Kamis, 10 April 2014

KHUTBAH JUM’AT : MEMILIH WAKIL RAKYAT YANG ISLAMI



KHUTBAH JUM’AT
MEMILIH WAKIL RAKYAT YANG ISLAMI
Ed. : ANIS PURWANTO

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Sebuah dinamika kehidupan hanya dapat kita nilai manakala kita mau merenungkan langkah-langkah kita dimasa lalu dan kemudian memikirkan apa langkah kita dimasa-masa yang akan datang. Maka alangkah baiknya pada kesempatan mulia ini kita merenung dan menghitung diri kemudian berusaha untuk terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, melaksanakan segala perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, sehingga kualitas kehidupan kita di masa datang akan lebih baik dari masa lalu. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada baginda Rasulullah SAW, teladan umat semesta, panutan dalam merealisasikan ketaqwaan dalam kehidupan nyata, dalam bermasyarakat dan bernegara.
Disinilah  sebenarnya letak hakekat taqwa yang merupakan kunci sukses bagi seorang hamba Allah untuk mendapatkan tempat tertinggi disisiNya. Semoga kita termasuk diantara hamba-hamba Allah yang muttaqin.
Kaum Muslimin Rakhimakumullah.
            Sebagai agama yang menurut Allah menjadi “rahmatan lil ‘alamin, atau rahmat bagi alam semesta, Islam memiliki ajaran yang sempurna dimana ia tidak hanya mengatur hubungan ubudiyah semata, tetapi ia juga mengatur hubungan muamalah.
            Kebahagiaan hidup sejati hanya dapat diperoleh manusia manakala ia mampu menjaga kedua jenis hubungan ini. Dalam hal ini Allah telah berfirman :
ضُرِبَتۡ عَلَيۡہِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱلنَّاسِ
 “Mereka akan ditimpa kehinaan hidup dimanapun mereka berada, kecuali mereka mampu menjaga hubungan baik dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia”. (QS Ali Imran : 112).
            Dalam konteks ini tidak berarti bahwa ubudiyah harus diletakkan dalam posisi berlawanan dengan muamalah seperti yang terjadi di negara-negara sekuler, tetapi keduanya harus berjalan serasi dan seimbang dalam sebuah kesatuan langkah. Artinya, sejauh apapun polarisasi dan dinamisasi kegiatan muamalah kita, kita harus tetap berada dalam lingkaran ubudiyah kepada Allah, sehingga selonggar apapun pengawasan manusia terhadap aspek-aspek sosial kita, kita tetap berada pada rel kebenaran, sebab kita merasa bahwa mata Allah tidak pernah tidur dan berpaling dari kita sedikitpun.
            Prinsip ini harus menjiwai setiap elemen bangsa kita, termasuk para pemimpin kita, baik dalam level nasional ataupun regional sekalipun.  Dan al hamdulillah kita telah mengadakan Pemilu Legeslataif, yang memilih wakil-wakil kita yang duduk di parlemen, kemarin Rabu Pon tanggal 9 April 2014.  Namun disini kita tidak akan menghitung siapa yang menang, siapa yang unggul atas siapa, tetapi lebih kepada melihat kembali bahwa event pemilu kemarin seharusnya kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk memilih wakil kita,  yang mestinya setiap tindak langkahnya selalu dijiwai oleh semangat niat ubudiyah kepada Allah SWT. Dan sebagai masyarakat awam, kita menganggap wakil kita diparlemen itu juga sebagai pemimpin kita, yang akan memberikan arah perjalanan bangsa dan negara pada jenjang lima tahun kedepan. Pemimpin semacam ini dalam Islam diberi lebel dengan sebutan “al imaamul aadilu” atau imam yang adil.
            Kata kunci dari pemimpin ideal menurut Islam adalah “Adil”. Maka pemimpin yang adil adalah pemimpin yang mampu memandang setiap permasalahan dari berbagai sudut yang tepat, mampu berpikir secara obyektif rasional dan mampu meletakkan setiap permasalahan bangsa secara proposional.
            Untuk menjadi seorang yang yang bertitel wakil rakyat tentu harus memiliki berbagai persyaratan yang tidak mudah. Kepintaran saja tidak cukup untuk menjadi bekal bagi seorang anggota dewan, sebab bisa jadi karena kepintaran yang tidak dilandasi keimanan yang cukup lantas ia menjadi apa yang disebut dalam bahasa jawa “minteri” orang-orang yang berada di bawahnya.
            Dalam Islam seorang pemimpin harus memiliki ciri-ciri khusus antara lain yang pertama adalah jujur. Dan yang kedua adalah amanah. Sebagaimana Firman Allah dalam QS An Nisa’ :58 :
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَـٰنَـٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا
 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”.
            Bagi seorang anggota dewan, apa yang menjadi harapan dari rakyat yang memilihnya adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan, sehingga setiap kebijakan yang keluar dari pikirannya harus berpihak kepada kepentingan rakyat yang telah memilihnya, bukan sebaliknya dimana kedudukan yang diraihnya hanya digunakan untuk mencari sebesar-besar kepentingan pribadinya.
            Ciri berikutnya adalah cerdas,  atau fatonah yang juga merupakan salah satu sifat Nabi SAW. Cerdas disini tidak bisa hanya diartikan “pintar” saja sebab pintar saja tidak cukup bagi seorang anggota dewan, tetapi cerdas merupakan gabungan antara “kepintaran” dan “kebijaksanaan”, sehingga setiap gagasan yang cerdas akan mampu mengatasi setiap permasalahan secara proposional.
Jamaah Jumah Rakhimakumullah.
            Demokratis adalah merupakan ciri berikutnya. Disamping itu seorang anggota dewan juga harus mempunyai ciri bertanggung jawab atas apa yang diembannya. Dalam istilah sekarang sering kita dengar kata-kata public accaountability, atau sering disebut juga akuntabilitas publik, dimana seorang harus mampu mempertanggungjawabkan hasil kepemimpinannya pada masyarakat umum. Dalam konsep Islam permintaan pertanggungjawaban tidak hanya dilakukan dalam kehidupan di dunia saja tetapi di akhirat kelak, seorang wakil rakyat juga harus mempertanggungjawabkan perwakilannya di hadapan Allah SWT.
Hadirin Jamaah Jum’ah Rakhimakumullah.
            Mendasar ciri-ciri diatas, insya Allah berbagai bentuk krisis dan berbagai bentuk persoalan yang dihadapi bangsa ini akan dapat kita atasi. Oleh karenanya, siapapun yang menjadi wakil kita yang duduk sebagai anggota dewan nanti, merupakan  pemimpin masa depan, yang nanti akan kita serahi kemudi kapal bangsa dan negara ini. Semoga siapapun pilihan kita di pemilu kemarin adalah merupakan pilihan terbaik. Sehingga kita tidak menyerahkan kemudi kapal kita kepada nahkoda yang yang keliru, yang tidak mampu membawa kapal kita menuju arah dan tujuan yang benar.  Tetapi sebaliknya malah membawa kapal kita menuju ombak yang lebih besar yang akan menghancurkan kapal kita, sehingga kita akan tenggelam bersamanaya. Bila demikian kejadiannya, maka kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran yang kita idam-idamkan hanyalah akan menjadi mimpi di siang bolong. Marilah kita ingat sebuah sabda Rasulullah : “Apabila sebuah permasalahan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”.
            Mengakhiri khubah kali ini, marilah kita berdo’a kepada Allah SWT, semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita sekalian. Semoga Pemilu kemarin dapat menghasilkan wakil-wakil kita yang  mampu membawa negara yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofuur. Amin ya rabbal ‘alamin.

Selasa, 04 Maret 2014

TAHAPAN DIHARAMKAN KHAMER



TAHAPAN DIHARAMKAN KHAMER
Catatan : Anis Purwanto
1.      Belum diharamkan.

رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡہُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيہِمۡ‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

“Mereka menanyakan kepadamu (muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah,”Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya”. Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, “kelebihan (dari apa yang diperlukan)“.  Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan”. ( QS. Al-Baqarah : 219 ).

2.      Larangan minum khamer bagi yang akan melaksanakan shalat.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ

“Wahai manusia yang beriman ! Janganlah kamu mendekati salat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan”. ( QS. An-Nisa’ : 43 ).

3.      Pengharaman minum khamer.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَـٰمُ رِجۡسٌ۬ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَـٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ
           
“Wahai orang-orang yang beriman ! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung”. (QS. Al-Maidah : 90 ).

USAHA MENINGKATKAN IMAN



USAHA MENINGKATKAN IMAN
Catatan : Anis Purwanto*


إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَـٰهَدُواْ بِأَمۡوَٲلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” . ( QS. Al-Hujurat:15 ).

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَـٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡڪِتَـٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُ‌ۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman ! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian , maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh” . ( QS. An-Nisa’:136 ).

Penjelasan :
-          Setelah tertanam iman lalu timbul kewajiban untuk melaksanakan perintah kebajikan, menjalankan dan menjaga agama.
-          Berdasarkan hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah iman meliputi 69 cabang yang meliputi aqidah, ahkam (hukum) dan ahklaqul karimah, yakni sifat dan sikap seseorang dalam hidupnya yang lebih baik dalam menjalin hubungan dengan kholiknya, dan dengan sesama manusia bahkan dengan lingkungannya.
-          Meningkatkan iman berarti meningkatkan keyakinan dan pengamalan terhadap perintah Allah, serta meningkatkan usaha kita menguasai diri hingga dapat menampilkan diri yang lebih baik di hadapan Allah dan di tengah-tengah masyarakat.

Rukun iman :
“Percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul, Hari akhir dan qodar (kepastian baik/buruk)”.

·         ( Disarikan dari berbagai sumber ).

Minggu, 02 Maret 2014

KHUTBAH JUM'AT BAHASA JAWA : JANJINIPUN ALLAH SWT



KHUTBAH JUM’AT
JANJINIPUN ALLAH SWT
Dipun  cathet Dening : ANIS PURWANTO


Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Kegem pambukaning khutbah, sumangga kita aturaken puja puji syukur ing ngarsa dalem Allah SWT, ingkang sampun paring rahmat saha hidayah dhumateng kita sedaya, sahingga wanten ing siyang punika kita sedaya saget nindakaken dawuhipun, kanthi ihklas karana Allah. Mugi-mugia kita saget manggih kawilujengan ing donya dalah ing akhirat. Shalawat saha salam kita aturaken dhumateng junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Saksampunipun cekap anggen kita nindakaken sedaya amal sholeh, mestinipun lajeng kita pitaken punapa sejatosipun ingkang badhe dipun paringaken dening Allah  dhumateng kita. Sumangga kita sami mriksani janjinipun Allah, akados ingkang sampun kaaturaken wanten ing Surat An Nur ayat 55 :
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ ڪَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَہُمُ ٱلَّذِى ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّہُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنً۬ا‌ۚ يَعۡبُدُونَنِى لَا يُشۡرِكُونَ بِى شَيۡـًٔ۬ا‌ۚ وَمَن ڪَفَرَ بَعۡدَ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ
 “Allah wus njanjeake marang wong-wong mukmin ing antarane siro kabeh, kang padha nindakake amal shalih, janji yen satemene Allah mesthi bakal paring panguwasa marang wong-wong mau ana lumahing bumi, kaya dene Allah uga wus nate paring panguwasa marang wong-wong biyen sadurunge wong-wong mau. Lan temen-temen Panjenengane Allah arep neguhake kanggo wong-wong mau yaiku agama kang diridhoi dening Allah, yaiku agama Islam. lan panjenengane Allah nyata-nyata arep ngganti kahanan wong-wong mau, sawise wong-wong mau ana sajrone rasa kuwatir lan wedi, diganti kanthi kahanan aman. Wong-wong mukmin kang dijanjeni dening llah mangkono iku yaiku kang padha nyembah (ngibadah) marang Panjenenganingsun, kang ora nyekuthokake marang ingsung karo sapa bae utawa apa bae. Lan sing sapa wonge engkar sawise iku, wong kang mangkono iku yaiku wong-wong fasik”.
            Saking ayat punika kita saget mendhet piwucal,bilih Allah sampun njanjekaken dhateng tiyang mukmin ingkang nindakaken amal shalih, ingkang ngibadah dhumateng Allah, kanthi mboten nyekuthokaken Allah. Tiyang mukmin ingkang kados makaten punika dipun janjeni badhe kaparingan panguwaos, agamanipun dipun teguhaken, dipun kiyataken, sahingga dados agami ingkang dipun ridhoi , piyambakipun badhe dipun paringi uwal saking raos kuwatos lan ajrih, dipun gantos kanthi kawontenan ingkang tentrem, ayem lan mantep imanipun.
            Selajengipun para sederek , sumangga kita lajeng nyuwun prikso dhumateng kita piyambk-piyambak, punapa kita sampun kalebet golonganipun tiyang ingkang mukmin, ingkang sampun dipun janjekaken dening Allah. Liripun, punapa iman kita punika sampun estu-estu iman ingkang lares. Punapa kita sampun estu-estu amal shalih punapa dereng . punapa kita punika sampun saestu ngibadah dhumateng Allah SWT punapa dereng. Manawi jawabanipun sampun, mesthinipun janjinipun Allah temtu dados kasunyatan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Nurut ayat 55 surat An-Nur ing nginggil wanten kalihjanji Allah ingkang sajak penting kita tengenaken minangka kawulanipun Allah, inggih punika 1. Bakal diparingi panguwaos ing lumahing bumi. 2. Agami ingkang saya kiyat kalenggahanipun lan kang kaping. 3. yaitu kaparingan raos aman, ingkang ateges bebas saking sawarnining raos ajrih lan kuwatos.
Sebab agami Islam badhe saya kiyat lan saya majeng, manawi pengamalanipun Islam punika persis kados punapa ingkang sampun dipun aturaken ing nginggil, inggih punika kanthi iman, nindakaken amal shalih. Selajengipun ugi badhe dipun paringi uwal saking sedaya reribet, inggih punika ingkang awujud keamanan lan ketentreman. Tegesipun tiyang ingkang beramal shalih lan nindaken ibadah tanpa dipun campuri raos syirik, dipun jamin kaparingan raos aman lan tentrem. Sedaya punika temtu kemawon akibat saking aqidah islam ingkang kiyat lan leres, sarta minangka wohipun pangibadahan ingkang namung dhumateng Allah SWT.
Jaminan Allah ingkang masthi paring ketentreman lan kemanan dhateng tiyang ingkang iman punika ugi selaras kaliyan ayat 13 surat al Ahqaf ingkang nyebat makaten :
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
 “Satemene wong-wong kang ngucap : Pangeraningsung iku Allah, sawuse ngucap mangkono wong-wong mau banjur istiqomah, wong kang mangkono iku ora bakal ketaman rasa kuwatir utwa rasa wedi lan wong-wong mau ora bakal susah”.
            Makaten para sederek  janjinipun Allah ingkang badhe kaparingaken dhumateng kita ingkang iman lan nindakaken amal shalih, kanthi istiqomah, inggih punika tiyang ingkang kiyat sanget anggenipun cecepengan dhumateng aqidahipun, dhumateng agaminipun Islam. Mugi-mugi Allah tansah wontena keparengipun paring pangreksa dhateng kita sedaya saking sadhengah musibah lan pasiksanipun Allah. Lan mugi-mugi tansah pikantuk rahmat saha pangayomanipun Allah, amin ya rabbal ‘alamin.