Selasa, 28 Agustus 2012

PASCA RAMADHAN DAN IDUL FITRI


PASCA RAMADHAN DAN IDUL FITRI
Oleh : Anis Purwanto

Ramadhan dan Idul Fitri telah berlalu. Kenangan indah sewaktu menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh masih terpatri kuat dalam ingatan. Semarak beridul fitri juga masih kita rasakan. Akan tetapi sesungguhnya yang menjadi perhatian kita selanjutnya adalah lebih kepada bagaimana pelaksanaan ibadah puasa itu sendiri. Sebab kemampuan menahan diri ini akhirnya tidak dipahami hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja akan tetapi terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Kegembiraan pada Hari Raya Idul Fitri adalah hak bagi setiap orang, namun kegembiraan ini tidak hanya sekedar menunjukkan partisipasi lahiriyah yang semu ketika menyambut hari yang mulia ini. Akan tetapi kegembiraan dimaksud dapat terpancar melalui adanya suatu keyakinan bahwa puasa dan amal ibadahnya yang lain selama Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT. “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan Ramdahan dan hendaklah kamu mengagungkan Tuhan sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu supaya kamu bersyukur”.
Idul Fitri merupakan terminal baru yang kita singgahi setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa. Terminal ini ternyata lebih sulit bila dibanding dengan terminal sebelumnya yakni puasa itu sendiri. Karena terminal puasa hanya dijejali dengan latihan-latihan sesuai dengan namanya syhr al-riyadhah (bulan latihan). Hasil dari latihan ini akan dipertandingkan dengan masuknya hari raya Idul Fitri, untuk mengevaluasi sejauhmana kemajuan-kemajuan yang telah diperoleh sewaktu latihan, kemudian akan dipertandingkan dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Maka kemudian yang sangat berat adalah ketika kita memasuki terminal pasca lebaran yakni memelihara dan melestarikan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah puasa selesai nampaknya kita harus tetap “puasa”. Sebab tugas memelihara ini justru lebih berat ketimbang melaksanakan perintah ibadah puasa itu sendiri. Selama bulan suci Ramadhan, ada faktor pendukung yang sangat menguntungkan, sehingga kita kuat menghadapi godaan dan ujian iman. Ketika itu seluruh kaum muslimin serentak melaksanakan ibadah puasa, taraweh rame-rame, tadarus bersama. Begitupun lingkungan sekitar kita , ikut menghormati bulan suci Ramadhan , warung makan tidak buka disiang hari, tempat-tempat hiburan pun diimbau tidak menyajikan acara-acara yang bertentangan dengan norma susila, para penjaja “kenikmatan sesaat” di lokalisasi banyak yang tutup, bahkan yang oprasinya dipinggir-pinggir jalan di “garuk” disingkirkan dari peredaran, meskipun bersifat sementara. Begitupula seluruh tayangan TV, sangat sarat dengan muatan dakwah. Bergagai paket acara yang bernuansa Ramadhan pun disajikan. Seakan tiada hari tanpa dakwah. Sehingga selama Ramadhan kita merasakan suasana yang sangat Islami, jauh dari aroma mungkarot yang kerap mewarnai kehidupan kita.
Sehingga setelah puasa dan Idul Fitri, kita masih harus tetap menjalankan puasa sepanjang masa. Dan Idul Fitri merupakan awal perjanjian manusia dengan Allah SWT, untuk melanjutkan tradisi positip yang telah dibangun ketika puasa Ramadhan, sehingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, yakni mengaplikasikan amalan-amalan yang dilakukan pada bulan Ramadhan baik amalan yang berkaitan dengan pisik maupun yang berkaitan dengan mental.
            Sayangnya situasi itu hanya dalam bulan Ramadhan, setelah Ramadhan usai semuanya kembali pada posisinya masing-masing. Seakan kita tak pernah dilalui bulan Ramadhan. Ibadah puasa dan qiyamullail (shalat malam) yang kita lakukan selama satu bulan, tak nampakkan bekas sama sekali dalam diri kita. Sehingga inilah nampaknya sinyalemen Rasulullah SAW, bahwa “sesungguhnya kita baru pulang dari perang kecil menuju perang yang lebih dahsyat lagi, yaitu perang melawan hawa nafsu”, menjadi kenyataan. Kita memang masih harus puasa lagi setelah puasa usai. Buah nilai puasa satu bulan sebetulnya sudah mampu mewarnai corak kehidupan kita selanjutnya. Dengan catatan bahwa puasa yang kita lakukan itu puasa yang “imanan wah tisyaban” dan “ghufiralahu mataqodan min dambih”. Sebab ada banyak model puasa yang juga banyak dilakukan , dimana dia melaksanakan puasa akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa keculai hanya lapar dan haus. Kasihan tentunya orang yang model puasa seperti itu, laksana orang yang jatuh ketimpa tangga.
            Selama bulan Ramadhan pelaksanaan ibadah kita sangat baik, setidaknya menurut kita, bahkan iman dan taqwa kita terasa sangat mantap. Laksana seorang prajurit yang pulang dari medan peperangan dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang. Kita kembali menjadi suci lahir batin,  bahkan kita terasa dilahirkan kembali dari kandungan ibu, mental kita jadi kuat, kesabaran kita menjadi tangguh, watak dan kepribadian kita berubah menjadi pribadi yang luhur, sikap kita menjadi sikap yang siap menghadapi ujian didalam menghadapi segala persoalan hidup dan kehidupan. Bahkan selama bulan Syawal, kita aktip silaturahmi ke mana-mana, berhalal bihalal, minta maaf kepada sanak kerabat dan handai taulan.
            Akan tetapi kini, kita saksikan, semua yang pernah ada hilang begitu saja. Semua kembali kepada posisinya masing-masing. Bahkan sifat kemalas-malasan beribadah kambuh lagi. Tradisi keislaman dalam bulan Ramadhan dan Idul Fitri tenggelam seakan ditelan bumi. Masjid-masjid tampak sepi. Para muballigh bahkan penyuluh agama yang selama Ramadhan dan Idul Fitri menjadi orang yang sangat sibuk mengisi berbagai kultum atau ceramah, sekarang istirahat. Meski sebetulnya tidaklah nganggur total, karena para da’I dan penyuluh agama biasanya sudah mempunyai kelompok binaan yang rutin ia lakukan sebagai upaya pembinaan umat.
            Malah yang sangat mencengangkan bagi kita warga Pacitan, adalah pasca lebaran ini justru pendaftaran cerai melonjak (Radar Pacitan, Rabu,14 September 2011). Tradisi pulang kampung (mudik lebaran) yang seharusnya hanya kita gunakan untuk silaturrahmi, rupanya dimanfaatkan sebagian warga untuk mengurus perceraian. Hal ini dibuktikan bahwa waktu sepekan saja jumlah perceraian yang didaftarkan di PA Pacitan mencapai 62 perkara. Meningkat dua kali lipat, bila dibandingkan perkara yang masuk pada bulan sebelumnya yang tercatat sekitar 20-30 perkara. Terlepas apapun alasan penyebab perceraian, namun yang pasti kita sangat sayangkan, karena disaat kita bergembira ria merayakan Idul Fitri, ada sebagaian masyarakat kita yang justru harus mempertaruhkan keutuhan keluarganya dengan mendaftarkan cerai di Pengadilan Agama. Apakah kemudian pantas apabila pasca lebaran yang seharusnya kita pergunakan untuk melanjutkan tradisi keagamaan seperti yang kita lakukan di bulan Ramadhan dan Idul Fitri menjadi tradisi  untuk cerai.
            Kenapa persoalan keluarga itu justru muncul disaat kedamaian selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri  “Lebaran” sedang peroleh,  hingga memutuskan mendaftarkan cerai. Mestinya apabila nilai Ramadhan dan Idul Fitri betul-betul tertanam kuat dalam sanubari, apapun persoalan yang timbul akan dapat kita antisipasi dan dicarikan pemecahan yang terbaik. Akan tetapi semua memang kembali kepda kita masing-masing. Kita menyadari bahwa perceraian itu adalah diperkenankan meski di benci oleh Allah. Kita mengetahui bahwa faktor penyebab perceraian antara lain tidak ada tanggung jawab, tidak ada keharmonisan, masalah ekonomi, gangguan pihak ketiga, cacat biologis, krisis akhalak, KDRT dll, namun factor nikah usia dini juga perlu mendapat perhatian. Sebab selain perceraian yang naik tajam, pernikahan dini di Pacitan juga meningkat. Setidaknya, ada 74 dispensasi nikah karena umur mempelai perempuan kurang 16 tahun. Faktor penyebabnya didominasi kehamilan diluar nikah alias nikah kecelakaan atau marriage by accident (MBA). (Radar Pacitan, Kamis 15 September 2011).
            Jadi meraih suatu prestasi  memang sangatlah berat, akan tetapi lebih berat lagi mempertahankannya. Selama Ramadhan dan Idul Fitri kita telah diikat dengan tradisi keagamaan yang kuat dan kita berhasil meraihnya. Karena itu tak pantaslah apabila kemudian tradisi keagamaan itu kita tinggalkan. Lebih lagi kenapa ada tradiri lain (cerai) yang muncul secara mencolok justru di waktu pasca lebaran.            Sebagai salah seorang praktisi dakwah “semampu kita”, kita sangatlah prihatin. Apakah dakwah kita selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri itu tidak mengenai sasaran ?. Apakah ada faktor lain yang menyebabkan semua ini terjadi pada umat Islam ?. ya sudahlah kita hanya menyampaikan risalah tauhid itu kepada umat. Selanjutnya terserah kepada kita masing-masing. Bagaimana merealisasikan semua yang telah diterima selama ini dalam kegiatan nyata, Sehingga pasca Ramadhan dan Idul Fitri ini nampaklah ada perubahan, dari yang negatip kepada yang positip dalam segala hal. Wallahu a’lam.
                                                                                                           



KHUTBAH JUM'AT BAHASA JAWA : SAKSAMPUNIPUN SIYAM RAMADHAN


KHUTBAH JUM’AT
 SAKSAMPUNIPUN SIYAM RAMADHAN
Dening: ANIS PURWANTO

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Wonten ing kesempatan Jum’at siyang sapunika, sumangga kita aturaken puja puji syukur ing ngarsa dalem Allah SWT, awit ngantos ing detik punika Alhamdulillah kanthi karunianipun Allah SWT, kita taksih kabimbing iman lan Islam sarta kesadaran kagem nindakaken kewajiban ibadah Jumat ing siyang punika. Kita nyuwun dhumateng Allah SWT mugi-mugi ibadah kita saget katampi dening Allah SWT. Sehingga kita manggih kawilujengan ing donya dumugi ing akhirat, amin ya rabbal ‘alamin. Mugia shalawat lan salam atur dumateng junjungan kita Nabi  agung Muhammad SAW, sahabat lan sedaya penderekipun, kalebet kita sedaya. Amin.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Alhamdulillah, taksih ing situasi Lebaran,  saksampunipun kita nindakaken siyam Ramadhan, kita taksih dipun engetaken Allah SWT kanthi piwucal-piwucal suci ingkang kadas dipun wucalaken Allah wanten ing Al-Qur’an Surat Alam Nasyrah ayat 5-8 :

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا (٥) إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرً۬ا (٦) فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ (٧) وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب (٨)
 “Mangka satemene kelawan samubarang kang angel iku dumunung perkara kang gampang. Mula menawa wus rampung ngayahi sawijining perkara, padha gegancangana sira nyandhak panggawehan liyane, lan ya mung marang Pangeranira bae sira supaya nduweni pangarep-arep”.
            Ayat punika paring pitedah, ingkang supados kita tansah anggadhahi niat kangge ningkataken kualitasipun ing sedaya perkawis.  Punapa kemawon ingkang dereng sae, kedah dipun usadani murih dadas saenipun. Wondene ingkang mila sampun sae, kedah dipun tingkataken malih kesaenanipun. Pramila kanthi fa idza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab punika, wiwit wulan syawal sapunika ngantos dumugi ing wulan-wulan saterusipun mbenjang, kesaenanipun wulan Ramadhan kepengker kedah kita dadosaken modhal kangge ngayahi tuwin ningkataken kesaenan.
            Mendhet piwucal Ramadhan ingkang ugi saget dipun maknani nahan utawi ngempet. Ingkang punika saget kita pendhet maknanipun bilih nahan utawi ngempet punika mila kedah kita ugemi kanthi saestu. Ngempet saking sifat boros, nuju dateng sifat gemi lan satiti. Ngempet saking sifat keset, nuju dhateng gita-gita ngayahi sadhengahipun ayahan ingkang utami, langkung-langkung gegancangan ing babagan ngayahi sedaya pangibadahan. Ngempet saking samukawis lampah maksiyat, nuju dhateng taat lan ngestokaken punapa kemawon ingkang dipun dhawuhaken dening Allah lan Rasulipun.
            Ewondene kados punapa penting saha wigatosipun wucalan ngempet punika, kita saget pirsani piyambak kados pundi piwucal ing tengah-tengahipun masyarakat. Kathah ing antawisipun kita ingkang dereng saget ngempet dumateng sedaya perkawis kadas ing nginggil. Sahingga kathah ing antawisipun kita ingkang nandang kapitunan ing sedayanipun,  sahingga andadosaken icalipun sedaya kesempatan kangge nindakaken ibadah lan nindakaken sedaya kesaenan. Kesenenganipun raga dipun ujo, remenipun ngumbar hawa nepsu, wondene kebetahan manah utawi ruhani jer asring dipun lirwakaken.
            Sedaya punika inggih kadereng saking anggenipun sami mboten saget ngempet utawi nahan datheng pikajengan saha kesengsem dhumateng kesenengan raga lan hawa  nepsu.  Sumangga kita gatosaken pangandikanipun Allah SWT, wanten ing Al-Qur’an Surat Al Jatsiyah ayat 23 :

أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٍ۬ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةً۬ فَمَن يَہۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِ‌ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (٢٣)

“Mula apa sira durung tau weruh kang ndadekake hawa nefsune minangka pangerane lan Allah banjur nyasarake dheweke krana ilmune, sarta ngunci pati kupinge lan atine, lan banjur ndadekake tutup ana ing pandelenge ? Mula ya sapa to kang bisa paring pituduh sawise Allah ngenengake dheweke ana ing kahanan sasar ? Mula apa sira kabeh ora padha gelem eling ?”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Kita nembe kemawon medal saking wulan Ramadhan. Lan “Iedul Fitri sampun kita pahargya sesarengan. Kalih-kalihipun, pengamalanipun ibadah siyam lan pahargyanipun ‘Iedul Fitri, jelas mujudaken setunggal rerangkeaning pengibadahan dhateng Allah SWT. Tanpa pengalaman siyam ing wulan Ramadhan, kegembiraan ing ‘iedul Fitri boten badhe kaparingaken.Tanpa wanten perjuangan, boten badhe wonten kemenangan ingkang saged dipun gayuh . Lan kemenangan punika piyambak,  nembe saged dipun gayuh saksampunipun tiyang berjuang kanthi ngetog kekiyatanipun, lan ngorbanaken sedaya kemampuanipun. Pramila saking punika Ramadhan ingkang minangka sanepaning satunggalipun perjuangan, lan raos syukur kita atas dhatengipun ‘Iedul Fitri saged dipun anggep minangka lambanging kamardikan jiwa saking godaan hawa nefsu.
Ibadah siyam saestu mengku tujuan lan hikmah ingkang paripurna,  nggembleng jiwa kita dados kiyat, watak lan kepribaden kita dados luhur,  sikep kita dados sikep ingkang tansah siap ngadepi sedaya reribet, lan damel disiplin kita dados disiplin ingkang kiyat kados dene waja. Kita medal saking wulan Ramadhan dipun sanepakaken kados dene prajurit ingkang wangsul saking peperangan kanthi mbekta kemenangan. Malah dipun ibarataken kadas dene jabang bayi ingkang nembe lahir saking kandhunganipun ibu, resik lan suci jiwanipun, lepas saking sedaya kalepatan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Pramila saking punika sumangga piwucal Ramdhan saha Idul Fitri kita dadosaken tunggak awal kangge gegancangan nindakaken sedaya kesaenan saha kautamen. Sekedik atur punika sengaja kita tengenaken awit taksih wanten ing antawisipun umat Islam ingkang dereng nengenaken sifat gita-gita kangge nindakaken babagan kesaenan, kita taksih kesengsem dumateng keremenan kadonyan, mboten setimbang kaliyan kawigatosan dhateng babagan keakhiratan. Mugia kanthi kesadaran tuwin kawidatosan kita ingkang setimbang ing babagan kadonyan saha keakhiratan, kita tansah pikantuk siramanipun rahmat, taufiq saha hidayahipun Allah SWT. Wilujeng ing donya saha ing akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.


Selasa, 14 Agustus 2012

KEMBALI KEPADA FITRAH


KEMBALI KEPADA FITRAH
Oleh : Anis Purwanto

            Puasa Ramadhan telah usai. Kini memasuki Idul Fitri. Kita berharap puasa, shalat dan amal lainnya diterima oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kita kembali kepada fitrah. Sebab satu bulan lamanya, dimana umat Islam berjuang melawan hawa nafsu, mengendalikan diri dan menjaga dari hal-hal yang mengakibatkan batal bahkan rusak pahala puasanya. Bulan Ramadhan adalah salah satu bulan yang dapat dijadikan tolok ukur meningkatnya kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT.
Fitrah, mempunyai arti asal kejadian, kesucian dan agama yang benar. Fitrah dalam arti asal kejadian bermakna bebas dari noda dan dosa. Bagi orang yang berpuasa dan diterima ibadahnya itu, diampuni segala dosa-dosanya, maka ia bagaikan bayi yang baru dilahirkan dari perut ibunya. Bagaikan kertas putih yang bersih, tidak tercoreng oleh cacat dan aib. Sedangkan  fitrah dalam artian agama yang benar mempunyai pengertian bahwa orang yang kembali kepada fitrah adalah orang yang memiliki watak yang senang menerima ajaran agama, yang berarti seseorang mempunyai keinginan yang kuat untuk berupaya melaksanakan semua ajaran syariat Islam, “melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi laranga-Nya”, dalam hidup dan kehidupannya, dunia dan akhirat. Fitrah selalu cenderung kepada kebenaran dan tidak senang kepada segala bentuk kemungkaran dan berorientasi kepada “amar makruf nahi mungkar”.
 Secara fitri, manusia dengan fitrahnya selalu ingin berbuat baik, cinta damai dan menghindari permusuhan. Akan tetapi dalam kenyataannya dalam kehidupan kita sehari-hari,  kita temui berbagai penyimpangan. Kemanakah kecenderungan fitrah kita itu?. Yang pasti bahwa manusia dekat juga dengan sifat salah, sehingga aneka ragam penyimpangan terjadi karena kesalahan diri,  bukan dari dorongan naluri dasarnya, melainkan karena situasi dan kondisi yang melingkupi dirinya. Jadi, perbuatan-perbuatan buruk bisa saja terjadi, tetapi tidak berasal dari fitrahnya. Sebab secara fitrah manusia adalah baik.
Kejahatan-kejahatan sering muncul karena dorongan oleh tatanan sosial yang sesuai dengan ajaran agama, sehingga yang buruk mengakibatkan yang buruk pula, misalnya tidak tegaknya hukum mendorong orang manipulasi hukum , “main hakim sendiri. Maraknya kriminalitas, antara lain disebabkan oleh kebebasan manusia melakukan pelanggaran syariat. Semakin maraknya tindak kejahatan sekarang ini karena dorongan setan yang telah menguasai manusia dan dunia. Dalam kondisi dimana hawa nafsu telah menguasai diri, hati nurani menjadi tumpul dan sulit menerima hidayah Allah SWT. Manusia makin jauh dari fitrah. Sebab, hati tempat fitrah bersemayan dan berkembang biak, tertutup oleh noda dan dosa.
Kini fitrah itu telah terbuka kembali. Setelah kita berjuang selama satu bulan itu,  kita di “gembleng” dalam irama peribadatan yang sangat menjanjikan keindahan pahala dari Allah SWT. Sebab Syawal yang berarti peningkatan, mengandung maksud agar hamba-hamaba Allah yang beriman sadar, bahwa setelah mereka ditempa jasmani dan rohani dengan gemblengan yang sangat ketat selama bulan Ramdhan , kualitas spiritualnya akan meningkat menjadi mukmin yang sejati.
Bulan Ramadhan, Al-Qur’an dan hidayah Allah merupakan satu paket, yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Hidayah Allah SWT harus terus kita upayakan. Puasa, shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, zakat, infaq, sadaqah serta amalan-amalan lainnya, merupakan upaya untuk mendapatkan hidayah. Selain itu, juga harus bisa menjauhkan diri dari perbuatan yang mungkar. Sebab ibadah yang merupakan perwujudan dari taqwa dapat membersihkan diri dari noda dan dosa serta dapat mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Sebaliknya dosa dapat menjauhkan manusia dari fitrahnya. Karenanya,  fitrah juga berarti hanif, maka manusia pada dasarnya lebih condong kepada al-haq. Sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat.
Sedang fitrah yang terkait dengan agama, Tauhid menyatu dengan fitrah. Maka Rasul diutus untuk membimbing umat manusia untuk kembali kepada tauhid yang benar dan fitrahnya itu. Karenanya, agama Islam disebut juga sebagai agama fitrah, yaitu agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Kembali kepada fitrah, berarti juga kembali kepada aqidah yang benar, “Dinullah”. Manusia sebagai mahkluk yang sempurna, dikarunia oleh Allah akal dan iradah. Dengan akal dan iradah manusia mempunyai kemampuan untuk membedakan dan memilih  mana yang baik dan yang buruk. Manusia yang dilengkapi dengan iradah “kehendak bebas”, dapat berfikir kritis terhadap semua hal yang terjadi di dalam hidup dan kehidupannya. Sebab manusia tidak harus tunduk dengan kondisi sosial lingkungannya. Karena apapun yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan kelak dihadapan perhitungan ilahi rabbi.
Pengaruh lingkungan memang sangat menentukan. Sehingga anak yang semula dilahirkan dalam keadaan fitrah, setelah dewasa bisa menyimpang jauh dari sifat dasarnya. Dengan kata lain dapat tersesat aqidahnya, yang mestinya menjadi insan tauhid, berubah wujud menjadi manusia yang kufur. Karena fitrah merupakan sifat universal manusia , maka sebetulnya fitrah itu tidak bisa berubah. Akan tetapi karena unsur akal dan iradah yang keliru didalam memilih dan mengambil keputusan, maka manusia terjauh dari fitrahnya dan menyimpang jauh dari aqidah yang benar.
Manusia sebagai mahkluk sosial tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari. Ia berada ditenga-tengah realitas sosial, yang sewaktu-waktu dapat menyeret dirinya menyimpang dari fitrahnya. Karenanya, ia dituntut untuk mampu beradaptasi, namun tidak boleh lebur sehingga terasing dari fitrahnya. Meski ia hidup ditengah-tengah aneka ragam paham dan perilakunya, idiologi dan agamanya, manusia dituntut juga mampu hidup rukun dengan penuh kedamaian, tanpa mengorbankan fitrah dan aqidahnya.       
            Oleh karenanya, dalam rangka memelihara dan mengembalikan fitrah, yang telah kita upayakan memalui ibadah Ramadhan, ada baiknya selalu kita sandarkan harapan itu kepada Allah SWT. “Ya Allah, tolonglah kami  (menjadi hamba) yang senantiasa selalu mengingat-Mu, dan tolonglah kami (menjadi hamba) yang senantiasa bersyukur kepada-Mu, dan tolonglah kami untuk memperbaiki ibadah kami kepada-Mu”. Dari itulah, yakin sandaran kita akan kuat dan tak mudah tergoyahkan. Nilai-nilai Ramadhan akan menyinnari kehidupan kita, dengan senantiasa mengingat Allah (dzikrullah atau zikir, bersykur akan karunia yang telah Allah berikan dan tetap beribadah dimana kita berada dan dalam suasana yang bagaimanapun. Walahu a’lam.



Sabtu, 11 Agustus 2012

KANTHI IMAN LAN TAQWA NUJU MARDIKANING JIWA SAKING JAJAHANIPUN HAWA NEPSU


KHUTBAH IDUL FITRI  BAHASA JAWA TAHUN 1433 H/2012M
KANTHI IMAN LAN TAQWA NUJU MARDIKANING JIWA SAKING
JAJAHANIPUN HAWA NEPSU
Dening : Anis Purwanto

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu.
Para sederek kaum muslimin lan muslimat, rakhimakumullah. Jamaah ‘aidin lan ‘aidat ingkang minulya.
            Langkung rumiyin, sumangga kita sami nyaosaken puji syukur dhumateng Allah SWT, ingkang sampun paring nikmat, rahmat sarta hidayah dhumateng kita sedaya. Sahingga kanthi ijin Allah SWT, kita wonten ing enjangipun dinten Idul Fitri ingkang kebak kebahagiaan punika seget kempal manunggal ngupadi ridlanipun Allah SWT, kanthi nindakaken ibadah dhumateng Allah SWT, lan sekaligus minangka bukti anggen kita nglaeraken raos syukur dhumateng Allah SWT.
            Shalawat saha salam mugia katur dhumateng Gusti Rasul, Nabi besar Muhammad SAW, ingkang sampun mbimbing dhumateng sedaya kaum muslimin, tumuju margi ingkang utami. Mugi-mugi kita sedaya pikantuk syafaatipun mbenjang wanten ing yaumul kiyamah, bekja fiddun ya wal akhirah, amin ya rabbal ‘alamin.
Para sederek kaum muslimin lan muslimat, rakhimakumullah. Jamaah ‘aidin lan ‘aidat ingkang minulya.
            Wanten ing wanci enjang ingkang endah lan asri punika, kita umat Islam sedaya sami ngempal wonten ing tanah-tanah lapang, wanten masjid-masjid  lan  mushalla-mushalla utawi papan panggenan sanesipun ingkang kasediyakaken kagem nindakaken shalat Idul Fitri. Amal ritual rutin makaten punika, kita tindakaken setahun sepisan , wanten ing tanggal 1 wulan Syawal, minangka panjilmanipun raos syukur kita dhumateng Allah SWT, awit saking agengipun kanugrahan ingkang kaparingaken dhumateng kita sedaya, saksampunipun kita ngestokakaen dhuwuh nindakaken ibadah siyam ing wulan Ramadhan. Dhawuh syukur punika kadasaraken saking dhawuh pangandikanipun Allah piyambak, wanten ing Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185, ingkang nyebadaken makaten :
 وَلِتُڪۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُڪَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمۡ وَلَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ
“Lan sira kabeh padha nyampurnakna wilangane sasi Pasa, lan banjur padha ngagungna asmane Allah manut cara-cara kang wus dituduhake marang sira kabeh, lan supaya sira kabeh padha syukur marang Allah”.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu.
            Kita kumandhangaken ucapan kalimah takbir, tahlil lan tahmid wiwit kala wingi sonten saksampunipun serap surya, lan terus hengga sedalu muput, kanthi cara-cara ingkang makruf,  malah wanten ingkang kanthi cara “Takbir Keliling”. Sedaya punika katindakaken kanthi boten lepas saking niat nyi’ar ing agami lan tujuanipun ugi tetep namung setunggal, inggih punika ngupadi ridlanipun Allah SWT.
            Punika Idul Fitri, Hari raya Fitrah utawi Dinten Ageng Fitri, dipun syariataken dening agami Islam setahun sepisan ing saben tahunipun, saksampunipun umat Islam rampung nindakaken ibadah siyam, setunggal wulan wetah. Selaras kaliyan dhawuh pangandikanipun junjunagn kita Nabi Agung Muhammad SAW : “Wong pasa ing sasi Ramadhan iku kaparingan kegembiraan werna loro, yaiku gembira nalika buka (rampung anggone pasa), lan gembira nalika ketemu karo Pangerane besuk ana ing dina kiyamat”.
            Kita nembe kemawon medal saking wulan Ramadhan. Lan “Iedul Fitri ing dinten punika kita pahargya sesarengan. Kalih-kalihipun, pengamalanipun ibadah siyam lan pahargyanipun ‘Iedul Fitri, jelas mujudaken setunggal rerangkeaning pengibadahan dhateng Allah, ingkang pancen boten saged dipun pisah-pinisah. Tanpa pengalaman siyam ing wulan Ramadhan, kegembiraan ing ‘iedul Fitri boten badhe kaparingaken.Tanpa wanten perjuangan, boten badhe wonten kemenangan ingkang saged dipun gayuh . Lan kemenangan punika piyambak,  nembe saged dipun gayuh saksampunipun tiyang berjuang kanthi ngetog kekiyatanipun, lan ngorbanaken sedaya kemampuanipun. Sahingga Ramadhan ingkang minangka sanepaning satunggalipun perjuangan, lan raos syukur kita atas dhatengipun ‘Iedul Fitri saged dipun anggep minangka lambanging kamardikan jiwa saking godaan hawa nefsu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu.
            Salebetipun mahargya dinten Iedul Fitri makaten punika, wanten cara kalih ingkang sampun dipun garisaken dening Allah SWT. Ingkang sepisan, awujud sesambetan antawisipun Khaliq lan makhluq, inggih punika ingkang dipun sebat “hablum minallah”, lan ingkang angka kalih, ningkataken hubungan kasih sayang ing antawisipun sesam makhluq, ingkang dipun sebat “hablum minannas”. Ingkang kapisan dipun tindakaken sarana ngegungaken asmanipun Allah :  “Allahu akbar, laa ilaaha illallah walillahil hamdu”.     
            Wondene cara ingkang kaping kalihipun, sakderengipun ngawontenaken sesambetan dhumateng Allah, kaum muslimin ingkang mampu, langkung rumiyin kedah netepti kewajiban dhateng sesami, khususupun dhumateng para fakir miskin, sarana mbayaraken zakat fitrahipun, minangka  “Tuhratan lis shaaimiin wathu’matan lil masaakiin”, pensuci jiwanipun tiyang ingkang nindakaken siyam. Zakat fitrah mujudaken simbul saking solidaritas lan kesetiakawanan sosial ing kalanganipun umat Islam, saksampunipun ngraosaken ngelak lan ngelih ing wulan ramadhan,  kanthi pangajab kaum dhuafak ing dinten punika saget ngraosaken swasono Iedul Fitri kanthi gumbiraning manah.   
Mila pancen kasinggihan, bilih ingkang ngraosaken kebahagiaan lan kegembiraan ingkang hakiki, mbaten sanes kejawi namung tiyang ingkang menghayati saha ngamalaken piyambak dhawuhipun Allah SWT. Sepindah malih, kanthi waosan Alhamdulillahi rabbal ‘alamin, kanthi pitulunganipun Allah, kanthi welas asihipun Allah lan kanthi hidayah saha taufikipun Allah, kita sedaya kaum muslimin saget ngestokaken dhawuh punika kanthi tuntas, nurut tata cara lan aturan ingkang sampun dipun syariataken dening agami Islam. Tiyang ingkang ngibadahipun makaten punika, pantes sanget lan sampun sakmestinipun manawi nalika cekap saking anggenipun nindakaken kewajiban suci, rumaos seneng, rumaos gumbira lan muji syukur dhumateng Allah SWT.
                Saking raos gumbira lan syukur punika lajeng tukul prentuling manah, wusana nyuwun dhumateng Allah SWT, kanthi satunggaling ucapan do’a :“Mugi-mugi Allah wantena keparengipun nampi pengibadahan kita, lan mugi-mugi wantena kepareingipun ndadosaken kita sedaya dadosa golonganipun tiyang-tiyang ingkang wangsul dhateng kawantenan suci, lan kalebetna golonganipun tiyang-tiyang ingkang bahagia jalaran saget ngestokaken sedaya dhawuhipun Allah, lan mugi-mugi kalebetna golonganipun tiyang ingkang katampi pangibadahipun dening Allah SWT”
Saksampunipun siyam lan nindakaken amaliyah Ramadhan, mugi-mugi kita saestu dados tiyang muttaqin, tiyang ingkang saya ningkat taqwanipun. Jer tujuan ingkang utami ibadah siyam inggih punika supados kita dados kawula ingkang taqwa kanthi saestu. Amargi siyam mengku didikan lan gemblengan kangge jasmani lan rohani. Pramila drajat taqwa ingkang kita tampi sageta kita pertahanaken lan kita lestantunaken. Sifat taqwa kedah tetep kita agem ing sadhengah wekdal lan panggenan. Awit taqwa mujudaken sumber saking sedaya kesaenan lan keutamen, ing ndonya ngantos ing akhirat.
            Ibadah siyam saestu mengku tujuan lan hikmah ingkang paripurna,  nggembleng jiwa kita dados kiyat, watak lan kepribaden kita dados luhur,  sikep kita dados sikep ingkang tansah siap ngadepi sedaya reribet, lan damel disiplin kita dados disiplin ingkang kiyat kados dene waja. Kita medal saking wulan Ramadhan dipun sanepakaken kados dene prajurit ingkang wangsul saking peperangan kanthi mbekta kemenangan, dipun ibarataken bayi ingkang nembe lahir saking kandhunganipun ibu, resik lan suci jiwanipun, lepas saking sedaya kalepatan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu.
Para sederek kaum muslimin lan muslimat, rakhimakumullah. Jamaah ‘aidin lan ‘aidat ingkang bahagia.
Swasono kita ber-Iedul Fitri ing tahun punika sami kaliyan Iedul fitri ing tahun kepengker. Wanten ing ramadhan lan Iedul Fitri tahun 1433 H punika, kita bangsa Indonesia nembe kemawon mrengeti HUT RI ingkang kaping 67.  Swasono punika ngengetaken kita kaliyan detik-detik Proklamasi Kamardikan Republik Indonesia ingkang dumadas ing wulan Ramadhan. Punika kita aturaken kanthi pangajab, mugia kaum muslimin nyadari bilih kamardikan saking penjajah Belanda mboten kamardikan ingkang final. Ramadhan mboten sekedar namung nyegah dahar lan ngunjuk kemawon, namung kita kantheni kaliyan ngendaleni hawa nefsu. Awit merdikanipun jiwa saking godaan hawa nefsu, badhe tumuju tentremipun manah. lan Idul Fitri minangka kesempatan ingkang sae kagem ndandosi diri pribadi, kangge nggayuh kamardikan ingkang sejatos. 
            kita sedaya bangsa Indonesia, khususipun kita kaum muslimin ingkang nembe kemawon mentas saking ramadhan, Kamardikan RI, tanggal 17 Agustus 1945, mbekta mawarni-warni kenangan lan harapan. Awit nikmat kamardikan menika minangka berkah lan rahmat saking Allah SWT, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Saestu prastowo punika dados bukti kiat bilih wulan ramadhan minagka syahrul jihad. Wulan ing saat kaum muslimin kagungan ghiroh perjuangan kagem njejegaken nagari dalah agami. Sahingga Kamardikan bangsa ingkang sampun kita raosaken saking 67 tahun kepengker punika, mestinipun sampun saget ngentasaken bangsa punika saking sedaya reruwet, nuju kemajengan bangsa ing sedaya bidang, baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur. 
Selajengipun nilai kemerdekaan saha perjuanganipun para pahlawan kusuma bangsa punika, sampun sakmestinipun kita tanemaken kagem generasi penerus bangsa milai alit, awit unggulipun ilmi pengetahuan lan tehnologi, kedah kita selarasakan kaliyan unggulipun ahklak.  Lan keseimbangan punika ingkang mangke badhe ngasilaken generasi penerus gegadhanganipun bangsa. Sahingga perjuangan kemerdekaan ingkang ing rikala samanten dipun rebut kanthi wutahipun erah saha tetesan luh, namung kangge nuju masyarakat Indonesia ingkan majeng lahir batosipun, anggadahi pagesangan ingkang sejahtera, adil lan makmur.
Temtu kemawon  kangge nuju masyarakat Indonesia ingkang majeng lahir batosipun, kita bangsa Indonesia taksih kedah ngadepi mawarni-warni pacoben ingkang awrat, ing antawisipun babagan koropsi, penegakan hukum, bencana alam, lan ugi masalah ekonomi, ingkang kedah terus kita upadi murih saget dipun raosaken hasilipun kagem sedaya masyarakat Indonesia lan terus mbetahaken partisipasi kita bangsa Indonesia secara sesarengan.
Sahingga kanthi kesadaran, saha ningkatipun raos iman lan taqwa, kita beridul fitri mbaten sarana bermewah-mewahan lan pemborosan. Satunggalipun syair nyebadaken :“Idul Fitri iku dudu hak milik kanggone wong-wong kang nyandang nganggo sarwa anyar lan mangan ngombe sarwa mewah, namging Idul Fitri iku duweke wong-wong kang wis bisa ningkatake ketaatane marang Allah lan utusane”.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu.
Para sederek kaum muslimin lan muslimat, rakhimakumullah. Jamaah ‘aidin lan ‘aidat ingkang bahagia.
Kanthi sikep keteladanan lan syukur dhumateng Allah SWT, mujudaken modal dasar salebetipun kita ber-Idul Fitri. Lan salajengipun kita namung badhe ngutamekaken amalan-amalan ingkang pancen dados syariat agami Islam, mboten ngumbar hawa nefsu, ngetok kekajengan lan nuruti pepinginan ingkang lelawanan kalian tuntunan agami Islam.                                                 
Ing tengah-tengaipun swasono gumbira, kados ing saat punika, wanten kalimat ingkang asring kita aturaken, inggih punika kalimat “minal ‘aidin wal faidzin” kanthi panyuwun mugi-mugi Allah SWT ndadosaken kita kalebet golonganipun tiyang ingkang wangsul dhateng kesucian lan pikantuk kabekjan. Lan saksampunipun shalat Idul Fitri, kita nuli sami salam-salaman, ngapunten-ingapuntenan, halal bihalal lan bersilaturahmi dhumateng para sanak kadang lan sedherek.
Para sederek kaum muslimin lan muslimat, rakhimakumullah. Jamaah ‘aidin lan ‘aidat ingkang bahagia.
Akhiripun kanthi hikmah Idul Fitri kita tingkataken iman lan taqwa nuju mardikaning jiwa , sumangga kita tingkataken partisipasi kita wanten ing babagan kesaenan, kalebet partisipasi kita ing babagan pembangunan wanten ing sedaya bidang selaras kaliyan pakaryan lan profesi kita piyambak-piyambak. Sahingga kacipta masyarakat ingkang  adil makmur kanthi ridlo Allah, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur, bekja fi dun ya wal akhirah. Amin ya rabbal ‘alamin.
Selajengipun kangge penutup khotbah, sumangga kita ngeningaken manah kita, nyuwun dhumateng Allah SWT kanthi ihklas karana Allah, mugi-mugi sedaya panjangka kita saget dipun kabulaken Allah SWT.
           

Sabtu, 04 Agustus 2012

RAMADHAN DAN KEMERDEKAAN HAKIKI


RAMADHAN DAN KEMERDEKAAN HAKIKI
Oleh : Anis Purwanto

Merupakan nikmat yang sangat besar dan tiada tara, bahwa pada tahun ini kita dipertemukan kembali oleh Allah Azza wa jalla dengan Ramadhan dalam kedaan Islam dan Imann. Bahkan pertemuan kita kali ini sangatlah istimewa, bila kita bandingkan dengan Ramadhan pada tahun-tahun yang lalu. Sebab Ramadhan 1433 H ini ada keistimewaan bagi umat Islam Indonesia, yakni bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-67. Hal ini mengingatkan kita dengan saat detik-detik Proklamasi RI terjadi pada bulan Ramadhan, tanggal 17 Agustus 1945. Harapannya, semoga kaum muslimin menyadari bahwa kemerdekaan dari penjajahan bukanlah kemerdekaan yang final, dan Ramadhan merupakan momentum bagi perbaikan diri dan bangsa untuk meraih kemerdekaan yang sebenarnya. Sebab, senyatanya ada korelasinya antara Ramadhan dengan kemerdekaan hakiki bagi bangsa Indonesia ini.       Sebenarnya cukuplah bagi seorang hamba mengetahui bahwa Allah memerintahkan untuk berpuasa itu menjadikan keutamaan yang besar yang akan diraihnya dengan menjalankan perintah itu, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana telah diwajibkan pula kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” (QS. Al Baqarah :183). Karena dia menyadari bahwa Allah yang Maha Penyayang pasti tidak menginginkan untuk mencelakakan hamba-Nya. Sehingga apa yang diperintahkan-Nya pasti mengandung kebaikan. Kata la’allakum tattaqun, disini merupakan nilai final yang akan kita raih, artinya supaya kalian bertaqwa kepada Allah, sehingga engkaupun meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan engkau menegakkan apa yang diwajibkan oleh Allah.                                       Puasa termasuk ibadah dan ketundukan kepada Allah, sehingga puasa itu menjadikan orang yang berpuasa hanya menghadapkan dirinya kepada Allah, tunduk dan khusuk dihadapan-Nya tatkala dia harus menolak kekuasaan syahwat. Disisi lain bersatunya umat dalam menjalankan satu ibadah dalam satu waktu dan menempa kesabaran mereka secara bersama-sama, baik orang-orang yang kuat maupun yang lemah, terpandan maupun tidak, kaya maupun miskin guna bersama-sama menanggung kewajiban ini yang akan membuahkan keterikatan hati dan ruh mereka serta bersatunya kalimat mereka. Puasa juga menjadi sebab terjalinnya kasih saying antara umat ini satu sama lain.                                                                                             Maka ini adalah kesempatan yang besar, sekaligus nikmat yang agung. Akan tetapi, peluang besar ini juga menjadi sebuah kecelakaan bagi orang-orang yang menyia-nyiakannya, sehingga ia keluar dari Ramadhan tanpa ampunan dari Rabb-Nya, “Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni” (HR. Hakim dan Thabrani). Sehingga harapan diampuni dosa adalah merupakan cita-cita besar bagi setiap muslim, sebab untuk meraih derajat itu dibutuhkan perjuangan yang sangat berat. Maka pantaslah jikalau Ramadhan juga disebut sebagai syahrul jihad. Bahwa Ramadhan adalah bulan disaat kaum muslimin memiliki gairah besar untuk berjihad menegakkan agama Allah, bukan bulan yang memperlemah umat Islam dalam hari-hari yang penuh kelesuan.                                                                                                                                                   Maka peristiwa heroik para pejuang bangsa didalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, menjadi inspirasi utama didalam upaya mngisi kemerdekaan ini dengan pembangunan disegala bidang. Tentu saja kesemuanya ini dapat kita hitung sebagai upaya berjihad. Bahkan sejarah umat telah berbicara, perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadhan, kaum muslimin menunai kemenangan gemilang, 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap. Kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan. Dan kemenangan jihad ini terjadi pada bulan Ramadhan. Meskipun kemudian peristiwa perang Badar ini oleh Nabi dinilai sebagai peperangan yang kecil, Sebab senyatanya, menurut Nabi kita selalu dihadapkan dengan peperangan yang lebih besar, yakni jihadun nafs.                                                                                                                                                                  Meski demikian adanya, namun enam tahun kemudian terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan mempesona, ada penaklukan paling indah dalam sejarah umat manusia yakni peristiwa fathul mekkah. Penaklukan tanpa korban jiwa. Kemenangan besar tanpa tetesan darah. Sepuluh ribu pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah memasuki Makkah dengan tenang, menang tanpa perlawanan. Bukan hanya kemenangan fisik yang membuat pasukan Makkah tidak berani memberontak, tetapi juga kemenangan jiwa, sehingga keimanan masuk ke jiwa-jiwa mayoritas penduduk Makkah, menggantikan seluruh kekufuran dan permusuhan mereka. Maka, tidak ada satupun yang membela saat 360-an berhala di sekeliling Ka’bah dihancurkan. Tidak ada yang meratapi atau melakukan demonstrasi saat berhala-berhala itu dilenyapkan. Sebab, sesaatlum dilenyapkan dari Masjidil Haram, Allah telah melenyapkan dari hati mereka. Inilah jihad dan kemenangan besar yang juga terjadi di bulan Ramadhan. 
                                                                                                                                                           Jika Ramadhan telah mmenjadi bulan jihad, maka mari kita berdiri untuk memandangi wajah negeri kita. Sudahkah ia merdeka secara hakiki. Dan sudahkah kita mendapatkan kemerdekaan hakiki sebagai umat Islam Indonesia ?. Bila jawabnya belum, maka senyatanya kita harus tetap berjuang menegakkan syariat Islam, agar dapat dilaksanakan dengan baik dan benar oleh umat Islam. Perjuangan itu tiada henti kita lakukan, sebab “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa” (QS.Al-Hujurat:13). Maka kemerdekaan yang utama bagi umat Islam adalah kemerdekaan dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah “kemerdekaan aqidah”, Kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan mengharap hanya kepada Allah. Bertauhid dengan benar. Sehingga seseorang mukmin tidak lagi memiliki kekhawatiran dan ketakutan melaksanakan ibadah, sesuai dengan syariat islam. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman, (QS.Ali Imran:139). Sebab kemerdekaan ber-akidah ini membawa implikasi yang sangat besar pada kemerdekaan menjalankan syariat Islam, agar Islam dapat dijalankan secara kaffah.
Kemerdekaan hakiki juga berarti seseorang merdeka untuk memperbanyak kebaikan, tidak ada halangan seseorang untuk melaksanakan yang makruf dan meninggalkan yang mungkar. Sekarang ini,  saatnya kita mendapatkan semuanya, di bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan Allah SWT, di bulan Agustus disaat kita juga memperingati kembali HUT RI dan di akhir bulan Agustus ini pula kita akan mengakhiri ibadah Ramadhan dengan ber-Idul Fitri. Umat Islam mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk kembali kepada fitrahnya, kembali kepada kemerdekaan hakiki. Banyak yang dapat kita perbuat untuk meraih kemerdekaan hakiki, sebab QS An Nisa’: 97 telah memberikan ibrah kepada kita mengenai orang yang berdiam diri dalam keterjajahan, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:”Dalam keadaan bagaimana kamu ini?. Mereka menjawab:”Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para Malaikat berkata:”Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu “. Orang-orang itu tempatnya neraka jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.                                                                                                                                                      Sebab senyatanya, ada diantara umat Islam yang  ketika mengetahui kemungkaran dia tidak “mampu” untuk mencegahnya. Namun ketika didalam Islam terlihat menguntungkan, beramai-ramai berteriak “kembali kepada Islam”. Ini artinya, kita tidak boleh berdiam diri dalam kelemahan, tidak boleh menyerah dalam kondisi yang tidak ideal sekalipun. Kita tetap berupaya sekuat kemampuan, untuk sama-sama meneriakkan “Islam itu indah kawan”. Sekecil apapun peran kita, itulah sumbang sih terbesar, “Barang siapa mengetahu ada kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganmu, apabila tidak mampu, maka rubahlah dengan lesanmu, dan apabila itu juga tidak mampu, maka rubahlah dengan hatimu, meski jalan itu adalah pertanda selemah-lemah iman ( upaya)”. Maka bula Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk bangkit. Bangkit dalam beraqidah yang benar, bangkit dalam menjalankan syariat Islam. Bangkit untuk menunjukkan peran dan semua potensi kita. Bahkan  kita harus siap, dengan identitas kita mencapai kemerdekaan hakiki. Mencapai kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam.