Kamis, 16 Mei 2013

MENJAGA AMANAH



MENJAGA AMANAH
Oleh :  Anis Purwanto

            Diantara bentuk ketaqwaan seseorang hamba kepada Allah SWT adalah dengan menjalankan dan menjaga amanah yang dipikulnya. Baik amanah yang berkaitan dengan kewajiban kepada Allah SWT, seperti shalat, membayar zakat, haji dan lain-lain, maupun yang berkaitan dengan kewajiban kepada sesama manusia. Karenanya, perlu kita ketahui bahwa sebenarnya amanah itu sangat luas cakupannya. Dan amanah yang diemban oleh setiap orang tidak selalu sama dengan yang lainnya. Namun semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, nanti atas pelaksanaan amanah yang kita pikul.
            Perlu diketahui, bahwa menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang mudah dilakukan semudah membalikkan tangan. Oleh karena itu, yang perlu kita ketahui adalah bagaimana menjaga amanah yang sebetulnya. Sebab nyatanya Allah telah menjelaskan tentang betapa beratnya amanah yang dipikulkan kepada kita para manusia.  Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir kan mengkhianatinya, dan dipikullah  amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS Al Ahzab : 72).
            Di dalam ayat tersebut kita ketahui, bahwa amanah ini sebenarnya telah ditawarkan kepada alam semesta, kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun mereka semua takut memanggulnya dan enggan menerimanya karena takut dengan azab Allah SWT, karena mereka menyadari betapa beratnya menjalankan amanah tersebut. Sehingga mereka khawatir akan menyelisihi amanah, hanya saja, manusia dengan berbagai kelemahannya, memilih untuk menerima amanah tersebut.
            Sesungguhnya amanat tersebut adalah merupakan beban syariat yang mencakup hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya. Siapa yang menunaikannya, maka dia mendapat pahala dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, maka ia mendapatkan siksa. Berkenaan tentang menjaga amanah ini, terbagi menjadi 3 tipologi manusia :
-       Kelompok pertama, adalah orang-orang yang menampakkan dirinya seolah-olah menjalankan amanah. Yaitu dengan menampakkan keimanannya namun sesungguhnya mereka tidak beriman. Mereka itulah yang disebut golongan orang-orang munafik.
-       Kelompok kedua, adalah orang-orang yang dengan terang-terangan menyelisihi amanah tersebut. Yaitu mereka tidak mau beriman baik secara lahir maupun batin. Mereka adalah golongan  orang-orang kafir dan musyikin.
-       Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang menjaga amanah yaitu golongan orang-orang yang beriman baik secara lahir maupun batin.
Dua golongan yakni orang-orang munafik dan musyikin akan diadzab dengan adzab yang sangat pedih. Sedangkan golongn orang-orang yang beriman,  merekalah orang-orang yang akan mendapatkan ampunan serta rahmat dari Allah SWT.  “Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab : 73).  Dan       siapa yang memiliki kesempurnaan sifat amanah, maka ia telah menyempurnakan agamanya, dan siapa yang tidak memilikinya, maka ia telah membuang agamanya.  “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga janjinya”. (HR Imam Ahmad).
            Perlu diingat, bahwa menyia-nyiakan dan tidak menunaikan amanah, memiliki implikasi buruk pada keadaan seseorang dan dapat menjadi sebab kerusakan di masyarakat. Oleh karena itu, marilah bertawakal kepada Allah SWT, untuk menjaga amanah  dan menunaikan hak-hak dan kewajiban sebagai seorang  hamba serta berupaya sekuat kemampuan untuk meninggalkan larangan Allah SWT. “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya”. (QS. An Nisa’ : 58).
            Sedangkan cara untuk menjaga amanah ini, adalah dengan kita senantiasa menginginkan agar orang lain mendapatkan kebaikan sebagaimana kita menginginkan kebaikan itu pada diri kita. Sebab seseorang yang bermuamalah dengan orang lain, mestinya melihat dan bercermin pada dirinya. Misalnya dalam hal jual beli, sewa menyewa, sebagai seorang karyawan,  seorang pegawai dan lain-lain, dia tidak ingin memperlakukan kewajibannya dengan tidak baik, sebagaimana dia tidak ingin perlakuan tersebut menimpa dirinya. Seorang yang menjual barang, misalnya dia harus menjualnya dengan menjaga amanah. Termasuk dari menjaga amanah adalah yang berkaitan dengan pendidikan. Seorang pengajar, misalnya ia harus berusaha menjaga amanah yang dipikulnya. Dia harus perusaha untuk  menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya. Ia berupaya menyampaikan ilmu yang bermanfaat dengan cara mudah dipahami oleh anak didiknya.
            Termasuk menjaga amanah adalah yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada dibawah kekuasaan dan pemeliharaannya. Semakin banyak atau semakin luas lingkup kekuasaannya maka semakin besar tanggung jawabnya. Seorang kepala desa tanggung jawabnya lebih besar dari pada seorang kepala dusun, dan seterusnya sampai seorang presiden, sebagai kepala pemerintah dalam suatu Negara, maka tanggung jawabnya adalah meliputi seluruh Negara. Begitu pula seorang suami bertanggung jawab atas keluarganya dan seterusnya.
            Sudah semestinya bagi pemimpin rumah tangga untuk memelihara keluarganya dari hal-hal yang membahayakan mereka, baik urusan dunia apalagi akhiratnya. Terlebih pada saat kerusakan dan kemaksiatan tersebat dimana-mana. Sebagaimana setiap orang tentu akan berusaha menjaga hartanya ketika dia mendengar bahwa pencurian dan semisalnya tengah merajalela. Namun sebetulnya, menjaga keluarga dan anak-anaknya dari kerusakan yang ada disekitarnya semestinya lebih diutamakan dari menjaga harta. Karena melalaikan kewajiban ini akan menyebabkan munculnya generasi mendatang yang akan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Juga karena setiap orang tua tentunya tidak menginginkan dirinya masuk ke dalam surga sementara anak-anaknya di adzab di api neraka. Oleh karena itu, semestinya kita berusaha menjaga amanah ini, sehingga mudah-mudahan Allah SWT menyelamatkan kita semua dan keluarga kita dari siksa api neraka.   Sedangkan Muhammad Abduh, membagi tingkatan amanah menjadi tiga yaitu :
Pertama, amanah hamba kepada Allah, yaitu menepati janji mereka untuk menaati semua perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Seorang hamba, yang amanah kepada Sang Khaliq, akan menggunakan hati nurani dan anggota tubuhnya untuk hal-hal yang bermanfaat baginya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, baginya, maksiat dan dosa adalah pengkhianatan terhadap Allah SWT.
Kedua, amanah hamba kepada sesamanya, yaitu, menjaga sesuatu yang diterima dan menyampaikan kepada yang berhak menerima. Orang yang dititipi barang atau pinjaman wajib menyerahkan kembali kepada pemiliknya dalam keadaan seperti semula. Bahkan pada sat ia diamanati sesuatu rahasia maka wajib menjaga rahasia itu dari kebocoran. Amanah semacam ini juga, menurut Imam A-Razi. Mencakup kejujuran para penguasa dan ulama dalam membimbing masyarakat.
Dan ketiga, amanah hamba kepada dirinya sendiri. Allah SWT membekali manusia dengan anugerah akal untuk membedakan antara yang hak dan yang batil. Oleh sebab itulah manusia menjadi mahkluk Allah yang paling mulia. Ia tidak boleh memilih sesuatu untuk dirinya, kecuali yang paling bermanfaat menurut agama serta kemanfaatan dunia.
Termasuk  juga bersifat amanah adalah orang yang menjaga dirinya dari sebab-sebab kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ataupun bencana alam. Kehidupan ini adalah amanah yang Allah titiipkan kepada kita agar kita merawatnya dengan sebaik mungkin. Sebab lalai dalam menyikapi nikmat sama artinya mengkhianati amanah llah SWT. Pengaruh kualitas amanah juga amat penting dalam menegakkan hukum di kancah social. Allah SWT memerintahkan hambaNya untuk menunaikan amanah, karena merupakan sumber keadilan dalam menetapkan suatu hukum.   “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hokum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. An Nisa’ : 58)
            Ayat ini mencakup seluruh jenis amanah. Diantara yang terpenting adalah tugas, pekerjaan dan jabatan. Siapa yang menunaikan kewajiban yang Allah bebankan pada tugas dan jabatan tersebutdan merealisasikannya kemaslahatan kaum muslimin, maka ia telah menunaikan amanah dan berbuat kebaikan untuk akhiratnya, dan yang tidak menunaikannya dengan baik serta menyia-nyiakan jabatan dan kedudukan yang diamanahkan kepada kita, apapun bentuknya, maka ia telah mengkhianati amanah dan mendapatkan bencana dan siksaan Allah SWT di akhirat nanti. Oleh karena itu, menjaga dan menyampaikan amanat adalah fitrah manusia. Jika amanah terjaga, manusia tidak perlu menuntut keadilan. Mari kita budayakan sifat amanah dan tegakkan hukum seadil-adilnya dalam setiap sendi kehidupan.
            Demikian juga amanah yang dititipkan orang kepada kita, kita wajib menunaikannya sebagaimana mestinya  dan jangan berkhianat walaupun orang lain mengkhianati kita. Semoga kita diberikan kekuatan lahir dan batin oleh Allah SWT untuk dapat menjaga dan menjalankan amanah yang diberikan kepada kita, dengan sebaik-baiknya, sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan didunia dan diakhirat.  Wallahu a’lam.

Kamis, 25 April 2013

KEMULIAAN SEORANG MUSLIM



KEMULIAAN SEORANG MUSLIM

Oleh : Anis Purwanto*

Dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani, berbagai macam cara yang ditempuh oleh manusia untuk mencari sesuatu yang dapat melegakan jiwanya, mencari kemuliaan dan martabat kemanusiaan. Berbagai macam cara dilakukan, baik dengan cara yang terhormat ataupun melanggar aturan sekalipun. Bahkan terkadang tak memperdulikan nilai-nilai dan norma agama dan masyarakat. Ketika kebutuhan jiwa terpenuhi, perasaan bahagiapun tersegarkan, kemudian merasa bangga dan mulia. Namun, kadang kala kebanyakan dari kita melupakan hakikat dan karakteristik kemuliaan yang sebenarnya.
            Diantara karakter kemuliaan sebagai seorang hamba beriman yang kami sampaikan kali ini adalah tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak berfaedah, apalagi yang senyatanya melanggar syariat agama atapun nilai-nilai dan norma kemanusiaan. Sebab sebagai orang yang beriman, kita mempunyai urusan yang sangat penting, bahkan melebihi yang ada di dunia ini,  yakni urusan keakhiratan. Orang-orang yang beriman tak memiliki waktu kosong lagi untuk bermain-main yang tak berarti, karena ia disibukkan dengan tuntutan keimanannya, dakwahnya dan beban-beban tugasnya yang ia tanggung.
            Orang-orang yang mulia juga adalah orang-orang yang segera sadar ketika diingatkan dan mudah mengambil pelajaran jika diberi nasehat, hatinya terbuka untuk menerima ayat-ayat Allah yang mereka terima dengan pemahaman dan mengambil pelajran. Sehingga, mereka mengimaninya dengan keimanan yang penuh dengan kesadaran, bukan fanatisme buta dan tidak menenggelamkan wajah. Jika mereka bersemangat membela aqidahnya, membela agamanya, membela saudara seiman mereka, maka hal itu mereka lakukan dengan sikap semangat seorang yang benar-benar mengetahui dan memahami ajaran agamanya, penuh kesadaran dan hatinya terbuka. “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta”. (QS. Al Furqon 73)
            Inilah perasaan fitrah keimanan yang mendalam. Perasaan senang untuk menambah bilangan orang-orang yang berjalan dijalan Allah, dengan mengedepankan perjuangannya untuk menegakkan kalimah Allah dimuka bumi ini, dengan melaksanakan amar makruf nahi mungkar, mengajak untuk melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT.  Sebab tidak cukup kesholihan itu adalah milik pribadi, akan tetapi milik semua, sebagai rahmatan lil ‘alamamin. Orang-orang yang beriman juga selalu menyenandungkan do’a-do’a untuk menambah jumlah orang-orang penyembah Allah. Dan yang pertama adalah diri dan keluarganya, baru kepada kita semua.
            Setiap orang beriman  pasti akan menyadari bahwa ketika ia hidup di dunia ini, ia akan hidup dalam batas waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh san pencipta. Usia kita berbeda satu sama lain, begitu juga amal dan bekalnya. Setiap orang yang berimanpun amat menyadari bahwa mereka tidak mungkin selamanya tinggal di dunia ini. Kita menyadari bahwa kita sedang melalui perjalanan menuju kepada kebahagiaan yang kekal abadi. Dan ini sungguh berbeda dan sangat berlawanan sekali dengan kehidupan orang-orang yang tidak beriman. “Tetapi kamu (orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al A’la :16-17).
            Sayangnya, kesadaran ini seringkali terlupakan oleh diri kita sendiri. Padahal, bukan tidak mungkin, hari ini, esok, atau lusa, perjalanan itu harus kita lalui, bahkan dengan sangat tiba-tiba. Jiwa manusia yang selalu digoda dan diuji oleh hawa nafsu, kemalasan bahkan lupa, kemudian menjadi lemah semangat dalam mengumpulkan bekal dan beribadah, membuat kita menyadari sepenuhnya bahwa  kita adalah manusia yang selalu membutuhkan siraman-siraman suci  berupa firman Allah dan sabda Rasulullah, ucapan hikman para ulama, bahkan saling menasehati dengan penuh hikmah dan penuh keihklasan sesama saudara seiman. Sehingga kita tetap berada pada jalan yang benar, istiqomah melaui sebuah proses perjalanan menuju Allah SWT.
            Lalu yang  perlu  menjadi bahan perhatian kita dalam mempersiapkan bekalan untuk melalui perjalanan dari dunia ini menuju kehidupan yang abadi di akhirat, adalah :
Pertama, bekal berupa keimanan yang benar dan kokoh, aqidah yang bersih dan suci dar unsur-unsur syirik. Meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, kepada-Nya sajalah tempat bergantung, Ia adalah Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur Alam semesta, kemudian memurnikan ibadah kepadaNya, ihklas dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan seluruh laranganNya.
Kedua, adalah kesungguhan dalam amal sholeh dan dalam menangkap segala peluang kebajikan. Seperti halnya perjalanan jauh yang akan dilalui, jika tidak disertai dengan kesungguhan dalam mengatur waktu dan mempersiapkan segala sesuatunya, maka boleh jadi ia akan tertinggal, bahkan tersesat dan kebingungan. Sesunguhnya apa yang dilakukan seseorang adalah berpulang untuk dirinya sendiri. Kemudian penting halnya juga untuk menangkap setiap peluang amal di sekitar kita, meski amal itu sederhana dan tidak datang setiap waktu. Cukuplah menjadi pelajaran kita bersama tentang seorang pelacur yang rela mengambilkan minum untuk seekor anjing yang kehausan, padahal ia sendiri sedang dahaga luar biasa, dahaga akan ampunan Tuhan, namun dengan amalan yang sangat sederhana itu ternyata dapat menghantarkan ampunannya dan menghantarkan dirinya ke surga. Maha suci Allah, kesempatan yang seperti ini memang tidak datang dua kali, namun pasti akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari.  Misalnya yang paling sederhana lagi menyingkirkan duri yang melintang dijalan. Hanya saja, perlu kejelian dan kesungguhan hati.
Ketiga, mewaspadai akan hilangnya bekal yang telah dikumpulkan, lantaran sikap kita terhadap orang lain. Inilah kerugian yang sangat besar, jika hilangnya bekal di dunia, masih ada kesempatan untuk dicari kembali, namun jika hilangnya bekal itu di akhirat bagaimana mungkin untuk mengumpulkannya kembali, sedang hisab telah menunggu.  Sungguh inilah kerugian yang besar dan amat menyedihkan. Bekalan yang sudah disiapkan semasa di dunia, tidak dapat menolongnya sama sekali. Maka kebersihan hati, kebersihan ucapan, kebersihan sikap, berbaik sangka pada sesama orang beriman harus selalu ditanamkan di dalam hati kita masing-masing, agar setiap kebaikan yang telah dilakukan tidak hilang sia-sia.
Maka seharusnyalah setiap orang beriman benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal dan abadi itu. Karena hakekatnya, hari inilah masa depan manusia yang sesungguhnya. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Harapannya, kita selalu  dapat memperbaharui kembali komitmen yang telah kita ikrarkan, untuk selalu menjadikan sholat kita, ibadah kita, hidup dan mati kita hanyalah untuk Allah , Tuhan semesta alam. Wallahu a’lam. (Diambil dari beberapa tulisan).

Jumat, 22 Maret 2013

KHUTBAH JUM'AT BAHASA JAWA : GANGGUAN JIWO



KHUTBAH JUM’AT BAHASA JAWA
“GANGGUAN JIWO”
Dening : ANIS PURWANTO


Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Mangga para sederek kita ngaturaken taqwa lan syukur kita ing ngarsa dalem Allah SWT. Ingkang sampun paring kanikmatan, kesenengan, rizki, lan pagesangan dhumateng kita sedaya,  sahingga kanthi rahmatipun Allah ugi kita sedaya tetep wonten ing salebeting iman lan Islam. Mugi rahmat saha salam kaparingna dhateng panutan kita Nabi Muhammad SAW. Mugi-mugi kita sedoyo kagolong ewoning poro muttaqin, nindakaken sedaya dhawuhipun sarta nilaraken sedaya awisanipun. Sumangga kita sami tansah berjuang lan beramal kados dene ingkang sampun kagarisaken dening Allah SWT wanten syariat agami Islam,  Sampun ngantos  tumindak kita nyimpang saking tuntunan agami ingkang suci , supados gesang kita  pikantuk rahmat sarta pangayomanipun Allah SWT, tata tentrem karta raharja, lan manggih kabekjan fid dun yaw al akhirah.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah
            Wekdal dereng dangu punika, kathah kedadosan ingkang ndadosaken mirisipun manah kita sami, kadosdene rojopati kanthi dipun mutilasi, malah kanthi dipun buang, dipun ecer-ecer ing tengahipun dalan tol, pawartos rudopeksa, malah wonten ingkang dipun tindakaken dening tiyang sepuh dhumateng anakipun piyambak, koropsi, manipulasi, narkoba, dados pawartos saben dinten ing layang kabar ugi ing televisi. Tuwuh lan kiyatipun penyakit sosial lan kejiwaan ing tengah-tengahipun masyarakat kita, dipun milai saking wontenipun perilaku menyimpang. Penyakit punika saya dangu ketawis saya ndadra lan radi angel dipun usadani. Ingkang tundonipun masyarakat umum ingkang badhe nampi kerugian ingkang ageng.
            Selajengipun, ingkang dados bahan pitaken sesarengan inggih punika, punapa sebabipun sedaya punika kedadosan, kamongko kita minangka jejeripun mahkluk sosial kagungan kewajiban sesarengan kagem mbangun bebrayan agung punika, mujudaken pagesangan ingkang tata tentrem kerta raharja. Ananging , para sederek, gesang wanten ini salebeting jaman ingkang dipun wastani jaman kemajengan kadas samangke punika satuhu andadosaken manah kita sakelangkung prihatos dene nyipati babaring kawontenan ingkang sarwo morak-marik. Rakiting hukum tata pranatan ngagesang tuwin angger-angger ingkang amrih tata tentrem raharjaning gesang sampun katrajang wani tanpa deduga lan prayoga. Sesipatan dalah paugeraning manungsa pranyata sampun malik grembyang kados dene bumi lan langit. Ingkang lepat kaanggep leres, ingkang leres dipun damel lepat, sedaya awisan dipun lampai, dene prentah sami dipun tebihi. Tumindak awon sampun kados padatan kalimrahing ngagesang, hawa nepsu angkara murka kaumbar sak sakecanipun tanpa wigah-wigih, wondene pakarti sae kaanggep aeng lan dados gegujengan. Punika kalawau wujudipun kawontenan ingkang kapranata mbaten mawi angger-angger tuntunaning agami Islam.
            Wanteng ing satunggalipun hadist Nabi SAW sampun ngengetaken, ingkang intinipun, wong sing nindakake donya dadi tujuan urip sing nomer siji, mula ora ana sathithik-thithika hubungan antarane dheweke lan pangerane. Lan dening Allah didadekake ing atine patang perkara “ 1. Gelisah kanthi terus-terusan. 2. Ribet kang ora ana enteke. 3. Rasa kurang sing ora ana cukupe. 4. Angen-angen sing ora bakal ketekan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah
            Ing cuplikan terjemahan ing nginggil saget kita pendet intinipun, sepindah ; manungsa badhe tebih saking bimbingan iman, gesangipun dipun agem kangge mburu kepentingan duniawiyah. Sedaya perkawis dipun ukur kabthi nilai materi, gusti Allah dipun tilar. Ingkang kaping kalih, tiyang ingkang dipun budhak kaliyan kepentingan duniawiyah, badhe ngidhep penyakit rokhani. Jiwanipun mbaten tenang, gelisah, sarenipun klisikan, mbaten purun syukur, kagungan sifat kirang ingkang hebat. Jiwanipun kemrungsung, kagubel raos ajrih, stres, persaingan tidak sehat, gampang nyalahaken tiyang sanes. Bilih pepinginanipun mbaten kaleksanan, gampil ngginakaken kekerasan, ingkang dados mirisipun tiyang sanes.
            Kagem nyikapi gejala tuwuhipun penyakit kejiwaan ing tengah-tengahipun masyarakat, kita umat Islam kedah wangsul dhumateng ajaran agami Islam. Sebab agami Islam sampun nuntun umatipun nuju margi ingkang dipun ridhoi dening Allah SWT. Ajaran keseimbangan ing agami Islam, inggih punika keseimbangan antawisipun kebetahan jasmaniah lan rohaniah dados kunci pokok kagem uwal saking sedaya penyakit sosial. Sebab kebetahan jasmaniah lan rohaniyah, kalih-kalihipun kedah kita upadi sesarengan lan mbaten saget kita pisahaken. Kawilujengan lan kebahagiaan donya dalah akhirat dados tujuan kita sami. Miskipun kenyataanipun angel kagem mujudaken. Ing saat kita berusaha nyekapi kebetahan jasmaniah, kanthi kerja keras, peras keringat,  banting tulang, ing saat punika ugi wekdal kangge nyekapi kebetahan rohaniah terkadhang saget kethetheran.
            Pramila saking punika keserasian kepentingan donya akhirat , ing agami Islam dados penting sanget, kados panyuwun kita “Robbana atina fidun-ya khasanah, wafil akhirati khasanah”. Sebab kebetahan lan kebahagiaan ing donya kagungan pengaruh ingkang ageng tumrap usaha kangge nuju kebahagiaan ing akhirat. Ibadah dhumateng Allah SWT kuncinipun. Selajengipun Allah badhe paring hidayah, sahingga punapa ingkang kita tindakaken, pokok punika barang khak, badhe mbekta manfaat tumrap diri pribadi dalah masyarakat. Ingkang tundonipun,  bilih manah dalah rohipun kanthi terus-terusan dipun siram roh ilahiyah, badhe tentrem lan tebih saking sifat  ingkang saget mbekta kerisakan lan kemudhorotan.
            Dipun sebadaken wanten ing Al-Qur’an Surat Yunus ayat 57 :

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٌ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَشِفَآءٌ۬ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدً۬ى وَرَحۡمَةٌ۬ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ (٥٧)
 “He para manungsa, sira wis padha oleh piwulang saka Pangeranira, yaiku Al-Qur’an, lan uga oleh obat lelara sajroning ati. Al-Qur’an iku dadi pituduh,  tumrape wong mukmin dadi rohmat”.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah
            Garis sunah Allah sampun cekap paring kesempatan ingkang ageng tumrap kita, kangge mbentuk pribadi muslim ingkang paripurna. Kantun kadas pundi kita. Margi kesesatan ingkang kita pilih, punapa margi rahmah. Sebab kita piyambak ingkang badhe nemtokaken. Bilih margi rahmat Allah ingkang kita pilih, mestinipun kita ugi kedah purun ngurbanaken diri, nindakaken sedaya dawuh saha nilaraken sedaya awisanipun Allah SWT. Sebab margi rahmah nuju pensucian diri, hingga pagesangan tetep ing margi ingkang dipun ridhoi dening Allah SWT.  Punapa kemawon hasil saking pagesangan kita ing ngalam donya punika , kita tetep kagungan sikep syukur. Ananging bilih kita nembe nandang kekirangan, kita tetap kagungan raos pitados bilih punika minangka ujian saking Allah SWT. Firman Allah wanten Al-Qur’an Surat Ali Imran : 186:

لَتُبۡلَوُنَّ فِىٓ أَمۡوَٲلِڪُمۡ وَأَنفُسِڪُمۡ وَلَتَسۡمَعُنَّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ مِن قَبۡلِڪُمۡ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُوٓاْ أَذً۬ى كَثِيرً۬ا‌ۚ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٲلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ (١٨٦)
  
“Temen sira kabeh padha dicoba dening Allah, tumrap awak lan bandhanira, lan sira kabeh bakal padha krungu ucapan kang ngrarakake ati, saka wong-wong sing diparingi kitab sadurungira, uga wong-wong kang nyekutokake Allah, kanthi gangguan kang akeh lan nglarani ati. Manawa sira pada sabar lan padha wedi “marang Allah”, satemene kang mangkono iku klebu sabecik-becike perkara”. (QS Ali Imran :186).
            Ugi kasebat wanten ing Al-Qur’an Surat Asy-Syamsi ayat 9-10  :

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّٮٰهَا (٩) وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّٮٰهَا (١٠)

 “Wong kang ngresiki awake saka dosa dadi wong kang beja lan temen kapitunan sapa sing ngregeti jiwane”.
            Akhiripun sedaya kegiatan pangibadahan kita punika sejatosipun wanten hubunganipun kaliyan usaha penyucian jiwa, kangge mbentuk pribadi muslim sejatos. Jiwanipun ayem, masyarakatipun tentrem, nyambut damel saget ngasilaken ingkang marem, akhiripun kita seget ngraosaken kebahagiaan kanthi mesam-mesem. Wilujeng, begja mulya awit ing ndonya khatal akhirat. Amin ya rabbal ‘alamin.