Senin, 17 Oktober 2016

Keluarga Tiang Negara



Keluarga Tiang Negara
Oleh :  Anis Purwanto
               
Saudara hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT, kajian kita dalam telaah agama ini adalah keluarga tiang Negara, yang insya Allah kajian kita akan lebih menfokuskan kepada aspek keluarga sakinah sebagai salah satu sarana untuk menjaga kelangsungan generasi pengabdi Tuhan. Hal ini sangat penting kita kaji karena didalam kehidupan modern seperti sekarang ini peranan keluarga sangat besar. Sebab selain keluarga sebagai bagian dari system bermasyarakat, dalam Islam keluarga merupakan tempat bagi terciptanya kehidupan yang bahagia bagi seluruh anggotanya baik di dunia sampai di akhirat nanti.
Oleh karena itu, sebelumnya marilah dalam kesempatan yang sangat berbahagia ini, kita panjatkan  rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat serta hidayah kepada kita semua, hingga sampai saat ini, kita dapat melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dengan ihklas, dengan iman dan mengharap ridho Allah SWT.   Shalawat dan salam kita aturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.
Saudara hadirin. Keluarga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat, biasa diartikan dengan ibu dan bapak beserta anak atau anak-anaknya; belakangan diartikan dengan semua dan setiap orang yang ada dalam sebuah keluarga/rumah tangga. (hal ini dapat dilihat dalam pasal 2, UU RI Nomor 23 Tahun 2004, Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tanggga). Keluarga, dalam sistem hukum apapun dan di manapun, apalagi dalam perspektif hukum Islam, dipastikan memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan tingkat manapun. Mulai dari tingkat rukun tetangga (RT), desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, dan seterusnya sampai masyarakat dunia. Tanpa keluarga, yang sejatinya menjadi unit terkecil dalam sebuah komunitas, mustahil ada, apa yang dikenal dengan sistem social, mulai dari sistem sosial yang sangat terbatas, sampai komunitas yang bersekala nasional, regional dan internasional.
Sekedar untuk menunjukan arti penting keluarga, ada ungkapan yang menyatakan bahwa “Keluarga adalah tiang masyarakat dan sekaligus tiang negara; bahkan juga tiang agama.” Atas dasar ini, maka mudahlah difahami bahwa agama Islam menaruh perhatian sangat serius terhadap perkara keluarga. Di antara indikatornya, dalam Al-qur’an dan atau Al-hadits, tidak hanya dijumpai sebutan keluarga dengan istilah “al-ahl” – jamaknya “al-ahluna,” atau “dzul qurba,” “al-aqarib” dan lainnya; akan tetapi, juga di dalamnya dijumpai sejumlah ayat dan bahkan surat Al-qur’an yang mengatur ihwal keluarga dan kekeluargaan.
Di antara surat yang menyimbulkan arti penting tentang peran keluarga dalam kehidupan sosial adalah surat ketiga, yakni surat Ali Imran , yang terdiri atas: 200 ayat, 3,460 kata dan 14,525 huruf. Secara umum dan garis besar, surat Ali Imran memuat perihal: keimanan, hukum, dan kisah-kisah lainnya. Yang menariknya lagi surat Ali Imran ini diiringi surat An-Nisa , yang mengisyaratkan arti penting bagi kedudukan seorang ibu khususnya dan kaum wanita pada umumnya, dalam hal pembentukan dan pembinaan keluarga ideal yang disimbulkan dengan Keluarga Imran.
Masih dalam konteks peduli Al-qur’an terhadap peran keluarga, bisa difahami dari isi kandungan ayat 6 surat Al-tahrim:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.                                                                           
 Ayat tersebut pada dasarnya mengingatkan semua kepala keluarga dalam hal ini Bapak dan atau Ibu, supaya membangun, membina, memelihara dan atau melindungi semua anggota keluarga yang menjadi tanggungannya , dari kemungkinan mara bahaya yang disimbulkan dengan siksaan api neraka. Sebab, dalam pandangan Islam, berkeluarga itu tidak hanya untuk sebatas dalam kehidupan duniawi; akan tetapi juga sampai ke kehidupan akhirat.
Indikator lain dari peduli Islam terhadap eksistensi dan peran keluarga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan ialah adanya hukum keluarga Islam yang secara spesifik mengatur persoalan-persoalan hukum keluarga mulai dari perkawinan, pengasuhan dan pendidikan anak, sampai kepada hukum kewarisan dan lain-lain.  Hukum Keluarga Islam benar-benar mengatur semua dan setiap urusan keluarga mulai dari hal-hal yang bersifat filosofis dan edukatif, sampai hal-hal yang bersifat akhlaqi yang teknis operasional sekalipun. Itulah sebabnya mengapa Islam memerintahkan pemeluknya agar selalu saling menyayangi dan bekerjasama antara sesama keluarga.
Saudara pendengar Mimbar Agama Islam yang dirahmati oleh Allah SWT.
Ada banyak pesan Rasulullah saw, mengenai wanita yang sholeh,salah satunya adalah wanita tiang negara. Dan itu benar adanya.. Bahwa istri sholehah adalah tiang rumah tangga, tiang keluarga, bahkan tiang negara. Dia yang membuat rumah dalam hati setiap anggota keluarga, rumah bagi setiap anak-anaknya, bahkan tanpa ada dia, tidak akan ada negara yang kuat kokoh dan aman..
Maka dari itu, membangun rumah tangga yang bahagia  itu adalah ibadah.. bukan diberi, tapi memberi, dan  terus-terusan memberi, khususnya perempuan, mereka harus menjadi tiang2.. jangan heran bagaimana seorang anak harus 3 kali lebih menghormati ibunya drpd bapaknya.. karena menjadi ibu itu tidak mudah, karena menjadi ibu itu butuh kekuatan yang mungkin 3 kali lipat dari pada menjadi bapak.
Semua masalah rumah tangga, seberat apapun itu tidak akan ada artinya ditangan seorang perempuan yang sholehah.. Dia akan selalu mencari jalan keluar, dan insya Allah dia akan selalu mendapatkan jalan keluar. karena Allah sendiri yang sudah menjamin, akan memberikan jalan keluar apalagi dalam masalah rumah tangga..
Oleh karena itu, disilah pentingnya membina keluarga yang sakinah, yaitu keluarga yang hidupnya damai. Seluruh anggotanya saling menghormati dan saling mencintai. Suka dan duka dihadapi bersama dengan penuh ketulusan hati. Keluarga yang harmonis bukan berarti tidak pernah ada masalah, sebab perselisihan dan perbedaan adalah manusiawi. Hanya saja perbedaan itu tidak sampai meruncing, sehingga menimbulkan pertengkaran, permusuhan atau bahkan lebih dari itu.
            Dalam keluarga perbedaan pasti terjadi, baik yang menyangkut kepentingan, sikap dan pikiran. Namun betapapun telah terjadi perbedaan, hendaknya kita dapat menyelesaikan secara jernih dan dingin hingga hasilnya bisa melegakan bagi siapapun dan dapat menumbuhkan rasa kasih sayang. Oleh karena itu maka masing-masing anggota keluarga hendaknya tahu akan posisi dirinya, demikian juga hak dan kewajibannya. Selain itu masing-masing anggota keluarga harus saling menghargai menyayangi, sehingga tercipta suasana yang damai dan harmonis. Dan keluarga sakinah tidak mungkin tercipta secara kebetulan dan tiba-tiba. Namun harus ada usaha yang maksimal dari semua anggota keluarga.
            Sedangkan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan untuk membina keluarga sakinah adalah :
Pertama, Bahwa anggota keluarga kita semua adalah manusia. Entah itu bapak, ibu dan anak atau yang lainnya yang ada dalam keluarga. Maka hendaknya kita memanusiakan mereka. Masing-masing anggota hendaknya dapat hidup bersama, saling menghargai dan menghormati.
            Kedua, mereka semua adalah mahkluk hidup yang berarti memiliki kebutuhan dan keinginan. Untuk itu hendaknya diantara mereka saling memperhatikan kepentingan yang lainnya. Masing-masing anggota keluarga  hendaknya tak memaksakan kehendaknya, tak memaksakan kepentingannya tanpa menghiraukan kepentingan anggota lainnya.
            Ketiga,  semua anggota keluarga hendaknya mempunyai rasa tanggung jawab, ada tanggung jawab yang harus dipikul bersama, ada pula yang harus dipikul perorangan. Semua membutuhkan tanggung jawab dari masing-masing anggota keluarga. Terutama dari ayah dan ibu, karena mereka itu pokok dari pada sebuah keluarga.
            Keempat, semua anggota keluarga harus mempunyai rasa kasih sayang. Dengan adanya rasa kasih sayang di dalam keluarga, maka akan membawa rasa bahagia diantara mereka. Sebab dengan rasa kasih sayang, mereka akan jauh dari rasa curiga, benci, dendam dan sebagainya dan juga akan menumbuhkan rasa saling percaya dan saling membantu dengan lainnya.
Kelima, semua anggota keluarga harus sadar bahwa mereka merupakan ciptaan Allah dengan titah dan sifatnya masing-masing. Yang dengan  itulah justru akan membuat sebuah keluarga menjadi lengkap. Ada laki-laki, ada perempuan. Keduanya diciptakan oleh Allah banyak kesamaan dan juga banyak perbedaan. Untuk masing-masing hendaknya tahu persamaannya dan perbedaannya. Seringkali kesalah pahaman yang timbul akan berlanjut menjadi gangguan dalam kehidupan keluarga.  Sang suami lupa kalau istri adalah seorang perempuan yang mempunyai kodrat lebih lemah dari dirinya. Atau sebaliknya istri lupa kalau suaminya adalah seorang lelaki yang bersifat keras dalam setiap gerak-geriknya. Mungkin suatu ucapan atau tingkah laku bagi laki-laki tidak berpengaruh apa-apa, tapi bagi perempuan menimbulkan sakit hati dan ketersinggungan.
Untuk itu maka mengingat manusia sebagai titah yang lemah dan tak luput dari salah, hendaknya dijadikan sebagai pegangan oleh masing-masing anggota keluarga agar saling mengingatkan pada kebenaran dan amal soleh demi menuju ridha Allah. Dan inilah puncak dari segala kegiatan manusia di dunia ini, baik yang berupa ibadah langsung maupun kegiatan sosial.
Jadi dari beberapa konsep dalam membentuk keluarga yang harmonis, sebagaimana yang telah kami sampaikan, maka harta dan kekayaan bukan faktor utama dari keharmonisan keluarga, akan tetapi saling pengertian dari masing-masing anggota keluarga yang merupakan factor yang paling dominan. Dari perasaan yang sama inilah pilar keharmonisan tumbuh dan ditegakkan. Tanpa rasa pengertian yang sama, rasanya sulit keharmonisan itu akan terwujud.        
Firman Allah di dalam Al-Qur’an Surat Ar Rum ayat 21:
وَمِنۡ ءَايَـٰتِهِۦۤ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَڪُم مَّوَدَّةً۬ وَرَحۡمَةً‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَتَفَكَّرُونَ
    “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteranm kepadanya, dan dijadikanNya  diantaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.          
            Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan yang syah.   Menurut UU No 1 Tahun 1974 pasal 1 : Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan kata lain keluarga yang terbentuk dari perkawinan tersebut merupakan keluarga yang bahagia dan sejahtera lahir batin atau keluarga sakinah. Keluarga yang mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material yang layak’ mampu menciptakan suasana cinta dan kasih saying (mawaddah warahmah) selaras, serasi, seimbang serta mampu menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, amal saleh dan akhlakul karimah dalam lingkungan keluarga sesuai dengan ajaran Islam.
            Suami istri mempunyai peran yang harus dipegangnya, lebih-lebih pada zaman sekarang, dimana sebagai seorang istri tidak lagi mempunyai peran seperti waktu lampau, yang peranannya hanya berkisar dikasur, didapur, dan disumur. Tetapi istri pada zaman sekarang ini haruslah meningkat perannya, yang antara lain  :          
  1. Istri berperan sebagai sahabat dalam segala hal. Baik dalam keadaan suka maupun duka. Bukan sahabat bila suami sedang mempunyai uang, lalu kalau sudah bangkrut suami ditendang. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang aku tendang.
  2. Sebagai kawan dalam senda gurau. Bercengkrama, saling menghibur untuk melepaskan ketegangan dan kepenatan setelah bekerja sepanjang hari.
  3. Istri sebagai mitra terpercaya dalam hal mengelola keuangan dan ekonomi rumah tangga, karena cukup atau tidak cukupnya biaya hidup keluarga ada di tangan istri.
  4. Istri merupakan pendamping suami menjadi teman tawa dalam suka dan penghibur dikala duka.

Selain peran tersebut, istri juga bertugas menyiapkan generasi penerus, generasi baru. Istrilah yang melahirkan, menyusui, membesarkan dan membinanya sehingga generasi baru tersebut akan menjadi penerus yang dapat diandalkan baik fisik maupun mentalnya.
Allah swt memberi arahan yang sangat tepat, supaya sebuah keluarga menurunkan generasi yang lebih tangguh, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An Nisa ayat 9 :
وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةً۬ ضِعَـٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلاً۬ سَدِيدًا
“Dan hendaknya takut karena Allah, orang-orang yang meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

            Disinilah sebenarnya letak pentingnya selalu menjaga generasi kita, agar menjadi generasi pengabdi Tuhan yang sejati dan sejauh mungkin menghindari sesembahan-sesembahan lain termasuk didalamnya nafsu-nafsu duniawi.
Salah satu cara menjaga kelangsungan generasi pengabdi Tuhan ini adalah dengan memaksimalkan peran keluarga. Allah secara gamblang menjelaskan fungsi ini melalui contoh profil keluarga Luqman, dalam firmanNya QS Luqman ayat 13 :
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُ ۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬
 “Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
            Hal inilah tampaknya yang seringkali kita lupakan. Kita lebih suka membekali anak-anak kita dengan ilmu-ilmu tentang bagaimana meraih kesuksesan material dari pada memberi bekal mereka dengan ajaran tentang tauhid dan akhlak. Akibatnya jelas, anak-anak kita piawai mencari rejeki tapi jadi lupa untuk berbagi, anak kita pandai beranalogi tapi kadang terperosok lupa diri, anak kita pandai berargumentasi tapi pandai juga menipu diri, dan anak kita sangat suka materi hingga lupa pada hati nurani.
            Gejala munculnya generasi salah asuh semacam ini mulai terasa kian nyata. Anak-anak menjadi korban kesibukan orang tuanya mencari materi. Mereka dibiarkan terasuh oleh seperangkat alat berteknologi tinggi macam internet, handphone, televise, dan media-media elektronik lain.
            Tehnologi adalah serangkaian alat yang berjalan berdasarkan program-program. Ia tidak peduli siapa yang menjalankan program dan memberikan perintah-perintah kepadanya. Anak kecilkah, remajakah, atau mungkin orang dewasa, atau bahkan orang tua ompong peyot. Sekali lagi ia tidak peduli. Selama benar cara memencet keypad atau keybordnya maka informasi apapun akan ia munculkan. Padahal ahli teknologi informasi manapun sepakat bahwa setiap informasi pasti memiliki aturan main tentang siapa yang layak mengkomsumsinya.
            Cost sosial yang harus kita tanggung atas kesalahan pemanfaatan tehnologi tentu sangat mahal dan berat kita rasakan. Tentu sudah sangat sulit menghitung tentang berapa banyak korbannya, ada anak yang nekat mencuri untuk mendapatkan HP, ada anak yang mesti drop out dari sekolah lantaran hamil setelah mempraktekkan adegan porno yang ditontonnya, ada yang terpaksa mreman untuk sekedar beli pulsa, dan lahirnya para pengangguran biaya tinggi yang semakin menambah berat beban Negara, serta akibat-akibat sosial lainnya.
            Ayat yang kami sebutkan diatas, menjelaskan tentang betapa pentingnya penanaman nilai-nilai ketuhanan pada diri anak-anak kita. Nilai tersebut terkristal dalam konsepsi taqwa yang oleh para ulama diberikan pengertian sebagai menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Artinya, sejak dini seorang anak harus mulai dilatih untuk menjalankan perintah-perintah agama dan hal ini juga sejalan dengan petunjuk Rasulullah SAW: “Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat saat berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika tak mau menjalankan shalat) jika sampai umur sepuluh tahun”. (HR Ahmad, Abu Daud dan Hakim).
            Disamping penanaman nilai-nilai ketaqwaan sejak dini, anak-anak juga harus dilatih untuk jujur dalam perkataan-perkataan mereka. Salah satu caranya adalah dengan senantiasa memberikan contoh tauladan dalam keseharian kita. Kiat semacam ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi dinamika zaman telah membawa anak-anak kita selalu berlaku kritis dalam menyikapi fenomena sekitarnya. Seringkali ketidakjujuran dan ketidakmampuan kita memberi suri tauladan yang baik terkadang justru menjadi momok penyebab ketidakpercayaan anak kepada orang tuanya, sehingga pendidikan keluarga menjadi tidak efektip.
            Mengembalikan fungsi-fungsi keluarga sebagai tiang negara menjadi sebuah keniscayaan bila kita ingin tetap menjaga kelangsungan generasi zaman ini. Berbagai disfungsi keluarga yang menggejala dewasa ini telah jelas-jelas merugikan dinamika sosial masyarakat kita. Budaya pengejaran tak berujung pangkal pada kepentingan duniawi yang terkadang membuat kita lupa untuk memperhatikan perkembangan psikologis anak-anak kita haus kita tinggalkan. Islam tentu saja tidak melarang kita untuk berlomba-lomba mencari setinggi mungkin kesejahteraan hidup, tetapi melupakan pendidikan agama yang akan menjadi pengawal langgengnya nilai-nilai budi pekerti anak-anak kita tentu bukanlah hal yang bijaksana. Kita harus menyadari sepenuhnya, bahwa sejauh apapun kita mengejar dan setinggi apapun kita meraih kebutuhan duniawi kita semua akan tiada artinya jika anak-anak kita yang merupakan harta paling berharga kita tiba-tiba kehilangan tabiat kemanusiaannya karena kealpaan kita mendidiknya.
            Kehadiran kita sebagai profil seorang ibu dan seorang ayah yang mampu menyisihkan waktu untuk keluarga adalah kebutuhan primer yang sangat mereka perlukan. Peluk cium penuh perhatian dan kasih sayang akan menyadarkan mereka tentang arti pentingnya hidup, sehingga anak-anak kita akan terhindar dari sketsa terorganisir pihak-pihak yang menginginkan mereka terjerumus dalam lembah kesesatan, sebab senyatanya perseteruan antara haq dan batil terus akan ada selama planet bumi ini masih ada dan senyatanya juga para pembela kebatilan terus berusaha melahirkan generasi mereka sehingga jika generasi pembela kebenaran tidak kita munculkan, maka kehancuran peradaban tidak akan mampu kita hindari.
            Akhirnya di bulan Ramadhan penuh berkah inilah harapan itu kita ketengahkan kembali, semoga peranan keluarga sebagai pencetak generasi yang taat kepada Allah SWT terwujud. Generasi yang bertaqwa akan tumbuh didalam keluarga yang mawaddah wa rahmah, yakni keluarga yang sakinah, sebagai wujud dari cita-cita menjadikan keluarga sebagai tiang Negara. Demikian kajian kita kali, terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kesalahan, billahit taufil wal hidayah, wassalamu ‘alaikum wr. Wb.




KHUTBAH JUM’AT BAHASA JAWA : NIKMATIPUN GESANG KANTHI LANDASAN AGAMI ISLAM



KHUTBAH JUM’AT BAHASA JAWA :
 NIKMATIPUN GESANG KANTHI LANDASAN AGAMI ISLAM
Dening : ANIS PURWANTO
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًا مُرْشِدًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي حَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصَحابهِ اْلأَخْيَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
قَالَ تَعَالَي عَزَّ مِنْ قَائِلٍ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Minangka pambukaning khotbah ing siyang sapunika, sumangga kita aturaken puja puji syukur ing ngarsa dalem Allah SWT, awit ngantos ing detik punika, Alhamdulillah kanthi karunianipun Allah SWT, kita taksih kabimbing iman lan Islam sarta kesadaran kagem nindakaken kewajiban ibadah Jumat ing siyang punika. Kita nyuwun dhumateng Allah SWT mugi-mugi ibadah kita saget katampi dening Allah SWT. Sehingga kita manggih kawilujengan ing donya dumugi ing akhirat, amin ya rabbal ‘alamin. Mugia shalawat lan salam atur dumateng junjungan kita Nabi  agung Muhammad SAW, sahabat lan sedaya penderekipun, kalebet kita sedaya. Amin.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Wonten ing swasana ingkang kados punapa kemawon, sumangga kita sampun ngantos kendhat anggen kita nyuwun wonten ing ngarsanipun Allah SWT murih sampun ngantos lepas saking landasan utawi dasaring gesang kita, nun inggih iman lan taqwa dhumateng Allah SWT. Awit menggahing kita umat Islam, taqwa dhumateng Allah SWTkita yakini minangka satunggalipun margi tumuju dhateng kawilujengan geang ing donya dalah ing akhirat.
            Langkung-langkung tumrapipun kita ingkang sampun paham dhateng ener lan ancas tujuanipun agami Islam, tartamtu mbudidaya murih saya ningkat iman dalah taqwanipun, sahingga saged ngraosaken nikmatipun gesang ingkang kadasaraken agami Islam. Punapa kemawon lan kados pundi kemawon ingkang dipun ngendikakaken Allah dalah Rasulullah, wontenipun namung sendika dhawuh dalah ngestokaken punapa ingkang dipun dhawuhaken saha mbudidaya kangge ninggalaken sedaya awisanipun Allah SWT. Kasebat wanten ing Al Qur’an Surat Al Mulk ayat 2 :
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬‌ۚ
 “Allah kang ndadekakepati lan urip, awit Panjenengane ngersakake nguji marang sira kabeh, sapa ing antarane sira kabeh kang paling becik amale”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Kanthi ayat dhawuh pangandikanipun Allah SWT punika, Allah SWT ngersakaken nguji iman dalah taqwa kita sedaya, sebab estunipun sedaya ingkang gumelar ing jagat agung punika mujudaken bahan ujian saking Allah SWT. Kita sedaya ngrumaosi bilih kita punika dipun uji dening Allah, saha mbudidaya murih kita lulus ujianipun, kanthi ngestokaken lan ngamalalen sedaya dhawuhipun Allah SWT.
            Supados kesadaran beragami punika saya dangu saya ningkat, langkung rumiyin mbudidaya ningkataken keislaman lan keimananipun. Manawi keislaman saha keimananipun sampun meningkat, ingkang lajeng dipun iringi mawi ningkatipun penghayatan dalah pengalamanipun agami, ingkang kadasaraken ihklas, ing ngriki nembe badhe saget dipun raosaken nikmatipun gesang beragami Islam. Pramila kita lajeng mbudidaya murih iman saha taqwa kita punika saya mantep, ngrungkepi agami Islam kanthi sawetahipun.  Kadas kasebat wanten ing Al-Qur’an Surat Al Baqarah ayat 208 :
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِى ٱلسِّلۡمِ ڪَآفَّةً۬ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٲتِ ٱلشَّيۡطَـٰنِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَڪُمۡ عَدُوٌّ۬ مُّبِينٌ۬
 “E wong-wong kan iman ! Sira kabeh padha mlebua ana sjrone agama Islam kanthi sampurna. Lan sira kabeh aja padha manut tingkah lakune setan. Awit satemene setan iku mungsuh kang terang terangan tumrape sira kabeh”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Islam tegesipun penyerahan dhumateng Allah. Islam ingkang paripurna inggih punika penyerahan dhumateng Allah kanthi sawetahipun. Jiwa raga, lahir batin kita sumarah lan pasrah dhumateng Allah. Kita estokaken sedaya dhawuhipun, lan kita singkiri sedaya awisanipun. Mila ingkang kita Islamaken mboten namung jiwa raga lan lahir batin kita, nanging ugi sedaya thek kliwer ingkang wonten hubunganipun kaliyan gesang dalah pagesangan kita,  kalebet tata aturan gesang keluarga, gesang ing masyarakat, minggahipun dhateng tatanan negari.
           
            Mila pancen kasinggihan sanget, bilih kunci rahasianipun tiyang ingkang saget ngraosaken nikmatipun gesang beragami Islam punika dumunung wonten ing hidayahipun Allah SWT. Manawi satunggalipun tiyang punika sampun pikantuk hidayah, piyambakipun temtu sadar lan kanthi ihklas nindakaken sedaya aturan-aturanipun agami Islam. Wondene ingkang saged maringi hidayah punika namung Allah piyambak.
إِنَّكَ لَا تَہۡدِى مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَہۡدِى مَن يَشَآءُ‌ۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَy
“Satemene sira iku (Muhammad) ora bisa aweh pituduh marang wong kang kok tresnani. Nanging amung Allah kang paring pituduh marang wong kang dikersakake. Lan panjenengane iku paling ngawuningani marang wong-wong kang oleh Pituduhe Allah”.
Makaten para sederek, selajengipun kita sampun ngantos kendhat anggen kita nyuwun hidayah dhumateng Allah SWT, sahingga saget ngraosaken kados pundi nikmatipun gesang ingkang kadasaraken aturan agami Islam ingkang sawetahipun. Bekja mulya ing donya dalah ing akhirat. amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Minggu, 04 September 2016

KHUTBAH IDUL ADHA 1437 H / 2016 M ( BAHASA JAWA ) : SEMANGAT PENGORBANAN KANGGE SUKSESIPUN PEMBANGUNAN



KHUTBAH IDUL ADHA  1437 H / 2016 M
SEMANGAT PENGORBANAN KANGGE SUKSESIPUN
 PEMBANGUNAN
Dening : Anis Purwanto
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
Alhamdulillah wasy-syukru lillah, kanthi idzin lan keparengipun Gusti Ingkang Maha Kawasa, Allah SWT, ing enjang punika kita sedaya ummat Islam sami mahargya dhatengipun dinten agung Idul Adha, kanthi nindakaken ibadah,  ngajeng-ajeng ridlonipun Allah SWT. Kita nyuwun mugi-mugi ibadah kita dipun tampi dening Allah SWT, saged nglumantaraken dhumateng gesang ingkang bagya mulya wiwit ing ndonya dumuginipun akhirat.
Shalawat saha salam kunjuk dhumateng junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW, ingkang sampun mbimbing sedaya kaum muslimin nuju margi ingkang utami. Mugi-mugi kita pikantuk syafaatipun mbenjang ing yaumul kiyamah, main ya rabbal ‘alamin.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Ing saat punika sedaya jamaah haji, kakung saha putri, enem sepuh, pinuju ngempal ing tanah Mina wilayah tanah suci Mekah Al –Mukarromah saperlu nindakaken wajib haji; “mbalang jumrah” , saksampunipun nindakaken puncak ibadah, inggih punika wukuf ing Padang Arofah tanggal 9 Dzul-Hijjah kala wingi.
            Ngempalipun para jamaah haji ing Arofah menika kalawau, kanthi ngagem ageman seragam ihram werni pethak ingkang mboten dipun jahit, menika mujudaken perlambang persatuan, persamaan lan demokrasi ing agami Islam. Ing wekdal kasebat mboten wanten bentenipun antawis bangsa setunggal kalian sanesipun, werni kulit, sugih, pangkat lan drajat. Jer tumrapipun Allah SWT sedaya manungsa menika sami, ingkang paling mulya ing ngarsanipun Allah inggih punika ingkang paling taqwa :
إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۬
“Setemene wong sing paling mulya antarane sira kabeh ing ngarsane Gusti Allah, yaiku sapa sing paling taqwa” (QS Al-Hujurat : 13).
            Para sederek, kita sami mangertos sesarengan bilih ibadah haji punika hukumipun wajib kagem sedaya kaum muslimin ingkang sampun mampu, paling mboten sepindah sak dangunipun gesang. Kasebat wonten ing Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 97 :
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلاً۬‌ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
“Allah wus majibake marang para manungsa supaya nekani omah suci nindakake Haji, yaiku kanggone wong-wong kang mampu dalane, lan sapa sing ingkar mangka saktemene Gusti Allah iku sugih saka alam kabeh”.
            Kanthi dhawuh Allah SWT kasebat, mayuta-yuta kaum muslimin sami nindakaken ibadah haji, netepi dhawuh panggilan Allah SWT kanthi ngumandhangaken kalimah talbiyah :
“Nuwun inggih sendika dhawuh dalem, Gusti. Dhuh Gusti, kula tansah mbangun turut dhawuh Paduka. Mbaten wanten sekutu kagem Paduka. Sayektosipun sedaya puji lan sawernining kanikmatan punika kagungan Paduka. Lan namung Paduka ingkang nguwaosi samubarang dhengah, lan mbaten wanten ingkang nyekuthoaken kuwaos Paduka”.
            Para sederek, kangge kita sedaya ingkang ing saat sapunika mboten nindakaken ibadah haji, kita mahargya Idul Adha menika kanthi ngempal ing tanah-tanah lapang, masjid lan Mushalla kagem nindakaken shalat Idul Adha, kairing waosan takbir, tahlil lan tahmid, wiwit kala dalu ngantos ing enjang punika, ngagungaken asmanipun Allah SWT : “ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAAILAAHA ILLALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMDU”.  Sesarengan kaum muslimin sak nuswantara, ngebaki angkasa, memuji Gusti Ingkang maha Kawasa, ngupadi ridla Allah SWT. Malah kanthi gumbiraning manah wanten ingkang katindakaken kanthi takbir keliling.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Satunggalipun ibadah ingkang penting ing Riyadin Qurban inggih punika “pemragatan kewan qurban”. Bab punika kadhasaraken dhawuhipun Allah SWT:
إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ (٢)
“Satemene Engsung wus paring kanikmatan kang akeh banget marang sira.Mula saka iku sira nyembaha marang Pangeranira. Lan sira kurbana”. (QS. Al Kautsar:1-2).
Ibadah qurban menika dipun wiwiti saking kisah qurbanipun Nabi Ibrahim as kaliyan putranipun, inggih punika Nabi Ismail as. Kala semanten Nabi Ibrahim as dipun uji dening Gusti Allah kadhawuhan mragat putra kinasih, pun Ismail as. Mesthi kemawon, minangka jejeripun bapa Nabi Ibrahim as kraos awrat sanget ngleksanakaken dhawuh kasebat. Nanging senajan awrat kados menapa, jer menika nyata-nyata dhawuhipun Gusti Allah, Nabi Ibrahim kanthi taat lan tawakkal nindakaken dhawuh Allah kasebat. Makaten ugi keng putra pun Ismail as, wantenipun inggih sendika dhawuh.
Bab punika kacariyosaken wanten ing salebetipun Al-Qur’an, kasebat ing Surah As Shaffat ayat 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
 “Wusana nalika anake, Ismail iku wus tekan saguh usaha, bebarengan karo dheweke, Ibrahim banjur kandha : Dhuh ngger anakku, Rama pirsa ana sajrone impen, yen rama kadhawuhan dening Allah nyembelih sira, ngger. Mula saka iku pikiren. Ismail banjur matur : Dhuh rama, sumangga kula aturi nindakaken punapa ingkang kadhawuhaken dhumateng panjenengan, rama. Isnya Allah rama badhe pirsa, bilih kula kalebet golonganipun tiyang-tiyang ingkang sabar”.
            Nanging Gusti Allah ingkang Maha Agung lan Maha Asih mboten kagungan kersa badhe nyengsarakaken kawulanipun. Kalih-kalihipun rama dalah putra lulus saking ujianipun, sarana naati dawuhipun Allah, senajan toh akhiripun Nabi Ismail as tetep sugeng, jalaran mboten kapragat saestu, awit lajeng dipun gantos kaliyan menda gibas.  Makaten ingkang dados kersanipun Allah SWT, kados dhawuhipun ingkang kasebat ing Surah Shaffat ayat 105 :
قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآ‌ۚ إِنَّا كَذَٲلِكَ نَجۡزِى ٱلۡمُحۡسِنِينَ
 “Temen-temen sira wus nbenerake (dhawuh saka) impen iku, satemene sing mangkono iku Ingsun bakal paring ganjaran marang wang-wang sing tumindak becik”.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Makaten para sederek, ibadah qurban saestu minangka ibadah ingkang pokok ing Idul Adha menika. Mugi-mugi ibadah qurban kasebat ugi suka hikmah saha piwucal kangge kita sedaya, inggih menika ningkatipun iman, lan keihklasan berqurban kangge kepentingan sesarengan, ingkang ing tembe manfangati kangge pembangunan lan kemajengan. Pengurbanan ingkang ihklas menika ingkang badhe  ndadosaken suksesipun pembangunan, amargi kasil mbotenipun satunggalipun perjuangan tartamtu merlokaken pengurbanan. Makaten ugi cita-cita Pembangunan Nasional kita, mesti kemawon merlokaken pengurbanan saking kita sedaya bangsa Indonesia.
            Awit pembangunan ingkang dipun laksanaaken wanten ing nagari kita punika pancen sakelangkung wiyar sanget tebanipun, ingkang asring kasebat “Pembangunan manusia seutuhnya lan Pembangunan Masyarakat Indonesia Seluruhnya”. Pramila mbetahaken partisipasi saking sedaya lapisan masyarakat wanten ing sedaya bidhang, selaras kaliyan pakaryan lan profesi kita piyambak-piyambak. Wondene gegayuhan ingkang pungkasan saking pembangunan inggih punika “BALDATUN TOYYIBATUN WA RABBUN GHAFUUR”.
            Pramila saking punika Pembangunan Nasional ingkang kita laksanaaken punika, insya Allah mujudaken pengejowantahan saking taqwa kita dhumateng Allah SWT. Selajengipun keberhasilan pembangunan ingkang lelandasan sikap pengurbanan menika badhe saged ngagungaken syi’ar Allah lan syi’ar Islam ing bumi Indonesia menika :
وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَـٰٓٮِٕرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوب
“Lan sing sapa ngagungake syi’ar-syia’re Allah, prayata iku saka ati kang taqwa”. (QS. Al-Hajji :32)
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Ngantos ing saat mahargya Idul Adha ing tahun 1437 H punika, kita bangsa Indonesia kanthi berkelanjutan tetep nerusaken   karya ageng Pembangunan Nasional, senaoso ugi taksih ngadhepi mawarni-warni ujian ingkang ugi mboten entheng, kadosta mrosotipun moral “anak bangsa” , ugi koropsi, kolosi lan nepotisme taksih tuwuh subur. Risakipun budaya bangsa lan demoralisasi, ingkang dadas masalah kebangsaan ugi kedah enggal kita usadani. Meski makaten sejatosipun halangan, rintangan lan tantangan ingkang dipun adhepi kita bangsa Indoesia , mboten mligi saking njaban rangkah kemawon, ananging khususipun ing kalangan umat Islam piyambak, rapuhipun ukhuwah Islamiyah kita dados salah satunggal penyebabipun.
            Pramila saking punika , mestinipun kita lajeng saget mendet piwucal adiluhung saking prastowo qurban ingkang dipun lakonaken Nabi kekalih,  inggih punika Nabi Ibrahim as lan Nabi Ismail as,  minangka pepenget dhumateng para pemimpin saha tiang sepuh lan putra-putranipun. Liripun, bilih satunggaling pemimpin kedah saget kangge conto sae wanten ing gesangipun lan ing keluarganipun. Nabi Ibrahim mboten namung paring conto kados pundi tanggung jawabipun minangka pemimpin umat, ananging ugi minangka jejeripun rama ingkang wicaksana, semanten ugi Nabi Ismail minangka conto generasi enem ingkang satuhu  dhateng tiang sepuhipun.
Akhiripun kanthi semangat Idul Adha kita lajengaken pembangunan nasional, kagem anggayuh nagari ingkang majeng ing sedaya bidang, negeri ingkang baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur. Sumangga sedaya kita aturaken dhumateng para punggowo negeri, kita selaku warga negeri ingkang sae kedah kagungan wawasan ingkang wicaksana, pundi  ingkang sae sumamgga kita sengkuyung, pundi engksng awon sumangga kita dandosi sesarengan murih dados saenipun. Mugia sedaya pemimpin negeri kaparingan hidayahipun sahingga saget mimpin nagari kanthi wicaksana, nuju masyarakat adil makmur Mugia kita manggih kawilujengan ing donya dalah ing akhirat.
Selajengipun kangge penutup khutbah, sumangga kita ngeningaken cipta, nyuwun dhumateng Allah SWT, mugi-mugi sedaya panjangka kita saget dipun kabulaken Allah SWT.