Selasa, 15 Januari 2013

DAKWAH INOVATIF : BERANI MENCOBA YANG BARU


DAKWAH INOVATIF
BERANI MENCOBA YANG BARU
Oleh : Anis Purwanto

             Zaman modern seperti sekarang ini sungguh  sanagt pesat sekali, baik perkembangan industry apalagi perkembangan di bidang tehnologi komonikasi sungguh demikian canggihnya. Seakan dunia ada didalam genggaman kita, sekat-sekat antar Negara seperti terbuka lebar. Sehingga satu peristiwa atau informasi yang terjadi pada hari ini di satu Negara terjauh sekalipun, hari ini pula dapat kita ketahui. Demikian pula kemajuan-kemajuan di bidang lain, telah dapat mempermudah kegiatan manusia dalam memenuhi hajatnya.
            Kemajuan tersebut sekaligus menjadi tantangan umat Islam, paling tidak mestinya umat Islam bisa memanfaatkan kemajuan ini demi perkembangannya dan menjadikan Islam sebagai wahana untuk rahmatan lil alamin. Meskipun kita sadar bahwa adanya kemajuan di segala bidang sekarang ini di sisi lain membawa dampak yang sangat luas. Sebagian dari kita umat Islam nyatanya belum mampu menerima ini semua, bahkan diantara kita yang terpengaruh begiitu jauh dan bahkan tergila-gita dengan kemajuan tersebut, sehingga banyak yang lupa akan jati diri, kebutuhan rohani terabaikan, meremehkan peranan agama, bahkan meninggalkan sama sekali akan perintah agama, msekipun di bajunya masih ada atribut Islam. Mereka terbuai dengan kenikmatan dan kemudahan yang diperoleh dari adanya kemajuan zaman yang serba indah.
            Keadaan seperti ini terjadi disebabkan oleh karena pertahanan iman yang sangat rapuh. Keimanan yang sangat rapuh ini menjadikan kita sangat mudah tertipu oleh gemerlapnya dunia, sehingga makin lama iman kita menjadi luntur dan terkubur. Maka bila iman kita telah luntur dan terkubur, tentu agama akan tertinggalkan.  Agama hanya dijadikan identitas semata, “Kamu hari ini jmlahnya banyak, akan tetapi kamu bagaikan buih diatas permukaan air, dicabut rasa takut musuhmu terhadapmu, dan menjadikan dalam hatimu al wahn, cinta dunia dan takut mati”. (HR.Ahmad).
            Begitu pula bagi sebagian dari kita ada yang beranggapan bahwa beribadah tidak akan menjadi kaya, tentu sangat merugikan bagi keutuhan iman. Hal itu lama-kelamaan akan mengikis motivasi keagamaan umat Islam, sebab dipandang bahwa agama menjadi tidak penting, tidak ada gunanya bagi hidupnya. Bahkan agama dianggap menjadi penhambat kemajuan, menghambat kegiatan duniawiyahnya, sehingga waktu yang digunakan untuk melaksanakan perintah agama, menjadi terbuang sia-sia. Kecenderungan yang berlebihan terhadap urusan keduniaan menjadikan kita melecehkan agama, seolah-olah agama sudah tidak dibutuhkan lagi, yang menjadikan kita malas berfikir akan hakekat hidup yang sebenarnya. Kita telah diperhamba oleh dunia dan permainannya, “Sesungguhnya hidup dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu”. (QS. Muhammad:36).
            Keadaan seperti ini menjadi tantangan yang sungguh berat bagi pelaksana kegiatan dakwah. Didalam menghadapi perkembangan zaman yang sangat modern ini, seseorang da’I dituntut mempunyai inovasi dalam berdakwah, dengan cara mencoba yang baru didalam kegiatan dakwahnya. Meskipun jalan yang ditempuh terlihat kontroversi, atau mungkin bagi kebanyakan orang kegiatan itu sangat sederhana. Langkah awal menuju dakwah inovatif ini adalah adanya keberanian untuk mau mengambil resiko sekecil apapun. Sebab berbicara masalah dakwah adalah berbicara masalah umat dengan segala problematika kehidupannya, untuk dicarikan solusi pemecahan. Sehingga apa yang ia lakukan merupakan media jihad dan media hijrah menuju kesempurnaan tatanan hidup dalam kehidupan manusia.
            Keberhasilan langkah-langkah dakwah yang kita lakukan juga banyak ditentukan adanya pengalaman pelaksana dakwah. Sebab pengalaman merupakan guru yang sangat bijaksana. Orang yang mempunyai pengalaman banyak, didalam tindakannya banyak pilihan-pilihan. Apabila satu langkah dirasa kurang tepat ia akan mengambil langkah lain yang lebih sesuai. Di sisi lain ia tak segan-segan belajar dari pengalaman orang lain. Dengan demikian ia akan mudah menghadapi perkara-perkara yang ruwet sekalipun. Dengan pengalaman-pengalaman yang dimulai dengan mencoba lalu salah akan timbul penalaran yang luas, matang jiwanya. Sehingga mempunyai sikap yanga rif dan bijaksana. Sebab banyak orang yang hidupnya secara duniawiyah berhasil dimulai dari mencoba perkara-perkara atau usaha baru yang sebelumnya belum dimengerti.
            Mencoba yang baru merupakan tindakan yang banyak mengandung resiko. Namun yang namanya resiko, sebetulnya merupakan hal yang lumrah dalam setiap kegiatan. Da’I dan mubalighpun menghadapi resiko yang sangat berat, ia sering mendapat tantangan dari orang yang senang berbuat kerusakan. Seorang da’i/muballigh sering dicaci, dikritik dan tindakannya selalu dievaluasi orang lain. Kerenanya ia merupakan agent of change dan central figure yang berupaya menempatkan diri sebagai pembaharu moralitas umat, menuju kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Maka inovasi dakwah merupakan modal dasar akan keberhasilan dalam kegiatan mengajak. Disisi lain seorang da’i/muballigh harus juga beerani menjadi contoh bagi orang lain. Oleh sebab itu ia harus berani juga memulai dari diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mengajak orang lain. Karena jangan sampai kegagalan diri ditulrkan kepada obyek dakwah. Sebab konsep “mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk” sangat relevan sebagai slogan dakwah. Meskipun slogan itu sering diartikan oleh obyek dakwah dengan arti yang bersifat kebendaan (sandal-sepatu).
            Masalahnya adalah mau atau tidak mencoba perkara-perkara yang baru, yang disesuaikan dengan pola pemikiran masyarakat di zaman modern sekarang ini. Sebab apabila kita mengandalkan pada pola-pola konvensional, dikhawatirkan masyarakat merasa jenuh. Sehingga hasil yang akan kita capai tidak akan terlaksana. Di sisi lain menggunakan media canggih, sebagian masyarakat kita belum mampu. Ini justru yang menarik dari ilmu dawah. Ilmu yang sangat kompleks permasalahannya, karena langsung bersinggungan dengan pemenuhan hajat hidup  umat diseluruh alam, yang mencakup dunia akhirat. Meskipun dakwah sangat erat dengan persoalan iman dan taqwa kepada Allah SWT, akan  tetapi karena cakupannya yang sangat luas itu, maka dakwah selalu menarik untuk dibicarakan. Sebagai ilmu terapan, dakwah dibutuhkan adanya tangan-tangan yang inovatif.
            Puncak dari inovasi yang dimaksud adalah seorang da’I dan muballigh harus pandai-pandai memilih materi dan mediayang tepat dalam menghadapi satu obyek dakwah. Sebab bagi masyarakat modern, yang saban hari dihadapkan dengan rutinitas pekerjaan yang sibuk, belum tentu cocok menggunakan media dakwah yang canggih. Sebab ada kalanya mereka menginginkan nuansa baru yang lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya dengan menggunakan media yasinan dan tahlin, membaca asma’ul khusbna bersama-sama, mungkin lebih efektif dan mengena sasaran. Di lain fihak untuk kalangan masyarakat pedesaan yang tradisionalis, mungkin saja lebih tertaruk dengan cara dan media dakwah yang modern, misalnya dakwah (menerangkan satu persoalan agama) menggunakan laktop, yang dilengkapi dengan keterangan berbentu tulisan gambar-gambar ataupun vedio menarik justru lebih mengena.
            Tetapi meskipun demikian kita harus tetap menggunakan cara yang hikmah, sebab dengan cara yang Allah pilihkan ini insya Allah dakwah akan tetap menarik dan banyak diminati, baik oleh pelaku maupun obyek dakwah. Dengan cara yang hikmah, Islam akan selalu hadir di hati umat. Islam dapat dirasakan akan kebenarannya, serta merasakanmakna yang sesungguhnya atas ajaran yang dikandungnya. Disini kita menemukan ketenangan hakiki. Mereka merasakan bahwa ajaran Islam telah memberikan terapi yang paling mujarab untuk mengatasi berbagai konflik kejiwaan, “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmatbagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra’:82). Demikian pula kita merasakan bahwa Islam menjadi sangat penting hadir ditengah-tengah kemajuan industry, bahkan kemajuan yang secanggih apapun tetap sangat dibutuhkan. Wallahu a’lam.



Selasa, 01 Januari 2013

MERAIH KEMULIAAN


MERAIH KEMULIAAN
Oleh : Anis Purwanto

            Islam adalah agama universal, artinya Islam diturunkan oleh Allah SWT untuk semua makhluk Allah di muka bumi, untuk dipedomani didalam menata dan mengelola bumi dan isinya. Sebagai agama rahmatan lil alamin, agama Islam tidak mengenal ras. Islam memandang semua sama. Hanya ketaqwaannya kepada Allah lah yang membedakan manusia yang satu dengan lainnya, ketaqwaan dan keimananlah yang dapat memuliakan manusia. Allah tidak memandang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata. Semua dihadapan Allah sama. Harta, tahta, dan “ta” yang lainnya adalah hiasan duniawi yang bersifat sementara. Dan kesenangan sejati adalah derajat kemuliaan di sisi Allah :
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ۬ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبً۬ا وَقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوٓاْ‌ۚ إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu diisisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu”.  (QS. Al Hujarat::13).
            Kemuliaan seseorang tak ditentukan oleh status social dan ekonomi serta warna kulit atau factor-faktor lainnya yang bersifat keduniawian. Kalaulah boleh disebut mulia, kemuliaan itu terbatas, dibatasi waktu dan tempat. Pejabat misalnya, dimuliakan karena jabatannya, selagi memegang jabatan. Apapun yang dikatakan akan dijadikan acuan bawahannya, semua orang harus tunduk padanya. Siapa yang berani ingkar sama saja menentang bahaya, bahkan tidak akan diampuni. Namun setelah ‘lengser” jabatan, ia kembali sebagai manusia biasa, seperti lainnya. Kalau sudah tidak memegang kekuasaan dan tidak berada  di lingkungannya, tidak lagi dimuliakan. Apalagi bila selama memegang pangkat jabatan tersebut ia “adigung adiguna”, bersifat sewenang-wenang terhadap orang lain. Sebagai contoh, banyak kasus di negeri ini, sebagaimana yang banyak dilangsir di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, yang dulunya duduk di kursi yang dimuliakan, namun setelah masa kerjanya selesai, atau bahkan masih memangku jabatan sekalipun ia menunai hinaan, diperkarakan di depan Majelis Hakim duduk di kursi pesakitan lantaran terduga tindak koropsi.
            Bila seseorang dimuliakan karena hartanya, ia Nampak gagah dan mulia selagi kaya raya. Namun setelah jatuh bangkrut, karena icabut semua yang dianggap kemuliaan itu oleh Allah, misalnya karena kebakaran hebat yang menghanguskan semua harta bendanya, maka dalam waktu sekejap kemuliaan itu akan sirna, dan tidak akan dianggap mulia lagi. Kesemuanya akan kembali sebagaimana yang lain, tidak dimuliakan karena pangkat dan jabatan, tidak dimuliakan karena seseorang konglomerat yang kaya raya. Di kendaraan misalnya, jika naik kendaraan umum sekiranya sudah penuh, ia harus mau berdiri, seperti orang kebanyakan. Di pasarpun harus mau berdesak-desak dengan mbok-mbok bakul, yang bahkan kalau tidak hati-hati bisa kecopetan atau dikutil.
            Inilah sebabnya, kalau boleh meminjam istilah kemuliaan, maka kemuliaan dibatasi oleh waktu dan tempat, yang tidak dapat dicapai hanya melalui status social, ekonomi ataupun warna kulit. Sebab apabila factor itu yang menjadi syarat untuk mencapai kemuliaan, dapat dipastikan hanya segelintir orang yang dapat memenuhi syarat untuk meraih kemuliaan, berarti tidak semua orang dapat mencapai derajat kemuliaan.
            Dalam pandangan Islam semua manusia memiliki hak yang samauntuk mencapai derajat kemuliaan. Kemuliaan yang sebenarnya adalah dengan iman dan taqwa, tanpa memandang status social ekonomi yang bersifat keduniawian. Bilal bin Rabah misalnya, seorang budak belian berkulit hitam, karena keluhuran dan kemuliaan hatinyalah ia diangkat sebagai muadzin, orang yang mengumandangkan adzan untuk melakukan shalat. Suara adzan Bilal di dengar orang termasuk Nabi Muhammad SAW.
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
 “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman”. (QS. Ali Imran:139).
            Iman dan taqwa merupakan nilai tertinggi di mata Allah, yang keduanya sebagai landasan utama didalam meraih kemuliaan. Sehingga kemuliaan seseorang di dunia, sebetulnya merupakan hiasan dan kesenangan semu, yang justru bagi orang yang beriman dan bertaqwa semuanya itu harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah, sebagai amanah. Kemuliaan di akhirat adalah kemuliaan sejati. Wallahu a’lam.



Senin, 31 Desember 2012

KUNCI SUKSES DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW : TINJAUAN PRAKTIS TENTANG SEJARAH DAKWAH


KUNCI SUKSES DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW
TINJAUAN PRAKTIS TENTANG SEJARAH DAKWAH
Oleh : Anis Purwanto

            Sebagai seorang muslim yang taat atau seorang mukmin yang baik, pastilah tidak akan meragukan atas Rasul Muhammad SAW,  itu sebagai insane kamil. Beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul yang memiliki empat sifat kenabian (kerasulan): Shidiq, amanah, tabligh dan fathonah, serta terjauh dari sifat lawannya. Bahkan beliau dinobatkan sebagai seseorang yang sangat dipercaya, dengan gelar al amin.
            Beliau adalah satu-satunya penyampai, penjelas dan pengamal Al-Qur’an yang sangat sempurna. Beliau SAW adalah satu-satunya yang amaliyah, haliyah dan ubudiyah, menjadi cerminan utuh dan paripurna, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan keselamatan di hari kiamat dan banyak menyebut asma Allah”. (QS. Al Ahzab:21)
            Bila kita menyimak kembali dalam sejarah dakwah Rasulullah pada awal penyiaran agama Islam, beliau adalah seorang yang mendahulukan tazkiyah dalam menghadapi kejahilan kaumnya, dengan sifat yang sabar, tekun, pantang menyerah, dan penuh optimis atas datangnya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Sehingga dengan ketangguhan dan ketabahan mental yang luar biasa serta satunya kata dengan perbuatan, selalu terdepan ‘ibda’ binafsih’. Beliau tidak pernah melupakan berdoa kepada Allah SWT, baik bagi dirinya maupun keluarganya, sahabat dan pengikutnya bahkan bagi musuh-musuhnya. Dengan demikian Nampak sebagai sinar terang yang mampu menembus relung kegelapan dan mampu membukakan kebutaan mata hati yang jahili.
            Malahan tonggak sejarah kesuksesan dakwah Islamiyah Rasulullah  berawal dari penegasan Rasulullah tentang kewajiban menyampaikan amanah. Penegaasan Rasulullah SAW itu disampaikan dalam khutbah Wada’ yaitu sebuah pidato pamitan dengan umatnya di padang Arofah, sebelum baginda menerima wahyu terakhir ayat 3 Surat Al Maidah. Isi dari khutbah perpisahan tersebut, beliau menegaskan untuk menjadi pegangan umat Islam sepanjang masa yang antara lain, penegasan kewajiban menjaga keamanan jiwa, harta milik manusia, kewajiban menyampaikan amanah, menghapuskan riba, hak dan kewajiban kehidupan rumah tangga dan keluarga, pemeliharaan ukhuwah Islamiyah dan penegasan tentang persamaan hak dan martabat manusia.
            Dalam setiap penegasan itu Rasulullah selalu bertanya kepada umatnya, “Apakah aku telah menyampaikan kepada kalian?” . Umat menjawab dengan penuh haru dan khidmat, “Benar, engkau telah menyampaikan”.   Puncak atau klimaks dari pesan terakhir itu sampai pada ucapan, “Camkanlah wahai kalian ucapanku ini, sesungguhnya aku telah menyampaikan dan meninggalkan kepadamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh dengannya, niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, sesuatu itu jelas dan terag yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabinya”.
            Penegasan tersebut kemudian diiringi dengan sebuah pertanyaan. “Dan sesungguhnya jika ditanya tentang aku, maka apa jawab kalian ?”. Lalu dijawab oleh umat yang hadir waktu itu, “Ya Allah kami bersaksi bahwasannya engkau Muhammad sungguh benar-benar telah menyampaikan, menunaikan dan memberi nasehat dengan sebenar-benarnya”. Sesudah itu Rasulullah mengacungkan tangannya ke atas dan kemudian ditunjuk kepada orang banyak dan bersabda, “Ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah”.
            Penegasan Rasulullah diatas mengandung tugas yang sangat berat dan mulia bagi semua umat Islam. Sebagai pengikut Rasul alangkah bahagianya jikalau kita mampu menyampaikan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Apabila Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi seluruh isi alam, maka bagi kita umat pengikut Rasul tidak perlu seluas isi alam sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul, tetapi cukuplah kiranya kita dahulukan rahmat itu kepada keluarga, kemudian kepada masyarakat sekeliling kita dan baru kepada umat seluruhnya.
            Misi Nabi Muhammad SAW, yang juga misi Islam adalah berjuang untuk menyebarluaskan dan membagi-bagi rahmat Allah kepada segenap insan, tanpa kecuali. Dengan Islam rahmat Allah akan Nampak dirasakan oleh pemeluknya dan juga oleh umat yang lain. Karena rahmat Allah meliputi segalanya, tanpa pilih kasih. Dan setiap muslim dengan segala kemampuan yang ada padanya, harus mengambil peran meratakan rahmat Allah kepada siapapun yang membutuhkan. “Sesungguhnya Allah telah membeli (kemampuan, tenaga dan pikiran) pada diri kaum muslimin, dan harta milik mereka (dengan jaminan) bahwa mereka itu akan masuk surga”. (QS. At Taubah:111).
            Kontrak antara Allah dengan orang-orang beriman, bahwa jiwa raga beserta segenap potensi yang dimiliki dengan imbalan surge adalah hasil dari perbuatan seorang muslim dalam pengabdian totalnya kepada Allah SWT, untuk ikut menyebarluaskan rahmat Allah kepada sesame hidup. Pengabdian yang bulat, kesetiaan serta ketaatan yang penuh kepada sang khaliq adalah merupakan landasan dan motivasi yang dahsyat dimana seseorang muslim rela berkorban dengan apa saja yang dimiliki didalam menegakkan ajaran Islam di tengah-tengah pergulatan zaman.
            Di dalam pola kerja (proses penyampaian dan atau dalam rangka memecahkan persoalan umat), haruslah ditautkan dengan kondisi obyektif yang dihadapi/masalah yang digarap. Bukankah Nabi SAW pernah memerintahkan sahabat Mu’adz bin Jabal, “Permudah dan janganlah engkau pesulit”. Inilah kunci sukses dakwah Rasulullah dan para sahabatnya. Dan kini yang terpenting adalah bagaimana kemampuan kita dalam menginventarisasi persoalan Islam dan umat Islam secara kategoristik dari yang terberat dan terbesar sampai pada persoalan yang terkecil, dalam suatu peta dakwah yang lengkap dengan criteria dari masing-masing persoalan. Kemudian dituangkan kesemuanya itu dalam program kerja kegiatan mulai yang berskala pendek sampai jangka panjang, dalam rangka menjawab persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. Wallahu a’lam.

Selasa, 18 Desember 2012

PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM


PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : Anis Purwanto

            Kebudayaan modern didominasi oleh ilmu pengetahuan dan tehnologi yang secara realitas berkat kemajuan tersebut terjadilah perubahan social yang menyangkut seluruh bidang kehidupan. Perubahan social yang hanya berprinsip pada aspirsi baru akan menciptakan krisis identitas yang fatal. Maka didalam proses perkembangannya diperlukan adanya visi spiritual dan cultural yang diharapkan mampu menjadi kompas kearah kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengoreksi kecenderungan negative dari ilmu pengetahuan dn tehnologi. Sehingga perubahan social tersebut tidak sekedar masyarakat berubah melinkan mempunyai tendensi kearah kemajuan unsure inovasi dan kondisi yang lebih baik dari pada masa-masa sebelumnya ilmu pengetahuan dan tehnologi tersebut muncul dalam bentuk-bentuk yang membawa kemaslahatan.
            Problematika pendidikan diabad modern sekarang ini semakin kompleks, sejajar kompleksnya dengan problem social dewasa ini, tidak ketinggalan di dunia pendidikan Islam. Bahkan tidak sedikit persoalan-persoalan itu muncul sebagai tantanagan atas eksistensi pendidikan Islam. Dalam masalah ini kemudian timpul satu pertanyaan dalam benak kita mampukah pendidikan Islam menjawab persoalan-persoalan ini ?. Sementara itu dalam konteks Indonesia kita selaku umat Islam terus menerus diuji dengan berbagai persoalan domestic yang merata disemua lini kehidupan, mulai idiologi, politik, ekonomi, social dan budaya sampai kepada pertahanan dan keamanan. Bahkan kita tidak boleh lengah sedikitpun terhadap adanya usaha-usaha pemurtadan melalui institusi pendidikan. Kita masih ingat bagaimana alotnya pengesahan Sistem Pendidikan Nasional yang baru, berkaitan dengan kuatnya penolakan sebagian warga masyarakat termasuk sebagian umat Islam sendiri. Padahal itu hanyalah baru langkah setapak dari umat Islam untuk memberi peran agama dalam pendidikan dari sekian panjang jalan perjuangan yang harus ditempuh oleh umat Islam.
            Jalan yang dilalui oleh umat Islam didalam memberikan peran dalam upaya mencerdaskan bangsa sungguh sangat jelas, sebab konsep dan metode pendidikan Islam telah lahir sejak masa Rasul Allah. Pendidikan Islam sejak awal berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dasar filsafat pendidikan Islam adalah untuk mengarahkan keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Oleh karenanya umat islam bersikap tekas terhadap usaha-usaha pendangkalan akidah atau bahkan pemurtadan secara sistematis terhadap anak-anak muslim melalui institusi pendidikan (sekolah). Wajar bila umat Islam menghendaki bahwa “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama”. Padahal kalau kita mau bersikap jujur, sesungguhnya keinginan tersebut telah sesuai benar dengan amanat UUD 1945, khususnya pasal 31 ayat 1 ; “pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan system pendidikan nasionalyang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahklak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa’.
            Gagasan-gagasan yang berusaha untuk mempersempit ajaran Islam menjadi ajaran akhirat semata adalah suatu yang sangat membahayakan pada kebesaran agama Islam itu sendiri. Akibat yang paling ringan adalah akan terjadi desakralisasi Islam. Ajaran Islam hanya berfungsi sebagai hiburan. Agama Islam bukan lagi sebagai tuntunan melainkan sebagai tontonan yang diperlukan pada saat merasa membutuhkan. Seorang muslim hanya akan bisa dilihat ketika ia berada di dalam masjid, sedang pada saat diluar masjid tidak bisa lagi dilihat ciri-ciri kemuslimannya. Bahkan akan lebih bangga apabila memakai etika bebas yang dikirim oleh orang-orang barat yang jelas-jelas menghendaki pemisahan dunia dan akhirat.
            Namun semua ini tergantung pada umat Islam sendiri, Rasulullah hanya mewariskan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman hidup, yang bersifat universal, sehingga hanya memberikan prinsipnya saja. Oleh karena didalam menjawab persoalan yang dihadapi dunia pendidikan Islam, perlu kita perhatikan prinsip pendidikan Islam; Pertama, sebagai usaha sadar membina, membimbing dan mengembangkan kepribadian serta kemampuan dasar anak didik, baik forman maupun non formal. Pendidikan adalah ihtiar manusia dalam rangka membantu pengembangan dan mengarahkan fitrah manusia agar bisa berkembang secara maksimalsesuai tujuan yang dicita-citakan. Usaha pendidikan harus bertujuan meningkatkan iman dan taqwa, tujuan yang bersifat oprasional disusun berdasarkan perkembangan jaman dan kemaslahatan hidup yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sehingga adanya keseimbangan antara IPTEK dan IMTAQ.
            Kedua; azas pendidikan Islam adalah pendidikan seumur hidup (long life education) berdasarkan fitrah manusia, “Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat”. Bahkan disaat menghadapi sakaratul maut manusia perlu dididik sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Ajarilah orang yang akan mati dengan kalimat laa ilaaha ilallah”.
            Ketiga; setiap orang berhak memperoleh pendidikan. Adapun penanggung jawab pendidikan adalah keluarga, masyarakat dan pemerintah. Menurut ajaran Islam, sangat diprioritaskan bidang muamalah dan ubudiyah, yang tidak lepas dari tugas-tugas pendidikan itu sendiri, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka” (QS At Tahrim:6). Dapat kita perhatikan sabda Rasulullah SAW, “Masing-masing kalian bertanggung jawab atas orang yang kalian pimpin”.
            Keempat; tujuan akhir pendidikan tidak lain adalah terwujudnya insan kamil (manusia sempurna), memiliki keselarasan dan keseimbangan fisik, material dan spiritual, dunia dan akhirat. Dengan kata lain mampu menjaga stabilitas hubungan vertical terhadap tuhannya (hablum minallah) maupun hubungan horizontal terhadap sesamanya (hablum minannas). “Mereka ditimpa kehinaan dimana saja ia berada kecuali bagi mereka yang senantiasa menjalin hubungan vertikal dengan tuhannya dan hubungan horizontal dengan sesamanya (masyarakat). (QS Ali Imran:112).
            Berdasarkan prinsip pandangan bahwa manusia didalam dirinya terdapat kemampuan dasar (fitrah) baik rohaniah maupun jasmaniah, maka manusia memerlukan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan dasar menuju hajat manusia dalam segala hal baik bidang duniawiyah maupun uhkrowiyah, selaras dan harmonis. Wallahu a’lam.