalam kajian sederhana ini, kita akan kembali mengingat tentang isi khutbah Nabi Muhammad saw, yang kiranya dapat kita aplikasikan dalam kehidupan beragama dan dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat saat ini sebagian dari jama’ah haji telah berangkat ke tanah suci (Al-Haram), memenuhi panggilan Allah melaksanakan haji sebagaia pelaksanaan rukun Islam yang ke-5. sebab sebagaimana kita ketauhi bersama disaat menjelang pemberangkatan calon jema’ah haji banyak umat Islam sering terlibat dalam kegiatan “Walimatul Safar”  terlebih khusus yang dilakukan oleh jama’ah haji.
     Mnurut Muslim, Turmudzi, Abu Dawud, dan para ahli sejarah Islam, paling tidak ada tujuh poin penting isi khutbah haji wada’ Nabi Muhammad swa:
Pertama, Nabi mengingatkan kaum muslimin untuk menghormati apa yang sekarang disebut sebagai hak asasi manusia ”Wahai manusia, sesengguhnya darah kamu, dan kehormatan kamu sama sucinya dengan hari ini, bulan ini, dan tempat ini. Nanti ketika kalian berjumpa dengan Tuhan kalian, kalian harus mempertanggung jawabkan amal-amal kalian”
Kedua, Nabi Muhammad saw memperingatkan untuk tidak mempertahankan system ekonomi yang melestarikan penindasan.
Ke-tiga, Nabi saw menyuruh kaum muslimin berhati-hati menjaga agama, karena setan akan selalu menyesatkan orang secara halus, bahkan lewat amal-amal yang kita anggap remeh. ” Sesungguhnya setan sudah putus asa untuk disembah di bumi kamu ini, tetapi ia sangat senang jika kamu mentaatinya dalam amal-amal yang kamu remehkan. Waspadalah untuk agamamu”.
Ke-empat, Nabi saw menegaskan kewajiban semua orang, khususnya laki-laki untuk menghormati hak-hak wanita. “ Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istri kamu, juga istri kamu mempunyai hak atas kamu. Wahai para suami, aku wasiatkan kamu berbuat baik terhadap istrimu“. Bahkan lebih lanjut Nabi mengingatkan akan pentingnya kaum muslimin memelihara persaudaraan diantara mereka”. Seseorang muslim adalah saudara dari muslim yang lain. Tidak boleh ia menggunjingkannya, tidak boleh mengkhianatinya dan tidak boleh menyebarkan aibnya:.
Ke- lima, Nabi Muhammad saw menghimbau umat Islam untuk selalu mengiklaskan amal, patuh setia terhadap pemimpin yang benar dan memelihara kesatuan kaum muslimin.
Ke- enam, Nabi saw menegaskan akan kesamaan derajat diantara seluruh umat manusia. Tidak ada kelebihan orang arab dengan orang asing “non Arab”. Derajad orang Islam diukur dari taqwanya.
Ke- tujuh, erat kaitannya dengan yang ke lima di atas, Nabi saw mengingtakan , “ Janganlah kamu kembali menjadi kafir sehingga kamu saling berperang”.
     Menyimak isi khutbah Nabi saw tersebut sampai kinipun masih relefan kita gelorakan dan tetap kita upayakan terus implementasinya melalui berbagai kegiatan keagamaan khususnya penyuluh agama Islam atau lewat kegiatan da’wah Islamiah. Sebab pada kenyataannya poin-poin dari isi khutbah tersebut belum sepenuhnya dapat di laksanakan dan masih terus kita upayakan dalam semua lini kehidupan. Misalnya, dalam kenyataannya  bahwa apa yang kita sebut sebagai penghormatan hak-hak asasi manusia sampai sekarang ini masih belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. Terbukti masih banyaknya Negara-negara yang lemah tertindas dengan Negara-negara yang kuat. Sebagai contoh saudara-saudara kita yang berada di Palistina masih belum lepas dan etrus mendapat intimidasi dan penindasan dari zionis Israil, dan masih banyak lagi  sejenis penindasan, mengalirnya darah, bahkan peristiwa bom bunuh diri dengan dalih penegakan jiha fi sabilillah, yang senyatanya justru mengakibatkan hilangnya hak orang lain, nyawa, harta, dan kehormatan bangsa.
     Dilain pihak system ekonomi kapitalis banyak dianut oleh Negara-negara maju yang menguasai perekonomian dunia. Ketidak berdayaan Negara berkembang di dalam mengejar ketertinggalannya tersebut justru mengorbankan kepentingan umat Islam didalam menegakkan sisten ekonomi umat Islam. Bukankan pemilik modal yang kuat dengan mudah melahap pengusaha kecil. Bukankah para petani tidak dapat menaikkan harga produk mereka untuk mengimbagi kenaikan harga komoditas yanglain. Bukankah kekayaan alam, yang seharusnya diperuntukkan kesejahteraan umat manusia justru dikurupsi oleh segelintir elite tertentu. Sementara potensi ekonomi umat Islam yang dapat memperdayakan si-lemahpun belum sepenuhnya dapat diupayakan denagn optimal, misalnya zakat, infaq, dan shadaqah.
     Dalam bidang iman dan taqwa Rasul Saw sangat mendekritkan kesamaan diantara umat manusia dihadapan Allah SWT. Derajat seseorang disisi Allah diukur dari iman dan taqwanya, bukan golongan Arab atau yang lain, bukan yang kuat atau yang lemah. Bagaimana peran kita dalam mensucikan Agama ?. Benarkah kita sering meremehkan hal-hal tertentu yang sebenarnya dalam jangka lama dapat merusak iman dan takwa kita ?. Menurut Nabi Saw setan tidak akan menyesatkan umat Islam secara langsung. Ia akan menggunakan jembatan-jembatan halus.  Begitu halusnya sehingga umat Islam menganggap enteng bahaya yang dihadapinya.  Mungkinkah yang dimaksud Nabi Saw tersebut adalah penetrasi nilai-nilai sekuler dalam kehidupan umat  karena globalisasi ?. Apabila jawabannya ia, mestinya dalam setiap langkah kegiatan umat Islam, khususnya kita sebagai praktisi dakwah Islamiyah terus mengupayakan akan kokohnya iman dan taqwa sebagai landasan utama umat Islam didalam menatap kehidupan yang serba modern.
     Selanjutnya kita berkepentingan untuk selalu menyuarakan akan pentingnya mengupayakan dan memperhatikan yang lebih tulus pada kepentingan kaum ibu. Bukankah Nabi pernah menegaskan agar kita memuliakan ibu. “ Siapakah yang saya muliakan terlebih dahulu ayahku atau ibuku ?. Jawab Nabi “ibumu” sampai tiga kali, baru ayahmu”. Namun didalam kenyataannya disamping slogan-slogan yang mengagungkan kaum ibu, kita masih saja menemukan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan yang berkenaan nasib kaum wanita di Negara kita yang mayoritas penduduknya Islam.
     Angka ibu yang mati ketika melahirkan masih mencemaskan dan terus kita upayakan perbaikan dari berbagai bidang. Rata-rata pendidikan mereka masih jauh dibawah kaum pria. Sehingga upaya dalam rangka mengejar ketertinggalan kaum wanita terhadap kaum pria terus kita upayakan lewat berbagai bidang, lewat pendidikan formal ataupun non formal, misalnya kelompok-kelompok pengajian ibu atau kegiatan yang lainnya. Di lain fihak tekanan ekonomi telah menggiring kaum wanita bekerja diluar, di pabrik-pabrik, bahkan sebagian bekerja sebagai TKI di luar negeri. Sehingga mereka bukan saja mengorbankan kepentingan dan kebahagiaan keluarganya, tetapi juga jiwa dan raga mereka. Terbukti banyak kasus TKI kita di manca Negara mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari majikannya.
     Akhirnya, mengacu kepada bahasan isi khotbah Nabi Saw yang disampaikan di Padang Arafah, kita berharap semoga upaya yang kita lakukan dalam mewujudkan tatanan kehidupan yang Islami dapat terealisasi. Sekecil apapun peranan kita, implementasi isi khotbah Haji Wada’ Nabi Saw dalam berbagai kegiatan umat Islam wajib kita lakukan. Apalagi mengingat begitu pentingnya pesan-pesan Nabi Saw yang disampaiakan disaat berkumpulnya banyak orang, yang datang dari berbagai penjuru Negara dan kota pada saat itu. Sehingga pesan-pesan tersebut merupakan pesan universal untuk semua umat Islam. Wallahu a’lam.