Minggu, 14 September 2014

GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK MENDAPATKAN SYAFA'AT NABI MUHAMMAD SAW




GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK MENDAPATKAN SYAFA’AT
NABI MUHAMMAD SAW
Cat. : Anis Purwanto

1.      Orang-orang yang kafir : yaitu orang yang engkar kepada Allah SWT.
وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَآ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ
 “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka”. (QS. Al-Maidah : 10 ).

2.      Orang murtad : yaitu orang yang  keluar dari agama Islam.
وَلَا يَزَالُونَ يُقَـٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِڪُمۡ إِنِ ٱسۡتَطَـٰعُواْ‌ۚ وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ ڪَافِرٌ۬ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيهَا خَـٰلِدُونَ
“Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barang siapa murtad diantara kamu dari agamanya, lalau ia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”. (QS. Al-Baqarah : 217). 

3.       Orang yang musyrik : yaitu orang yang menyekutukan Allah SWT.
مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَـٰجِدَ ٱللَّهِ شَـٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ وَفِى ٱلنَّارِ هُمۡ خَـٰلِدُونَ
 “Tidaklah pantas orang-orang musyrik memakmurkan masjid Allah, padahal mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Mereka itu sia-sia amalnya, dan mereka kekal di dalam neraka”. (QS At-Taubah : 17).

4.      Pemakan barang riba.
ٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ‌ۚ ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْ‌ۚ فَمَن جَآءَهُ ۥ مَوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُ ۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُ ۥۤ إِلَى ٱللَّهِ‌ۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُون
“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu ia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS Al-Baqarah : 275).

5.      Penentang Allah dan rasul-Nya.
وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ ۥ يُدۡخِلۡهُ نَارًا خَـٰلِدً۬ا فِيهَا وَلَهُ ۥ عَذَابٌ۬ مُّهِينٌ۬
“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan”. (QS An-Nisa’ :14).

6.      Golongan orang yang munafik.
ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ بَعۡضُهُم مِّنۢ بَعۡضٍ۬‌ۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمُنڪَرِ وَيَنۡہَوۡنَ عَنِ ٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَقۡبِضُونَ أَيۡدِيَہُمۡ‌ۚ نَسُواْ ٱللَّهَ فَنَسِيَہُمۡ‌ۗ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik”. (QS At-Taubah : 67).
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتِ وَٱلۡكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيہَا‌ۚ هِىَ حَسۡبُهُمۡ‌ۚ وَلَعَنَهُمُ ٱللَّهُ‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ۬ مُّقِيمٌ۬
“Allah menjanjikan (mengancam) orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah (neraka) itu bagi mereka. Allah melaknat mereka; dan mereka mendapat azab yang kekal”. (QS At-Taubah : 68).

7.      Golongan orang yang zalim.
ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُواْ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا بِمَا كُنتُمۡ تَكۡسِبُونَ
“Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim itu, “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal. Kamu tidak diberi balasan, melainkan (sesuai) dengan apa yang telah kamu lakukan”. . (QS Yunus :52).

Jumat, 01 Agustus 2014

EMPAT GOLONGAN MANUSIA



EMPAT GOLONGAN MANUSIA
Catatan : Anis Purwanto

1.      “Sa’idun fi dun ya, wa saqiyun fil akhirah” : Manusia di dunia bahagia di akhirat sengsara.

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَہَا نُوَفِّ إِلَيۡہِمۡ أَعۡمَـٰلَهُمۡ فِيہَا وَهُمۡ فِيہَا لَا يُبۡخَسُونَ (١٥) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ‌ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيہَا وَبَـٰطِلٌ۬ مَّا ڪَانُواْ يَعۡمَلُونَ
 “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Hud : 15-16).

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (٣٤) وَقَالُواْ نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ (٣٥) قُلۡ إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Dan mereka berkata, "Harta dan anak- anak kami lebih banyak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab”.Katakanlah: "Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya). Akan tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui" ( QS. Saba’ : 34-36 ).        

2.      “Saqiyun fi dun ya, wa sa’idun fil akhirah” : Manusia di dunia sengsara di akhirat bahagia.

وَمَا هَـٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٌ۬ وَلَعِبٌ۬‌ۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ لَهِىَ ٱلۡحَيَوَانُ‌ۚ لَوۡ ڪَانُواْ يَعۡلَمُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui ( QS. Al-‘Ankabût : 64 ).

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)

3.      “Saqiyun fi dun ya wa saqiyun fil akhirah” : Manusia di dunia sengsara di akhirat tambah sengsara.

فَأَذَاقَهُمُ ٱللَّهُ ٱلۡخِزۡىَ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأَخِرَةِ أَكۡبَرُ‌ۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ
 “Maka Allah menimpakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sungguh, azab akhirat lebih besar, kalau (saja) mereka mengetahui”. ( QS. Az Zumar : 26 ).

4.      “Sa’idun fi dun ya wa sa’idun fil akhirat”. : Manusia yang bahagia di dunia dan di akhirat.

وَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ (٢٠١) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ نَصِيبٌ۬ مِّمَّا كَسَبُواْ‌ۚ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ (٢٠٢)  
Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a, "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan peliharalah kami dari siksa neraka". Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya. ( QS. Al-Baqarah : 201-202 )



Kamis, 31 Juli 2014

KHUTBAH JUM'AT BAHASA JAWA : SAKSAMPUNIPUN SIYAM RAMADHAN 1435 H/2014 M.



KHUTBAH JUM’AT
 SAKSAMPUNIPUN SIYAM RAMADHAN 1435 H/2014 M
Dening: ANIS PURWANTO

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Wonten ing kesempatan Jum’at siyang sapunika, sumangga kita aturaken puja puji syukur ing ngarsa dalem Allah SWT, awit ngantos ing detik punika Alhamdulillah kanthi karunianipun Allah SWT, kita taksih kabimbing iman lan Islam sarta kesadaran kagem nindakaken kewajiban ibadah Jumat ing siyang punika. Kita nyuwun dhumateng Allah SWT mugi-mugi ibadah kita saget katampi dening Allah SWT. Sehingga kita manggih kawilujengan ing donya dumugi ing akhirat, amin ya rabbal ‘alamin. Mugia shalawat lan salam atur dumateng junjungan kita Nabi  agung Muhammad SAW, sahabat lan sedaya penderekipun, kalebet kita sedaya. Amin.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Dinten punika dinten Jum’at ingkang sepindhah wonten ing wulan Syawal 1435 H. Alhamdulillah, kita temtu syukur sanget dhumateng Al;lah SWT dene akhiripun kita saged ngrampungaken ibadah wonten ing wulan Ramadhan. Namung  saksampunipun kita nindakaken siyam Ramadhan, kita taksih dipun engetaken Allah SWT kanthi piwucal-piwucal suci ingkang kadas dipun wucalaken Allah wanten ing Al-Qur’an Surat Alam Nasyrah ayat 5-8 :

َإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا (٥) إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرً۬ا (٦) فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ (٧) وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب (٨) 
“Mangka satemene kelawan samubarang kang angel iku dumunung perkara kang gampang. Mula menawa wus rampung ngayahi sawijining perkara, padha gegancangana sira nyandhak panggawehan liyane, lan ya mung marang Pangeranira bae sira supaya nduweni pangarep-arep”.
            Ayat punika paring pitedah, ingkang supados kita tansah anggadhahi niat kangge ningkataken kualitasipun ing sedaya perkawis.  Punapa kemawon ingkang dereng sae, kedah dipun usadani murih dadas langkung sae. Wondene ingkang mila sampun sae, kedah dipun tingkataken malih kesaenanipun. Pramila kanthi fa idza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab punika, wiwit wulan syawal sapunika ngantos dumugi ing wulan-wulan saterusipun mbenjang, kesaenanipun wulan Ramadhan kepengker kedah kita dadosaken modhal kangge ngayahi tuwin ningkataken kesaenan.
            Syawal tegesipun peningkatan. Mila wiwit wulan syawal punika, mesthinipun kita lajeng sami gumregah ngindhak-indhakaken kelas, tumuju kesempurnaan ing sedayanipun. Pramila mendhet piwucal Ramadhan ingkang ugi saget dipun maknani nahan utawi ngempet. Ingkang punika saget kita pendhet maknanipun bilih nahan utawi ngempet punika mila kedah kita ugemi kanthi saestu. Ngempet saking sifat boros, nuju dateng sifat gemi lan satiti. Ngempet saking sifat keset, nuju dhateng gita-gita ngayahi sadhengahipun ayahan ingkang utami, langkung-langkung gegancangan ing babagan ngayahi sedaya pangibadahan. Ngempet saking samukawis lampah maksiyat, nuju dhateng taat lan ngestokaken punapa kemawon ingkang dipun dhawuhaken dening Allah lan Rasulipun.
            Ewondene kados punapa penting saha wigatosipun wucalan nahan punika, kita saget pirsani piyambak kados pundi piwucal ing tengah-tengahipun masyarakat. Kathah ing antawisipun kita ingkang dereng saget ngempet dumateng sedaya perkawis kadas ing nginggil. Sahingga kathah ing antawisipun kita ingkang nandang kapitunan ing sedayanipun,  sahingga andadosaken icalipun sedaya kesempatan kangge nindakaken ibadah lan nindakaken sedaya kesaenan. Kesenenganipun raga dipun ujo, remenipun ngumbar hawa nepsu, wondene kebetahan manah utawi ruhani jer asring dipun lirwakaken.
            Sedaya punika inggih kadereng saking anggenipun sami mboten saget ngempet utawi nahan datheng pikajengan saha kesengsem dhumateng kesenengan raga lan hawa  nepsu.  Sumangga kita gatosaken pangandikanipun Allah SWT, wanten ing Al-Qur’an Surat Al Jatsiyah ayat 23 :
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٍ۬ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةً۬ فَمَن يَہۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِ‌ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
 “Mula apa sira durung tau weruh kang ndadekake hawa nefsune minangka pangerane lan Allah banjur nyasarake dheweke krana ilmune, sarta ngunci pati kupinge lan atine, lan banjur ndadekake tutup ana ing pandelenge ? Mula ya sapa to kang bisa paring pituduh sawise Allah ngenengake dheweke ana ing kahanan sasar ? Mula apa sira kabeh ora padha gelem eling ?”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Kita nembe kemawon medal saking wulan Ramadhan. Lan Idul Fitri sampun kita pahargya sesarengan. Kalih-kalihipun, pengalaman ibadah siyam lan panghargyan 1 syawal, jelas mujudaken satunggal rerangkeaning pengibadahan dumateng Allah SWT. Tanpa pengalamansiyam ing wulan Ramadhan, kegembiraan Idul Fitri mboten badhe kaparingaken. Tanpa wonten perjuangan, mboten badhe wonten kemenangan ingkang saged kita gayuh. Lan kemenangan punika piyambak, nembe saged nembe saged dipun gayuh saksampunipun kita berjuang kanthi ngetog kekiyatan, lan ngorbanaken sedaya pepinginan. Pramila saking punika Ramadhan ingkang minangka satunggalipun perjuangan lan raos syukur atas dhatengipun Idul Fitri saged dipun anggep minangka lambangipun kamardikan jiwa saking godaan hawa nefsu.
            Ibadah siyam saestu mengku tujuan lan hikmah ingkang paripurna, nggembleng jiwa raga lan kepribaden dados kiyat lan luhur, sarta siap ngadhepi sedaya masalah. Medal saking Ramadhan dipun sanepakaken kados dene prajurit ingkang nembe wangsung saking peperangan, kanthi mbekta kemenangan sejati. Ugi kados dene bayi ingkang nembe lahir saking guwo garbo ibunipun, suci saking sedara kalepatan.
           
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Pramila saking punika sumangga piwucal Ramdhan saha Idul Fitri kita dadosaken tunggak awal kangge gegancangan nindakaken sedaya kesaenan saha kautamen. Sekedik atur punika sengaja kita tengenaken awit taksih wanten ing antawisipun umat Islam ingkang dereng nengenaken sifat gita-gita kangge nindakaken babagan kesaenan, kita taksih kesengsem dumateng keremenan kadonyan, mboten setimbang kaliyan kawigatosan dhateng babagan keakhiratan. Mugia kanthi kesadaran tuwin kawidatosan kita ingkang setimbang ing babagan kadonyan saha keakhiratan, kita tansah pikantuk siramanipun rahmat, taufiq saha hidayahipun Allah SWT. Wilujeng ing donya saha ing akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.






Kamis, 24 Juli 2014

KHUTBAH JUM'AT : MENGAKHIRI PUASA RAMADHAN 1435 H/2014 M DENGAN IMAN DAN TAQWA



KHUTBAH JUM’AT
 MENGAKHIRI PUASA RAMADHAN 1435 H/2014 M DENGAN IMAN DAN TAQWA
Oleh : ANIS PURWANTO

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Segala puji atas limpahan karunia Allah SWT yang tak pernah habis-habisnya kita rasakan dan nikmati. Sebagai ungkapan rasa syukur kita,  marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa, menjadikan setiap gerak dan langkah kita mencari keridhoaan Allah semata.  Shalawat dan salam kepada baginda Rasulullah SAW, teladan umat semesta, panutan dalam merealisasikan ketaqwaan dalam kehidupan nyata, dalam bermasyarakat dan bernegara.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Perputaran hari ternyata bergerak begitu cepat, bahkan terasa lebih cepat dari pada kilat, hari-hari dimana kita memiliki kesempatan untuk mengisinya dengan ketaatan kepada Allah SWT,. ternyata Ramadhan ini tinggal beberapa hari lagi, insya Allah Senin depan kita sudah memasuki Idul Fitri 1 syawal 1435 H. Namun kita masih terasa banyak berkubang dengan rutinitas pribadi yang ujungnya hanya berorientasi pada kepentingan duniawiyah. Malah terkadang kita begitu gampang terlena dengan madu-madu kenikmatan duniawi, kita juga mudah lupa bahwa sebenarnya sekarang ini kita berada dalam sebuah perjuangan yang sangat berat, yakni upaya meningkatkan kualitas ibadah guna menggapai predikat muslim sejati. Bahkan jiwa kitapun terkadang masih belum bisa merasakan nikmatnya Ramadhan, belum bisa merasakan kegembiraan Ramadhan. Pertanyaan kita adalah sudahkah dengan Ramadhan ini kita telah mendapat apa yang seperti Allah SWT kehendaki ?
            Untuk itu marilah kita coba merenungi sabda Rasulullah SAW :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan dengan mengharap pahala, maka dosa-dosa sebelumnya akan diampuni”
           
            Inilah titik awal yang diperingatkan oleh Rasulullah kepada kita, beliau telah meletakkan dasar yang paling penting, yang menjadi koidah untuk setiap amalan yang kita lakukan, sebab setiap amalan itu dengan niatnya, dan setiap yang didapati orang muslim sesuai dengan apa yang diniatkan.
           
            Bulan Ramadhan dengan segala kebaikan didalamnya alhamdulillah masih bersama kita, meskipun dalam kenyataannya Ramadhan ini terasa begitu cepat berakhir. Karenanya sebelum Ramadhan benar-benar berakhir, keistimewaaan bulan ini mari kita raih dengan penuh kesadaran akan dahsyatnya nilai yang terkandung dalam ibadah puasa. Sebab banyak dari kita yang bertanya, kenapa setelah masuk bulan Ramadhan dan setelah keluarnya dari Ramadhan, kondisi kami biasa-biasa saja, iman kami sama dengan sebelum mengerjakan puasa Ramadhan. Padahal dengan jelas Allah berfirman :

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Setelah melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan, maka tugas seorang mukmin yang paling berat adalah memelihara dan melestarikan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah puasa selesai nampaknya kita harus tetap puasa. Sebab tugas memelihara ini justru lebih berat ketimbang melaksanakan perintah puasa itu sendiri. Sebab selama bulan suci Ramadhan, ada banyak faktor pendukung yang sangat menguntungkan, sehingga kita kuat menghadapi godaaan dan ujian iman. Karena seluruh kaum muslimin serentak melaksanakan ibadah puasa, taraweh rame-reme, tadarus bersama, begitu pula lingkungan sekitar kita, ikut menghormati bulan suci Ramadhan, misalnya warung makan tidak semata-mata buka di siang hari, dan lain-lain, bahkan seluruh tayangan TV  sangat sarat dengan muatan dakwah, berbagai paket acara yang bernuansa Ramadhan pun disajikan. Seakan tiada hari tanpa dakwah. Sehingga selama Ramadhan kita merasakan suasana yang sangat Islami, jauh dari aroma mungkarot yang kerap mewarnai kehidupan kita.
            Selama Ramadhan dorongan hawa nafsu kita pasung, irama dzikir selalu mengiringi langkah kita, kemanapun kaki melangkah akan kita temukan nuansa Ramadhan yang sangat semarak, anak-anak bermain riang menanti saat berbuka puasa. Telinga kita tak hentinya selalu diperdengarkan  lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mulut kita tak hentinya mengagungkan asma Allah, kita sucikan asma Allah. Seakan kita dalam belaian mesra tangan Allah, tidur kitapun  akan nyenyak bersama mimpi akan keindahan dan kenikmatan surgawi.

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Sayangnya situasi itu hanya terjadi dibulan Ramadhan, setelah Ramadhan usai, semuanya kembali kepada posisinya masing-masing. Seakan tidak pernah dilalui Ramadhan. Ibadah puasa dan qiyamul lail tidak nampakkan bekasnya. Sehingga benarlah sinyalemen Rasulullah SAW bahwa : “Sesungguhnya kita baru pulang dari perang kecil menuju perang yang lebih sahsyat, yaitu perang melawan hawa nafsu”, menjadi kenyataan.
            Kita memang masih harus puasa lagi setelah puasa usai. Buah nilai puasa yang satu bulan sebetulnya sudah mampu mewarnai corak kehidupan  kita selanjutnya. Dengan catatan puasa yang kita lakukan itu puasa yang “imanan wah tisyaban” dan “ghufirollahu mataqodam min dambih”. Sebab ada bayak model puasa yang juga banyak dilakukan, dimana dia melaksanakan puasa akan tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan haus. Kasihan tentunya orang yang model puasanya seperti ini, laksana orang yang jatuh ketimpa tangga.
            Oleh karenanya, dalam rangka memelihara dan melestarikan nilai-nilai Ramadhan dalam mencapai predikat mukmin sejati, ada baiknya selalu kita sandarkan harapan itu kepada Allah SWT. Kita yakin seyakin-yakinnnya, bahwa puasa kita akan membawa hikmah, buah dari Ramadhan akan kita rasakan, tidak hanya nanti di akhirat, akan tetapi pengaruh yang positif itu bisa kita rasakan di dunia. Irama peribadatan kita seyogyanya juga semakin indah dan mempesona menurut pandangan Allah. Bila hal itu kita laksanakan secara rutin dan berkesinambungan sampai datangan bulan Ramadhan berikutnya, insya Allah buah dari ibadah kita akan memberikan pengaruh yang positip terhadap jiwa dan kepribadian kita sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa.
            Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga ibadah puasa yang kita lakukan pada tahun ini dapat diterima oleh Allah SWT, amin ya rabbal ‘alamin.