Selasa, 07 Oktober 2014

KARAKTER ORANG YANG BERTAQWA



KARAKTER ORANG YANG BERTAQWA
Catatan : Anis Purwanto*

1.      Beriman kepada hal-hal yang ghaib.
ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka”. ( QS Al-Baqarah : 3 ).
Dengan perincian sevagai berikut :
a.       Beriman kepada Allah SWT dan Malaikat.
لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةِ وَٱلۡكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآٮِٕلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّڪَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَـٰهَدُواْ‌ۖ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. ( QS.Al-Baqarah : 177 ).
b.      Yakin akan adanya akhirat.
وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ
“Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (muhammad) dan (Kitab-Kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat”. ( QS.Al-Baqarah : 4 ).
2.      Beriman kepada Kitab-Kitab dan para Nabi.
 “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. ( QS.Al-Baqarah : 177 ).
Dengan perincian sebagai berikut :
a.       Beriman kepada Al-Qur’an.
Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (muhammad) dan (Kitab-Kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat”. ( QS.Al-Baqarah : 4 ).
b.      Beriman kepada Kitab-Kitab sebelum Al-Qur’an.
“Dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (muhammad) dan (Kitab-Kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat”. ( QS.Al-Baqarah : 4 ).
3.      Mendirikan shalat.
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang baib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka”. ( QS Al-Baqarah : 3 ).
4.      Orang yang sedikit tidur pada malam hari untuk beribadah kepada Allah SWT,  memohon ampunan.
كَانُواْ قَلِيلاً۬ مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَہۡجَعُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam”. (QS. Az-Zariyat : 17 ).
وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ
“Dan pada akhir malam mereka memehon ampunan  (kepada Allah)”. (QS. Az-Zariyat : 18 ).
5.      Memohon ampun kepada Allah SWT.
a.     Beristighfar pada waktu sebelum fajar.
ٱلصَّـٰبِرِينَ وَٱلصَّـٰدِقِينَ وَٱلۡقَـٰنِتِينَ وَٱلۡمُنفِقِينَ وَٱلۡمُسۡتَغۡفِرِينَ بِٱلۡأَسۡحَارِ
“(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar”. (QS. Ali-Imran : 17 ).
b.    Orang yang ketika berbuat dosa segera mengingat Allah, memohon ampun, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
     وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali-Imran : 135 ).
6.      Senantiasa berdo’a.
ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“(yaitu) orang-orang yang berdo’a, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka”. ( QS. Ali-Imran : 16 ).
7.      Mengagungkan syiar Allah SWT.
ذَٲلِكَ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَـٰٓٮِٕرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan sui’ar-sui’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati”. (QS. Al-Hajj : 32 ).
8.      Menginfakkan sebagian hartanya.
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka”. ( QS Al-Baqarah : 3 ).
Dengan perincian sebagai berikut :
a.       Berinfak dengan harta yang dicintai.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. ( QS.Al-Baqarah : 177 ).
b.      Berinfak baik ketika lapang maupun sempit.
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡڪَـٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ‌ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan oran-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Ali-Imran : 134 ).
9.      Menepati janji.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. ( QS.Al-Baqarah : 177 ).
10.  Bersabar dalam kemelaratan, penderitaan dan ketika perang.
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. ( QS.Al-Baqarah : 177 ).
11.  Berlaku jujur dan benar.
 “(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar”. (QS. Ali-Imran : 17 ).
12.  Taat terhadap perintah Allah SWT.
“(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar”. (QS. Ali-Imran : 17 ).
13.  Mampu menahan amarah.
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan oran-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Ali-Imran : 134 ).
14.  Suka memaafkan orang lain.
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan oran-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Ali-Imran : 134 ).
15.  Suka berbuat baik.
ءَاخِذِينَ مَآ ءَاتَٮٰهُمۡ رَبُّہُمۡ‌ۚ إِنَّہُمۡ كَانُواْ قَبۡلَ ذَٲلِكَ مُحۡسِنِينَ
“mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Az-Zariyat : 16 ).
·         Sumber dari Miftah Khilmi Hidayatulloh, Lc, Suara Muhammadiyah ,16-31 Agustus 2014.

  

Kamis, 02 Oktober 2014

KHUTBAH JUM'AT MENJELANG IDUL ADHA : REVOLOSI KEYAKINAN DALAM PERISTIWA KURBAN



KHUTBAH JUM’AT MENJELANG IDUL ADHA
REVOLOSI KEYAKINAN DALAM PERISTISWA KORBAN
Oleh : ANIS PURWANTO


Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Segala puji atas limpahan karunia Allah SWT. yang tak pernah habis-habisnya kita rasakan dan nikmati. Sebagai ungkapan rasa syukur kita,  marilah kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa, menjadikan setiap gerak dan langkah kita mencari keridhoaan Allah semata.  Shalawat dan salam kita sampaikan kepada baginda Rasulullah SAW.
Hari raya Idul Adha tahun ini saudara, nampaknya memang akan ada dua fersi pelaksanaan, sebagian kaum muslimin yang dengan kemantapan dan keyakinan hatinya akan melaksanakan shalat Id pada hari Sabtu besok, hal ini didasarkan bahwa pada hari ini  adalah pelaksanaa wukuf di Arofah, namun sebagian yang lainnya,  sesuai dengan ketetapan pemerintah RI akan melaksanakan sholat Id pada hari Ahad.
Inilah saudara kenyataannya, karenanya jika kita mempunyai hati yang lapang didalam memandang persoalan itu, persoalan itu tidak akan diulang-ulang dipertentangkan. Semua akan baik-baik saja, ibadah sesuai dengan kemantapan dan ketetapan hatinya. Bagi yang tak sepahampun mestinya tidak usah memperuncing dengan dalih dan alasan yang justru memperbesar perbedaan.
            Didalam kehidupan sehari-hari ataupun didalam pelaksanaan ibadah sekalipun perbedaan sudah menjadi hal yang sangat biasa dan sering ditemui. Tapi memperpanjang perbedaan sungguh hal yang sangat merugikan umat Islam sendiri. Sebab dihadapan umat Islam masih terbentang persoalan yang lebih besar dan lebih dibutuhkan kebersamaan. Kita tidak akan mampu untuk memikul seorang diri, kita butuh orang lain, meskipun dia tidak sepaham dan sealiran dengan kita. Kita butuh kawan yang benar-benar mau memandang bersama ditengah-tengah perbedaan. Berkeyakinan, berucap dan bertindak dengan kejernihan hati akan lebih menguntungkan dari pada mempertahankan keyakinan dan tindakan yang dapat mempertajam persoalan umat. Kita sadar bahwa perbedaan adalah rahmat yang diberikan oleh Allah SWT, yang pengejawantahannya sungguh dibutuhkan kearifan dan hati yang jernih.
Sebab landasan fundamental kita adalah iman kepada Allah SWT. Sebagai manusia beriman, mestinya tidak akan membiarkan diri kita karam, karena iman yang terhujam dalam hatinya menjadi pegangan rohani “yang kuat”, yang mesti lembut namun teramat kokoh. Dalam Islam, iman adalah  kebutuhan jiwa yang teramat mendasar, melebihi segala-galanya. Iman yang dipilih  secara sadar dan sengaja, akan menjadikan pemiliknya menjadi manusia tangguh, ketika berhadapan dengan segala corak situasi, betapaun berat dan sulit, betapapun rumit dan dilematis. Sebab, dengan mutiara iman yang mahal itu, akan dapat terpancarkan dalam setiap pikiran, dan perbuatannya.
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُہُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah, mereka yang apabila nama Allah disebut, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat Allah kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”.(QS Al Anfal:2)

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
          Sebab jujur kita harus berani mengatakan, bahwa sebagian kehidupan kita masih terlalu banyak diarahkan oleh hawa nafsu. Karenanya menjadi keharusan bagi semua umat Islam untuk kembali mengenang dan mengambil iktibar tentang adanya peristiwa dramatik yang terurai pada sejarah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Dalam peristiwa itu dilukiskan betapa iman yang dipilih secara sadar dan sengaja dapat mengalahkan segala-galanya, sekalipun itu pertimbangan logis. Dalam kasus sejarah kenabian, peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim as dan putra beliau “Nabi Ismail as”  merupakan peristiwa dilematis, tetapi keduanya sepakat menempuh karena pencaran iman.
          Dari sejarah kita mengetahui bahwa Ismail di mata Nabi Ibrahim as, bukanlah semata-mata anak bagi seorang ayah, namun Ismail adalah buah hati bersulam kasih sayang, yang telah didambakan Nabi Ibrahim as sangat lama, dan merupakan hadiah yang diterimanya sebagai imbalan karena ia telah memenuhi hidupnya dengan perjuangan. Tetapi tanpa di duga, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as agar menyembelih buah hati yang sangat disayanginya itu.
          Betapa guncangnya jiwa Nabi Ibrahim as menerima perintah itu, tidaklah dapat dibayangkan. Nabi Ibrahim as sebagai hamba Allah SWT yang paling muhklis dan patuhpun bisa gemetar dan goyah. Hatinya bergolak. Hati kecilnya diliputi tanda Tanya. Siapakah yang lebih dicintai, Allah ataukah Ismail. Inilah pilihan yang sangat dilematis itu.
          Namun getaran jiwa yang dikendalikan oleh iman, akhirnya memenangkan Nabi Ibrahim as dalam pergolakan batin itu. Langkahnya berpihak kepada Allah SWT, dan pasrah mengorbankan Ismail yang sangat dicintainya. Sejarah manapun belum pernah mencatat adanya peristiwa antara ayah-anak seperti ini, yang didahului dialog yang sangat bersahabat namun mencekam adanya.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
“Ibrahim berkata, Hai anakku, sesungguhnya aku melihat didalam mimpi bahwa aku akan meyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu ?. Dia (Ismail) menjawab; Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS.Ash Shaffat:102).
          Dari peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim as, telah memberikan gambaran tentang adanya revolosi keyakinan yang sangat besar untuk memantapkan keyakinan dan patuh hanya kepada Allah SWT. Dan tidak sepantasnya manusia diperbudak oleh harta benda duniawiyah, betapapun sepintas nampak hebat dan mengagumkan. Maka ketundukan dan pasrah diri hanya kepada Allah SWT. Disilah letak konsep tauhid, dimana dengan tauhid manusia akan terangkat derajatnya dan mampu menghadapi berbagai problem hidupnya.
          Keteladanan Nabi Ibrahim as hendaklah juga dijadikan contoh bagi keluarga masa kini. Kecintaan kepada sesuatu yang sangat dicintai, termasuk kecintaan kepada harta benda secara berlebihan dapat berakibat memudarnya keutuhan tauhid kita. Disamping dapat berakibat lahirnya sifat egoistis dan takabur,juga akan menimbulkan sikap kapitalis, sebuah sikap yang dibenci oleh Islam. Begitu pula dalam mencintai agama ini, manakala dilakukan dengan fanatic buta akan melahirkan sifat anti pati terhadap orang yang tidak sepaham dengan dirinya, sehingga ketenteraman yang merupakan inti dari ajaran agama, tidak akan sampai pada tujuannya.
          Jika diperbandingkan, ajaran Islam sebagaimana yang telah diperagakan dengan bagus oleh Nabi Ibrahim as dan Ismail as, dengan praktek-praktek kehidupan sekarang ini, maka secara jujur harus diakui bahwa masih terlalu banyak jarak antara cita-cita Islam dengan kenyataan riil perilaku umatnya. Banyak diantara kita “yang sudah mampu”, namun enggan mengorbankan sesuatu yang dicintainya, untuk sekedar turut dirasakan oleh saudara se iman. Bahkan  masih banyak yang telah membuat saudara-saudara se iman menjerit, merintih dan menangis, lantaran mereka menjadi korban perbuatan kita, hanya demi memperoleh dan memenuhi kepuasan pribadi, kelompok atau golongan. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, bila ada diantara kita yang sudi mengorbankan agama atau  akidahnya demi kesenengan dan kenikmatan sesaat.
          Inilah sebagian kecil dari butir-butir hikmah idul kurban yang dapat kita sampaikan. Tentu semuanya berpulang kepada kita masing-masing, sejauh mana kepedulian kita memetik butir-butir hikmah yang terkandung didalam pelaksanaan idul adha nanti. Dan sisi lain semoga saudara-saudara kita yang saat ini sedang berkumpul melaksanakan wukuf dipadang arofah, benar-benar mendapat haji mabrur.
          Akhirul kalam, mari kita berharap semoga kita semua, selalu mendapat hidayah, ma’unah dari Allah SWT, bahagia di dunia dan di akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.

Selasa, 30 September 2014

KHUTBAH IDUL ADHA BAHASA JAWA : KANTHI SEMANGAT IDUL QURBAN KITO TINGKATAKEN IMAN LAN TAQWA KANGGE ANGGAYUH KABEKJAN NDUNYO AKHIRAT



KHUTBAH IDUL ADHA  1435 H / 2014 M
KANTHI SEMANGAT QURBAN KITO TINGKATAKEN IMAN LAN TAQWA KANGGE ANGGAYUH KABEKJAN NDUNYO AKHIRAT

Dipun susun : Anis Purwanto

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Langkung rumiyin, sumangga kita sami nyaosaken puja puji syukur ing ngarsa dalem Allah SWT, ingkang sampun paring nikmat, rahmat sarta hidayah dhumateng kita sedaya. Sahingga kanthi ijin Allah SWT, kita wonten ing enjangipun dinten Idul Adha punika seget kempal manunggal ngupadi ridlanipun Allah SWT, nindakaken ibadah dhumateng Allah SWT, lan sekaligus minangka bukti anggen kita nglaeraken raos syukur dhumateng Allah SWT.
            Shalawat saha salam mugia katur dhumateng Gusti Rasul, Nabi Agung Muhammad SAW, ingkang sampun mbimbing dhumateng sedaya kaum muslimin, tumuju margi ingkang utami. Mugi-mugi kita sedaya pikantuk syafaatipun mbenjang wanten ing yaumul kiyamah, bekja fiddun ya wal akhirah, amin ya rabbal ‘alamin.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Wanten ing enjang ingkang endah punika, kita sedaya umat Islam sami ngempal wanten ing tanah-tanah lapang, wanten masjid, lan wanten mushala utawi papan panggenan sanesipun ingkang kasediyakaken kagem shalat Idul Adha. Malah kanthi gumbiraning manah, kita agungaken asmanipun Allah kanthi maos takbir, tahlil lan tahmid, wiwit kala dalu ngantos ing enjang punika. Sesarengan kaum muslimin saindenging bawana, saking kitha ageng ngantos ing pelosok dusun. Sami ngegungaken lan muji syuklur ing ngarso dalem Allah SWT. Kanthi sikep dhepe-dhepe ing ngarsanipun Allah ingkang Maha Agung. 
Allahu Akbar 3 X Walillahil-hamd.

Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.

            Wanten ing tanggal 10 Dzul Hijjah, kados ing dinten samangke punika, para jamaah Haji nembe ngempal wanten ing kitha Mina, saksampunipun kala wingi sami nindakaken wuquf wanten ing padang Arofah, satunggalipun padhang pasir ingkang wiyar sanget, tandus lan gersang.
            Salebetipun nindakaken upacara ibadah haji, para jamaah punika sami ngagem ageman ihrom, ingkang warninipun pethak lan tanpa dipun jahit. Ageman ihrom ingkang makaten punika minangka lambangipun persamaan aqidah lan pandangan hidup. Awit umat Islam pancen satunggaling umat ingkang anggadhahi aqidah lan pandangan hidup ingkang sami lan seragam.
            Wanten ing saat-saat makaten punika, prasasat sampun mbaten saget dipun bentenaken malih antawisipun tiyang ingkang sugih lan ingkang miskin, antawisipun pemimpin lan rakyat biasa. Sedaya ngraos sederajat, setingkat, sami dadas kawulanipun Allah, ingkang nembe ibadah, nyaketaken manah dalah sliranipun dumateng Allah. Sami-sami lan sesarengan ngumandangaken kalimat Talbiyah :

"Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbarika, innal hamda wan-ni’mata laka wal-mulka laa syariika laka".

“Nuwun inggih sendika dhawuh dalem, Gusti. Dhuh Gusti, kula tansah mbangun turut dhawuh Paduka. Mbaten wanten sekutu kagem Paduka. Sayektosipun sedaya puji lan sawernining kanikmatan punika kagungan Paduka. Lan namung Paduka ingkang nguwaosi samubarang dhengah, lan mbaten wanten ingkang nyekuthoaken kuwaos Paduka”.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Dasar minangka dorongan ingkang damel para jamaah haji ihklas ngurbanaken bondha dunyonipun, lan lega lila ngadhepi mawarni-warni kesulitan salebetipun nindakaken ibadah haji, inggih punika dhawuh pangandikanipun Allah wanten ing Al-Qur’an, Surat Al Haj : 27-28 :
وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالاً۬ وَعَلَىٰ ڪُلِّ ضَامِرٍ۬ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ۬ (٢٧) لِّيَشۡهَدُواْ مَنَـٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡڪُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ۬ مَّعۡلُومَـٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ‌ۖ فَكُلُواْ مِنۡہَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡبَآٮِٕسَ ٱلۡفَقِيرَ
 “Lan sira, Ibrahim, printahna para manungsa supaya nindakake ibadah haji. Temtu wong-wong mau padha nekani sira kanthi mlaku, lan sawenehe ana kang mung nunggang unto kuru, teka saben-saben plosok kang adoh. Supaya padha nekseni pirang-pirang manfaat tumrape wong-wong mau dhewe. Lan supaya wong-wong mau padha nyebut asmane Allah ana ing dina-dina kang wus ditemtokake, atas rezki kang wus diparingake marang wong-wong mau, kang awujud kewan raja kaya. Mula saka iku sira kabeh padha mangana sebagian saka daginge kewan mau. Lan sebagian liyane wenehna marang wong-wong kang sangsara, kang fakir, supaya padha dipangan”.
            Wandene kagem kita, umat Islam ingkang kaleres dereng saget nindakaken ibadah haji, wanten ing saat-saat ingkang kebak raos syukur punika, sami nindakaken ibadah ingkang kadas sampun dipun syariataken dening agami Islam. Wiwit kala wingi dipun sunnahaken nindakaken siyam Arofah. Maos kalimah takbir, tahlil lan tahmid, saha shalat idul adha.
            Kajawi nindakaken shalat Id, dipun syariataken tumrapipun kaum muslimin ingkang sampun kacekapan, supadas mragat kewan kurban. Bab punika kadhasaraken dhawuhipun Allah SWT:
إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ (٢)
 “Satemene Engsung wus paring kanikmatan kang akeh banget marang sira.Mula saka iku sira nyembaha marang Pangeranira. Lan sira kurbana”. (QS. Al Kautsar:1-2).
            Sejarah wantenipun syariat kurban kanthi mragat kewan raja kaya punika wantenipun prastawa nalika Kanjeng Nabi Ibrahim as dipun uji mental saha imanipun dening Allah SWT, kanthi kadhawuhan supadas mragat putranipun, putra ingkang sakalangkung dipun tresnani.  inggih punika Nabi Ismail as. Kanjeng Nabi Ibrahim as ngestokaken dhawuhipun Allah punika kanthi tanpa tidha-tidha. Keng putra piyambak, Nabi Ismail as, wontenipun inggih ihklas, namung sumarah lan manut. Bab punika kacariosaken wanten ing salebetipun Al-Qur’an, kasebat wanten ing Surat As Shaffat : 102 :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلۡمَنَامِ أَنِّىٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ‌ۚ قَالَ يَـٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ‌ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
 “Wusana nalika anake, Ismail iku wus tekan saguh usaha, bebarengan karo dheweke, Ibrahim, Ibrahim banjur kandha : Dhuh ngger anakku. Rama pirsa ana ing sajrone ngimpi, yen rama kadhawuhan dening Allah nyembelih sira, ngger. Mula saka iku pikiren, kepriye panemumu. Ismail banjur matur : Dhuh rama, sumangga kula aturi nindakaken punapa ingkang kadawuhaken dhumateng panjenengan, rama. Insya Allah rama badhe pirsa, bilih kula kalebet golonganipun tiyang-tiyang ingkang sabar”.
Allahu Akbar 3 X Walillahil-hamd.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Rerangkaianipun ibadah Idul Adha, wiwit maos takbir ngantos pelaksanaan shalat Id lan pamragatipun kewan qurban, ingkang dagingipun dipun bagi-bagi dhateng para sederek fakir miskin, menggah kita kaum muslimin tartamtu mengku hikmah ingkang sakalangkung ageng sanget.
            Pramila saking punika, kanthi mendhet piwucal adiluhung lan hikmah Idul Adha, dipun ajab wanten ningkatipun ketaatan kita dhumateng Allah SWT saha Utusanipun, lan ningkatipun keihklasan berqurban. Kita yakin kanthi seyakin-yakinipun, bilih gegayuhan satunggalipun cita-cita utawi idham-idhaman kedah sarana pengurbanan. Saya ageng gegayuhan ingkang dipun tuju, ugi kedah saya ageng pengurbanan ingkang dipun wedalaken, minangka tebusanipun gegayuhan kala wau. Ningkatipun iman saha taqwa, ugi minangka gegayuhan ingkang utami, pramila kedah dipun tebus kanthi pangurbanan ingkang ageng ugi, kanthi nindakaken sedaya dhawuhipun Allah SWT lan ninggalaken awisanipun.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Minangka kawulanipun Allah SWT ingkang dipun titahaken kanthi winates daya lan kemampuan, mila kita kedah nyadari bilih manungsa mesthi kagungan kekhilafan, ananging kekhilafan kalawau mbaten badhe dumados kanthi terus-terusan, manawi enggal-enggal menyadari dhateng kekilafanipun. Kasunyatanipun para sederek, asring kita ningali pawartos ing media massa, kathah kedaosan ingkang mrehatosaken kita sami, kadosta tindak kerusuhan, bentrokan, sentimen antar golongan, malah kasus korupsi ing wekdal punika ketingal soyo ndodro, lan taksih kathah malih persoalan ingkang dumados ing kalanganipun masyarakat.     
Pramila kangge mbendung supados persoalan punika mboten kebablasan, sedaya perkawis kedah kita wangsulaken dhateng aturan utawi undang-undang ingkang sampun maton.  Sikap tegas ing ndalem penegakan hukum dados kunci sukses uwal saking sedaya reribet ingkang dumados ing sedaya lapirsan masyarakat, hukum mboten mandhang wulu. Manawi penegakan hukum ing nageri punika mbaten saget mlampah kanthi sae, mila inggih kados sak mangke punika kawontenanipun. Lan sedaya kala wau mujudaken gambaran bilih kita sedaya dereng mampu nahan hawa nafsu. Ananging ingkang penting tumrap kita, sumangga sedaya dipun serahaken dhateng ingkang kawogan, kita selaku warga negari ingkang sae kedah kagungan wawasan ingkang wicak sana. Ampun ngantos gampil kabujuk dhateng tiyang-tiyang ingkang nedya ndamel kisruh. Sebab sedaya perkawis mesti saget dipun rampungaken kanthi sae , manawi sedaya elemen masyarakat guyup rukun, kanthi mundhut semboyan “bersatu kita teguh , bercerai kita runtuh”.
Jamaah Shalat Idul Adha Rakhimakumullah.
            Kanthi Idul Adha 1435 H punika sumangga kita sasaget-saget nyonto dhateng kepemimpinan Nabi Ibrahim as  lan Nabi Ismail as, saha semangat kagem berkorban.  Sahingga saged manggih rahmatipun Allah SWT, kanthi gesang ingkang sakinah mawaddah warahmah. Akhiripun sumangga kita sesarengan nyenyuwun dhumateng Allah SWT, mugi-mugi kita sedaya kaparingan maghfiroh saking Allah SWT saha katampi sedaya amal ibadah kita. Akhiripun saget manggih kabekjan ing ndonya dalah ing akhirat.   Amin ya rabbal ‘alamin.