Rabu, 19 September 2012

KEADILAN SOSIAL DALAM ISLAM


KEADILAN SOSIAL DALAM ISLAM
oleh : Anis Purwanto

            Hakekat kehidupan social adalah merupakan perwujudan dari nilai akidah yang dinyatakan dalam kegiatan yang mengandung kebaikan (amal saleh). Dan hanya dengan nilai taqwa yang menjamin adanya kehidupan yang baik, bukan hubungan yang dapat mewujudkan adanya kejahatan dan tindakan yang merugikan. Sebab dalam ajaran Islam, dasar idiologis dalam kehidupan social adalam Al-Qur’an, yaitu idiologi yang mengandung nilai keadilan sejati yang merupakan pancaran langsung dari akidah Islamiyah yang murni dan dilarang menggunakan dasar idiologi yang mengandung nilai kedhaliman (syirik).
            Dalam kesatuan akidah Islamiyah, yang menjadi dasar hubungan dan kerja sama social diwujudkan dengan cara saling tolong menolong. Sebab pada kenyataannya antara satu dengan yang lain ada perbedaan kemampuan (etos kerja) dan adanya perbedaan tabiat yang menimbulkan profesi yang berbeda. Perbedaan kemampuan (etos kerja) meliputi perbedaan sikap terhadap akidah yang dipancarkan dalam kerja. Dengan asumsi dasar bahwa perubahan status social (ekonomi) hanya dapat dirubah dengan usaha dan kerja keras. Bahkan kejayaan suatu generasi tergantung dari amal kebaikan (kerja) dari generasi yang bersangkutan, bukan karena generasi sebelumnya, “Baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggung jawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. 2:141).
            Dengan demikian kapasitas dan nilai kerja seseorang akan menentukan status dalam masyarakat dan dihadapan Allah SWT, artinya kemuliaan (status) dihadapan Allah dengan sendirinya meningkatkan status dihadapan masyarakat. Sebab pada dasarnya setiap kerja mengandung nilai baiak atau buruk. Kerja yang mengandung kebaikan akan mendatangkan kebahagiaan, sedang kerja yang mengandung nilai keburukan (kejahatan) akan mendatangkan penderitaan (kehancuran diri dan soSial).  Dan naik turunnya status seseorang diuji, apakah seseorang masih bekerja dengan iman dan berinteraksi social dengan baik, atau apakah dia saling bekerja sama dalam cara kerja yang keliru. Dalam ukuran idiologi yang mengandung nilai keadilan social, status social seseorang atau kelompok akan diperoleh jika mereka masih mengikuti fitri, dan akan turun (hancur) jika mengikuti hawa nafsu. Disamping akidah dan kerja yang menjadi dasar terciptanya stratifikasi social dalam Islam, ilmu dan tehnologi juga sangat berpengaruh. Penguasaan ilmu dan tehnologi menjadi prasarat adanya kerja yang terarah, efisisen dan efektif. Dengan demikian kerja yang dilandasi dengan iman dan penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi akan menghasilkan nilai lebih (maksimal). Sebab ilmu tanpa iman termasuk dholim yang akan menurunkan derajat kemanusiaan, menghancurkan diri dan masyarakat. (QS. Mujadalah:11).
            Islam dengan jelas menentang kedhaliman dan mewajibkan kepada pemeluknya untuk bersikap adil, yaitu yang bersifat lurus (QS.4:58),  di tengah-tengah (QS.53:22), berkesinambungan (QS.17:35) dan mengandung kebenaran mutlak (QS.4:105). Apabila msyarakat mempunyai komitmen yang kuat terhadap tegaknya keadilan, maka perubahan struktur didalam masyarakat tidak harus disertai dengan pergolakan, anarkhis yang justru membawa dampak negatip yang sangat luar biasa didalam masyarakat. Sehingga maksud penegakan keadilan justru berakibat kesengsaraan dan timbulnya rasa takut, ketidak pastian hukum dan krisis kepercayaan yang berkepanjangan. Dan sebaliknya perombakan harus dilandasi oleh kesadaran agama yang kuat. Terjadinya pergolakan itu apabila manusia mengedepankan penyakit manusiawinya (hawa nafsu), seperti rakus, sombong, kemunafikan, fasik, kekufuran dan musyik (dholim).
            Suatu hal yang menjadikan hambatan klasik didalam upaya pemerataan kemakmuran dan keadilan social adalah terbatasnya kesempatan kerja. Padahal sekarang ini orang telah menyebut zaman maju, zaman modern dan zaman keterbukaan. Dengan tingkat komoderenan seperti sekarang ini, dengan tersedianya sejumalah besar kemudahan dan fasilitas yanga canggih, tidak berarti menjamin kesejahteraan yang lebih merata. Karena fasilitas yang memberikan kemudahan dan kenyamanan hanya dapat dinikmati oleh mereka yang mampu membeli, sementara lapangan pekerjaan hanya tersedia bagi orang yang berpenddidikan tinggi. Kaum miskin papa, yang lemah “tidak” berhak untuk ikut menikmati kemakmuran dan keadilan social.
            Ajaran Islam merumuskan bahwa tujuan hidup adalah mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. Dalam mencapai kesejahteraan hidup itu manusia mau tidak mau harus berusaha. Oleh karenanya Islam meeletakkan kerja pada posisi yang mulia (ibadah). Bahkan dalam sejarah Islam dapat diketahui bahwa Rasulullah dan para sahabatnya untuk mencukupi kebutuhannya dan agar dapat beramal dengan baik, dilakukan dengan cara bekerja dan berusaha yang “makruf”, bahkan dikalangan sahabat mau bekerja sebagai kuli agar dapat beramal.
            Oleh karena keadilan social akan dapat terwujud dengan jalan memberikan kesempatan yang sama kepada semua warga masyarakat. Keseimbangan antara imtaq dan iptek, duniawiyah dan uhkrowiyah menjadi prasarat utama. Dimana Islam meletakkan kesejahteraan di dunia dan di akhirat secara seimbang. Tetapi mestinya hal-hal yang bersifat keakhiratan harus lebih diutamakan (imtaq). Sebab iman dan taqwa merupakan landasan utama untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (keadilan social). Wallahu a’lam.
           

Senin, 17 September 2012

TUGAS MUSLIM


TUGAS MUSLIM
Oleh : Anis Purwanto

            Islam menghendaki pemeluknya supaya menganut agama dengan keseluruhan (totalitas), tidak setengah-setengah, lahir dan batin, dengan penuh keimanan dan ketaqwaan yang meliputi jasmani dan rokhani. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kedalam agama dengan keseluruhan” (QS Al Baqarah :208). Islam memerintahkan kepada setiap orang yang beriman untuk masuk kedalam agama Islam dalam seluruh kegiatan hidupnya. Dengan kata lain setiap kegiatan hidup hendaknya selalu merupakan ajang pengabdian diri kepada Allah semata, bukan karena yang lain. Prof.Dr. Hazairin SH dalam “Hendak Kemana Hukum Islam”, Islam digambarkan sebagai menundukkan semua lapangan hidup lahir dan batin manusia kepada kemauan ilahi. Ungkapan itu sangat dalam arti dan maknanya, yaitu menghendaki setiap muslim didalam setiap langkahnya selalu mencari tempat pertemuan dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.
            Sehubungan dengan itu, jika diamati suasana Islam di bumi Indonesia sekarang ini, maka akan timbul sebuah pertanyaan, “Sejauh mana suasana Islam yang terwujudkan, jika dikaitkan dengan segi kualitas umat Islam”?. Sebab kalau dilihat dari segi kwantitas, Islam di Indonesia adalah mayoritas. Maka potensi sebagai umat yang mayoritas ini seharusnya dapat dipergunakan sebagai modal dasar dan mempunyai kekuatan yang luar biasa besarnya terhadap semua gerak “Dakwah Islamiyah”. Sebagai upaya membentuk pribadi yang “amanu sholikhah” dalam keseluruhan (kaffah). Dengan mayoritas ini pula, maka sudah sepantasnya kalau umat Islam telah menampakkan cirri khas sebagai diri seorang muslim dan atau sebuah komonitas muslim, yang berkebudayaan Islam dalam kehidupan sehari-hari atau dengan kata-kata yang lebih mentereng “Mengislamkan masyarakat dan memasyarakatkan Islam”. Namun apa yang Nampak dihadapan kita belum terwujud sepenuhnya.
            Dapat kita ambil contoh yang sangat sederhana, yaitu mengucapkan salam jika bertemu sesama muslim “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuuh”. Hal ini dapat kita amati dimana-mana, disekeliling kita. Ucapan salam nampaknya telah menjadi kebudayaan nasional, dan dapat dipergunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan adakalanya diucapkan oleh seorang non muslim.
            Sedang jika diteliti ucapan salam itu, disamping memang dianjurkan oleh agama Islam kepada pemeluknya, “Bersalamlah orang yang lebih muda terhadap yang lebih tua, orang yang lewat kepada orang yang dilewati, kelompok yang sedikit kepada kelompok yang lebih banyak”, juga mengandung arti yang sangat dalam dan tinggi nilainya. Hal ini akan tampak jelas jika ditelusuri dan dikaitkan dengan macam-macam bentuk ucapan selamat di dunia. Maka salam itu merupakan alat pemersatu umat Islam dimanapun tempatnya, diseluruh pelosok bumi tanpa menghiraukan warna kulit baik itu hitam, putih, kuning atau sawo matang. Tidak menghiraukan waktu, baik itu pagi, siang atau malam. Setiap muslim akan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuuh” atau dengan kata yang pendek “Assalamu ‘alaikum”. Maka dengan demikian akan jelas tampak adanya keseragaman dan kesatuannya.
            Dan lebih jauh lagi, jika diamati salam itu merupakan salah satu petunjuk bagi seseorang yang menggambarkan pada pengertian cirri-ciri agama Islam. Islam adalah agama cinta damai. Hal yang demikian itu tercermin dari makna salam itu sendiri, dimana setiap muslim bila bertemu dan mengucapkan salam, maka berarti mereka saling do’a mendo’akan dalam keislaman dan dalam kasih saying Allah SWT.
            Demikian contoh kecil dan sederhana dari ajaran Islam, yang sebetulnya setiap pemeluk agama Islam dapat melaksanakan, jika betul-betul diperhatikan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka akan membuahkan hikmah dan tujuan yang agung. Dari salam ini pula dapat dipergunakan sebagai sarana pemersatu umat. Sehingga Islam benar-benar merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Inilah sebetulnya tugas muslim, sebagai upaya penyelesaian segala macam knflik yang dialami umat Islam d Indonesia. Dengan salam “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuuh” kita ini saudara se iman dan se agama.

Di Pundak Muslim.
            Tugas muslim semua tanpa kecuali, untuk menjadikan muka bumi ini dalam suasana kehidupan Islam yang sesungguhnya, dengan kata lain menjadi tugas umat Islam untuk menggenggam agama Islam, mengamalkan dan menyebarkan samapai yang sekecil-kecilnya. Kalau bukan kita, lalu siapa ?.
            Sangat tidak masuk akal jika tugas suci dan mulia ini dibebankan kepada orang lain. Sedang diketahui orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang melihat seseorang sehingga seseorang tersebut masuk mengikuti agama mereka, “Orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang kepadamu sehingga kamu mengikuti agama mereka”. (QS.Al-Baqarah:120).
            Untuk mencapai tujuan yang mulia tersebut, sangat diperlukan iman dan keihklasan yang dalam pada setiap muslim untuk berdakwah, amar makruf nahi mungkar, menyebarluaskan, mengajarkan agama Islam ini dengan tidak mengenal berhenti. sehingga umat Islam tidak hanya kuantitas tapi juga yang berkualitas, baik iman, amal dan ilmunya (Imtaq dan Imtek).
            Nabi Muhammad SAW mengajak seluruh umatnya untuk menyampaikan ajaran agama Islam itu tanpa kecuali, bahkan tidak ketinggalan juga orang yang hanya mengetahui ajaran Islam itu dalam satu ayat (satu pengertian tentang ajaran Islam), maka dia dituntut untuk menyampaikan pada orang lain. “Sampaikan apa yang kau dapat dari aku meskipun itu hanya satu ayat”.
            Adapun untuk menarik atau mengajak seseorang itu Allah telah memberikan tuntunan dasar yang harus dipegangi bagi setiap da’I, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan berdialoglah dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl:125). Metode dakwah itu kemudian oleh para ahli di bidang ilmu dakwah dijabarkan kedalam beberapa metode yang memudahkan bagi para da’I didalam menjalankan aktivitas dakwah. Kita akui bahwa metode merupakan unsure dakwah yang sangat penting, untuk mengantarkan kepada tujuan yang akan dicapai. Inilah tugas muslim yang sangat mulia, kapan saja dan dimana saja, pria-wanita. Bahkan upaya yang minimpun dapat dilakukan, apabila seorang muslim mengetahui adanya tindak kemungkaran. Meskipun upaya minim yang sering disebut sebagai “bil qolbi” itu satu upaya pamungkas, manakala keterbatasan ilmunya, kemampuannya atau karena tidak adanya “power”. sehingga bil qolbi dikatakan sebagai upaya yang “adz ‘aful iman”.

Metode Teladan atau demonstrasi.
            Metode keteladanan ini juga disebut “direct method”, yaitu penyampaian dengan jalan memberikan teladan langsung, sehingga orang mudah tertarik untuk mengikuti kepada apa yang akan diserukan, yang direalisasikan melalui sikap, gerak gerik, ucapan dan tindakan. Sehingga secara langsung kita melaksanakan dakwah, yang terus menerus, sepanjang kita masih tetap dianggap merupakan “umat yang sebaik-baik dari kamu”.
            Nabi Muhammad SAW sendiri dalam menyampaikan ajaran agama Islam dihiasi dengan perangai luhur, “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur”. (QS. Al Qolam:4). Cara inilah yang sangat berkesan bagi pengikut-pengikutnya, bahkan dapat menarik mereka yang mula-mula membenci beliau. Sehingga berubah dari yang dulu musuh dan benci Islam, jadi cinta dan menjadi perisai Islam. Menyerahkan diri kepada Allah dan RasulNya dengan menjalankan semua perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Dulu membenci Rasulullah kemudian bertekuk lutut dengan memeluk agama Islam, karena budi pekerti beliau yang menarik hati. Seperti masuknya Du’sur kedalam agama Islam lantaran terpesona dari sifat pemaaf Rasulullah kepada musuhnya telah tidak berdaya lagi, disamping itu merupakan hidayah yang dicurahkan kepada mereka.
            Demikian tugas muslim dari sekian banyaknya tugas, yang harus diemban oleh setiap muslim. Jika setiap muslim itu benar-benar kembali kepada ajaran Islam dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mampu memberi teladan yang baik bagi kaumnya sebagai awal dari jiwa dakwah Islamiyah. Maka api dakwah tidak akan padam. Dan insya Allah tujuan Islam akan terwujud, dan tercapailah kebudayaan Islam di muka bumi. Wllahu a’lam.

Sabtu, 15 September 2012

KECENDERUNGAN MANUSIA


KECENDERUNGAN MANUSIA
Oleh : Anis Purwanto

            Manusia adalah puncak ciptaan dan mahkluk yang tertinggi (QS.95:4, 17:70), tanpa manusia penciptaan alam tidak bermakna. Dengan penciptaan manusia sebagai mahkluknya yang tertinggi di muka bumi, manusia berkedudukan sebagai kalifah/wakil Allah (QS.2:30), yang tugasnya adalah untuk membangun/memakmurkan bumi (QS 11:61). Oleh karenanya urusan dunia telah Allah serahkan kepada manusia atau dengan kata lain manusia mengemban amanah Allah. Dan seberapa jauh amanah Allah itu disampaikan untuk kemakmuran umat manusia.
            Berbicara tentang manusia, merupakan pembicaraan yang tidak ada ujungnya dan telah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Namun jawaban yang didapat belum dapat memuaskan hati. Sebab masih banyak rahasia yang terungkap, justru karena penciptaan manusia teramat istimewa, bila dibandingkan dengan penciptaan mahkluk Allah yang lain, sekalipun Jin dan Malaikat. Sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia bukan hanya perbuatan dan beberapa sifat yang melekat padanya. Melainkan sesuatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja, yaitu fitrah. Fitrah membuat menusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran atau hanif (QS. 30:30). Ini adalah suatu bentuk awal dari manusia yang oleh Allah disebut fitrah atau kodrat. Sebagai cikal bakal kesediaan menerima kebenaran Islam yang dibawa sejak kelahiran, atau dengan kata lain setiap insane lahir pada hakekatnya memiliki sifat murn, yaitu yang secara kodrati memiliki kecenderungan untuk mencari dan mengenal Allah, interaksi dengan alam lingkungannya yang dapat mengubah/membelokkan kecenderungan tersebut.
            Sifat suci (fitrah) yang diciptakan Allah untuk manusia itu ialah kesediaan menerima tauhid dan agama Islam. Adapun pada kenyataannya terjadi penyimpangan terhadap fitrah manusia itu setelah mengenal dunia, karena menemukan lingkungan yang tidak ramah (godaan) serta adanya ketidak harmonisan potensi fitrah manusia.
            Hakekat kodrat fitrah dan yang memiliki moral relegius tersebut merupakan kehendak jiwa yang melekat dari hati nurani, yang dapat mendorong kepada ketundukan dan kesadaran jiwa untuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah. Tidak mungkin terjadi kontradiksi dari hati nurani yang suci itu (fitrah). Tetapi kemungkinan besar bias terjadi adanya kegiatan yang tidak searah dengan kehendak hati nurani (Allah). Hal itu karena adanya keterlibatan nafsu yang menguasai diri manusia dan lingkungan.
Kemerdekaan Manusia dan Fungsi Kekalifahan.
            Sesungguhnya manusia secara takdir diberi tiga macam keistimewaan oleh Allah, Yakni sebagai kebebasan atau sebagai kemauan yang bebas untuk melakukan apa saja. Maksudnya, pertama : Kesadaran, yaitu kesadaran diri yang tidak dipunyai mahkluk-mahkluk lain. Hanya al insane saja yang mampu untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Kedua : Kebebasan untuk memilih dan kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan terhadap apa yang dikerjakan. Ketiga : Daya cipta dan kreativitas manusia. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadikan kalifah Allah di muka bumi. Tidak pernah gelar yang sangat mulia itu diberikan kepada mahkluk ciptaan Allah selain manusia. Karena itu manusia diciptakan oelh Allah, memang dipersiapkan untuk mampu memikul amanah Allah diatas bumi ini (QS. 33:27). Tetapi tetap berpredikat sebagai hamba Allah yang memikul tugas dari Allah, wajib meleksanakan semua perintah Allah (ibadah) dan menegakkan keislaman (Dakwah Islamiyah). Upaya manusia melakukan tugasnya itu, tidak terlepas dari berbagai kendala dan berbagai macam rintangan yang menghadang di tengah jalan.
            Gangguan yang dihadapi dalam menjadikan Islam sebagai wawasan, pandangan dan keyakinan hidup pada hakekatnya ada dua macam. Pertama : Batu sanding yang dihadapi didalam menegakkan kalimah Allah (tauhid), adalah pandangan hidup yang berintikan syirik. Kedua : Dalam upaya menegakkan tauhid (dakwah Islamiyah), mendapat hambatan badai yang dihembuskan oleh faham sekuralistik, dengan kecenderungan mengendorkan prinsip-prinsip moral ilahiyah, terutama yang dating dari Negara barat. Bahkan dengan budaya modern yang dihembuskan lewat berbagai kebudayaan ala barat itu, hampir memporak-porandakan generasi muda Islam. Bahkan, kita saat inipun terasa dalam kancah Internasional, bagaimana liciknya upaya barat memecah belah dan berupaya menenggelamkan Islam dari muka bumi ini.
Hakekat Dakwah Islamiyah
            Islam adalah agama dakwah, dan diperintahkan bagi umat manusia. Kemudian menjadi sebuah pengertian dakwah Islam artinya mengajak dan menyerukan kepada Islam. Esensi dakwah dalam sosio cultural adalah mengadakan dan memberi arah perubahan. Mengubah masyarakat dan budaya dari kedholiman kearah keadilan, kebodohan kearah kemajuan yang semuanya dalam rangka kearah kemajuan dan peningkatan derajat manusia dan masyarakat kearah puncak kemanusiaan (taqwa).
            Dalam Islam, kewajiban dakwah telah jelas (QS. Ali-Imran:104,110) dan An Nahl:125). Pada dasarnya merupakan kewajiban setiap pemeluknya sebagai perwujudan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Jadi dari sini sudah terbayang sekaligus tentang tujuan dakwah yaitu memasyarakatkan ajaran Islam. Sehingga tercipta kemakmuran hidup agar manusia menjalani hidup yang bahagia di dunia dan di akhirat.
            Manusia sebagai pelaksana dakwah yang secara oprasional, fungsi hakekat kekhalifahan itu dimanifestasikan sebagai pemakmur bumi, dengan mewujudkan kegiatan-kegiatan yang membawa perubahan kearah kemajuan, baik yang mengenai alam maupun masyarakat. Tetapi hidayah hanyalah dari Allah, artinya manusia dengan segala potensi yang dimilikinya berkedudukan sebagai pengemban amanah Allah. Namun sejauh mana terbukanya pintu keadaran manusia, sebagai penerima amanah, agar hidup benar-benar tidak menyimpang dari ajaran Allah. Itu merupakan hak dan wewenang Allah. Dengan demikian ada hakekat yang terkandung dalam penyelenggaraan dakwah Islam yaitu pengembalian manusia dalam fitrah. Wllahu a’lam.

Selasa, 11 September 2012

KHUTBAH JUM'AT : MENGGAPAI RIDHA ILAHI


KHUTBAH JUM’AT
 MENGGAPAI RIDHA ILAHI
Oleh : ANIS PURWANTO *

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Marilah kita panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, Al hamdulillahirobbil ‘alamin, atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat menjalankan tugas kehidupan dalam rangka memakmurkan kehidupan dunia ini dengan amal shalih sebagai bekal kehidupan akhirat. Sehingga kita senantiasa dapat menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah SWT dan berupaya sekuat kemampuan untuk senantiasa meninggalkan larangan-Nya, untuk menggapai ridha Allah SWT, bahagia di dunia dan di akhirat. shalawat dan salam senantiasa kita sanjungkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
            Hidup kita ini sungguh penuh tantangan, penuh cobaan dan ujian. Kita semua diuji dan kita semua senantiasa menghadapi, dan dalam ujian. Kita diuji, untuk menentukan keihklasan kita, sejauh mana mutu keihklasan kita, kesabaran, keimanan dan kekuatan pengabdian kita kepada Allah SWT. Di akhirnya hanya Allah yang akan mengetahui kualitas keimanan kita. Kita diuji dari berbagai arah dan dari masa ke masa, senang atau susah, semasa sehat ataupun sakit, semasa muda ataupun tua, semasa kaya ataupun miskin.
            Kadang hidup memang tak seindah yang kita inginkan. Hidup ini selalu dihadapkan pada berbagai pilihan. Berbagai peran senantiasa dilakoni oleh umat manusia diatas pentas kehidupan. Apapun peran dan lakon yang dijalani, seyogyanya kita adalah actor sekaligus sutradara dalam menentukan ceritera kehidupan kita, disamping memang ada namanya takdir. Kadang kita ingin sesuatu yang baik, namun tanpa ihtiar atau usaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, maka itu bukanlah apa-apa. Namun ketika diri telah bersungguh-sungguh ihtiar dalam mewujudkannya dengan usaha dan do’a namun belum terwujud, maka itu juga yang dinamakan takdir.
            Mana kala apa yang terjadi dengan diri kita tak seindah apa yang diinginkan maka disiitulah sesungguhnya kita dituntut kesabaran. Sabar atas segala yang terjadi dan tetap berbaik sangka atas ketetapan Allah SWT. Bukankah Allah yang Maha Tahu akan mahkluk-Nya. Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan mengujinya dengan berbagai ujian, berbagai macam bencana, kesulitan dan bahkan kita sering juga diuji dengan berbagai kesenangan duniawiyah. Kalau kita lulus dan tahan uji, maka Allah akan memilihnya dan kalau dia ridha, maka Allah akan mengutamakannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An Nahl ayat 96 :

مَا عِندَكُمۡ يَنفَدُ‌ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ۬‌ۗ وَلَنَجۡزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓاْ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا ڪَانُواْ يَعۡمَلُونَ (٩٦)

“Apa yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Hadirin Jamaah Jum’ah rakhimakumullah.
            Hidup adalah suatu alat kesinambungan untuk menuju ke tujuan hakiki. Hambatan, tantangan dan rintangan adalah masalah yang tidak terpisahkan dalam perjalanan hidup umat manusia. Hambatan, tantangan dan rintangan itu tidak semuanya berarti siksaan dan yang pait itu bukan semua racun, tetapi kadang kala keduanya lebih berguna dan bermanfaat dari pada kebahagiaan dan kesenangan yang berterusan. Sebab, banyak dari kisah sukses seseorang berawal dari adanya kegagalan dan bahkan kebangkrutan sekalipun. Orang yang bangun dari kegagalan masa lalu dan bangkit dari kekecewaan yang ditempuhi akan lebih termotivasi tinggi untuk menuju kejayaan dan kecermelangan dengan menjadikan kegagalan dan kekecewaan itu sebagai dorongan dan tantangan untuk membina hidup baru. Dari sini terdapat pengajaran bahwa seseorang itu tidak dapat tidak, mesti akan mendapatkan hambatan, tantangan dan rintangan. Kita akan menghadapi berbagai kegagalan dan kekecewaan walau sekecil apapun. Dengan ini, selanjutnya kita akan dapat mengetahui sampai dimana letak kelemahan kita selama ini. Paling tidak, kita lantas bisa menilai diri, sampai dimana tingkat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
            Bukankah semua di dunia ini merupakan ujian Allah SWT. Allah ingin menguji sejauhmana iman, sejauhmana hambanya menerima cobaan. Apakah masih tetap bersyukur dan bersabar atau malah menjauh dan menyalai ketentuan Allah SWT. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al Kahfi ayat 7 :
إِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَى ٱلۡأَرۡضِ زِينَةً۬ لَّهَا لِنَبۡلُوَهُمۡ أَيُّہُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬ (٧)
 
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya”.
            Ditengah suasana beban kehidupan yang terasa semakin berat terakhir ini, kita mestinya senantiasa tidak henti-hentinya memohon kepada Allah SWT. Semoga kita semua terhindar dari mara bahaya, apalagi yang sekiranya kita tidak mampu untuk mmemikulnya. Akhirnya marilah kita sama-sama meninsyafi bahwa hidup ini adalah sementara dan kita memang senantiasa berada dalam ujian dan pengawasan Allah SWT. Senantiasa berupaya menjalankan perintah Allah dalam berbagai situasi dan keadaan, serta berupaya mmeninggalkan semua laranyan Allah SWT dalam rangka menggapai  ridha Allah. Bahagia di dunia dan akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.  *(Diambil dari berbagai sumber)