Selasa, 19 Juni 2012

UNDANGAN ALLAH SWT


KHOTBAH JUM’AH
UNDANGAN ALLAH SWT
Oleh : Anis Purwanto

Jamaah Jum’at Rohimakumullah.
            Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita selaku insan yang beriman senantisa memuji Allah, mengucapkan syukur dan selalu taat kepadaNya. Karena sampai detik ini alhamdulillah kita masih dalam naungan Allah. Kita masih tetap dalam keadaan iman dan Islam.
            Kedua kalinya, sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah Muhammad SAW senantiasa kita mengucapkan sholawat  dan salam kepada beliau. Semoga kita termasuk umatnya yang akan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak. Amin.

Jamaah Jum’at Rohimakumullah.
            Inya Allah, minggu akhir bulan Juli ini kita sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana kita diwajibkan untuk melaksanakan ibadah. Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila umat Islam selalu merasa gembira setiap datangnya bulan Ramadhan. Sebab bulan Ramadhan dipandang sebuah bulan yang sangat istimewa, karena satu bulan dimana Allah menebarkan semua kebaikan dimuka bumi. Perasaan ini selalu “deg-degan” laksana seorang gadis yang menanti datangnya seorang kekasih yang bertandang “apel” di malam minggu. Di dalam hati sanubari bergejolak, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Rasa gugup, cemas, senang, penuh dengan pengharapan, tetapi juga terselip rasa cemas yang tidak terhingga. Demikian halnya kehadiran  bulan Ramadhan, perasaan yang sangat manusiawi  itu merupakan pertanda dimana umat Islam sangat mengharap akan menjadikan Ramadhan sebagai tonggak sejarah pembaharuan iman dan taqwa kepada Allah. Ramadhan sebagai undangan Allah bagi seluruh umat manusia yang beriman kepada Allah SWT.  Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 185 : 
  
شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ فَمَن شَہِدَ مِنكُمُ ٱلشَّہۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ‌

”Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan permulaan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir dinegeri tempat tinggalnya dibulan ini, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”.

Sedang tujuan disyariatkan puasa bagi umat Islam yaitu untuk  meningkatkan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan didalam Al-Qur”an dalam surat Al-Baqoroh ayat 183 :

ٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ (١٨٣)
“Hai orang-orang yang beriman , diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Jamaah Jum’at Rohimakumullah.                                                                                                    

            Undangan Allah SWT untuk orang yang beriman tentu mengandung maksud bahwa Allah SWT sangat cinta kepada umat-Nya. Oleh karena itu undangan yang mengandung pengharapan umat agar mendapat rahmat dan ampunan Allah SWT, menjadi momentum yang sangat penting dalam proses pencapaian kualitas manusia: “Barang siapa berpuasa Ramadhan yang didasarkan iman dan mengharap rahmat Allah, akan diampuni segala dosanya yang telah lalu”.
Pengampunan akan dosa sampai batas yang tidak terhingga (yang telah lalu) , membuktikan bahwa Allah SWT benar-benar mempunyai perhatian dan kasih sayang kepada Allah SWT. Paling tidak dapat dipergunakan sebagai pembuktian adanya pengorbanan yang tulus dari hamba kepada sang kholik.
            Bulan Ramadhan oleh umat Islam sering difahami mempunyai tingkatan mulai dari ‘rahmat’ tengahnya ‘maqhfirah’ dan akhirnya ‘itqun mina-n-naar’. Pemahaman yang demikian itu meski mengandung maksud, hikmah dan perhatian yang sangat penting. Sebagaimana orang yang baru menaiki tangga, kita mesti menapak anak tangga yang paling bawah  terlebih dahulu, kemudian seterusnya sampai akhirnya pada tataran yang tertinggi. Akan tetapi esensi terpenting dari disyariatkan puasa adalah tercapainya kualitas ketaqwaaan kepada Allah SWT.

Jamaah Jum’at Rohimakumullah

            Undangan resmi Allah kepada semua orang yang beriman, bertujuan merajut komonikasi yang  yang sangat erat dengan Allah SWT. Oleh karena sangat merugi bagi umat manusia yang mengaku beriman kepada Allah SWT tidak memanfaatkan kesempatan luas, yang hanya terjadi satu kali dalam satu tahun itu. Sudah siapkah kita menerima kehadiran tamu ‘Ramadhan’ ?. Apakah kita sudah menyiapkan ‘uba rampe’ untuk menyambut dan ‘mangayubagya’ pertemuan kita dengan syahrun mubaarak, bulan yang diberkahi. Menyiapkan fisik yang sehat agar ringan didalam melaksanakan tugas ilaiah. Mempunyai semangat yang tinggi didalam melaksanakan semua amaliyah Ramadhan , termasuk menyiapkan jiwa dan mental agar kuat menghadapi godaan.
           
            Apabila dapat kita ibaratkan, kita akan kedatangan seorang tamu “agung”, seorang tokoh yang kita anggap sebagai panutan atau pimpinan yang berlefel pejabat tinggi ,tentunya kita akan merasa senang dan mendapat kehormatan yang sangat tinggi. Semua akan kita siapkan untuk menyambut dan menjamu tamu kita itu ‘saguh, gupuh, lungguh dan suguh’. Tak terkecuali semua kerabat kita ajak agar dapat menyaksikan tamu itu. Paling tidak kita akan merasakan enaknya oleh-oleh yang dibawa sang tamu. Demikian juga Ramadhan, kita sambut, kita nikmati hasil dari keihklasan kita dalam menjalankan ibadah puasa. Apalagi yang namanya bulan Ramadhan bagi umat Islam adalah bulan yang sangat istimewa. Bulan Ramadhan ditempatkan sebagai peristiwa yang sangat ‘pethingan’, sebab didalamnya membawa bermacam-macam kebaikan dari Allah SWT, dunia dan akhirat. Bulan Ramadhan laksana jembatan bahkan jalan tol yang mempermudah proses “kemesraan” antara umat yang beriman dengan Allah. Selain itu Ramadhan menjadi ‘terop agung’ dan gapura   masuknya orang mukmin ke surga. Karena kedekatan kita dengan Allah terjalin sangat mesra, apapun yang kita minta akan dipertimbangkan oleh Allah. Malah syetan dan jin yang diidentikkan dengan godaan menjadi tak berkutik, “ Apabila malam pada Bulan Ramadhan, syetan-syetan dan jin yang durhaka dan sangat engkar itu dibelenggu. Pintu neraka ditutup rapat, tak satupun yang terbuka. Dan pintu-pintu surga semua dibuka, tak satupun yang ditutup” (HR.Tirmidzi).

Jamaah Jum’at Rohimakumullah
            Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, Ramadhan tahun bagi kaum mislimin masih dihadapkan dengan berbagai kesulitan. Dari segi ekonomi sudah menjadi kepastian umum, setiap akan memasuki bulan Ramadhan pasti ada kenaikan harga kebutuhan pokok. Hal ini sedikit banyak akan sangat mengganggu konsentrasi umat Islam didalam melaksanakan ibadah. Mestinya disaat kita melaksaksanakan puasa, perhatian kita terfokus dengan “berfastabikhul qoairat”, memperbanyak amalan-amalan Ramadhan, tidak dipusingkan dengan hal-hal yang akan menjadi sumber fitnah, yang justru dapat mengurangi nilai ibadah puasa.
            Disisi amar makruf nahi mungkar, kita masih belum mendapat dukungan dari berbagai pihak. Restoran dan warung makan tetap bukak di Bulan Ramadhan. Tempat-tempat ‘maksiat’ masih semarak, tidak “thedheng aling-aling” dengan apa yang diharapkan oleh umat Islam, ibarat anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, Ramadhan datang maksiat jalan terus. Sehingga wajar saja bila sebagian teman-teman kita, dari ormas-ormas keagamaan misalnya ada yang ngamuk ‘ngamuk’, turun tangan membersihkan sarang maksiat, misalnya di pusat pelacuran, klap malam, perjudian, sarang

mabuk-mabukan dan pesta narkoba. Kegarangan organisasi-organisasi Islam tersebut bukan tanpa alasan atau bukan karena sok suci dengan mereka yang masih senang berbuat maksiat, akan tetapi mengharap suasana Ramadhan ini benar-benar menjadi suasana yang damai, penuh dengan kasih sayang, bukankah kita terkenal dengan bangsa yang religius.  Selain itu kita tidak mengharapkan adanya cap, yang menganggap umat Islam Indonesia ini umat yang terlihat “fasek”, puasa ya maksiat jalan terus. Padahal kemaksiatan itu dilakukan hanya sebagian dari jutaan umat Islam yang mayoritas penduduk Indonesia.

            Makanya sangat rugi apabila momentum ibadah di Bulan Ramadhan , yang merupakan undangan Allah ini tidak mendapat jawaban positip dan dukungan semua lapisan masyarakat di Indonesia. Mestinya dalam setiap detiknya kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk kebaikan, meningkatkan jumlah amal shaleh dan mohon terampuninya segala dosa.

Jamaah Jum’at Rohimakumullah
Demikian khotbah yang dapat saya sampaikan, semoga Allah SWT selalu melimpahkan hidayahnya kepada kita sekalian, sehingga kita betul-betul menjadi seorang mukmin yang mau berupaya meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, taqwa yang membawa kita bahagia di dunia dan di akherat. Amin


Minggu, 17 Juni 2012

KELOMPOK INGKANG PIKANTUK NIKMAT


KHOTBAH JUM’AH BAHASA JAWA
KELOMPOK INGKANG PIKANTUK NIKMAT
Oleh  : Drs. Anis Purwanto

Ma’asyiral Muslimin jamaah jum’ah rokhimakumullah.
Minangka pambukaning khotbah ing siang punika, sumangga sesarengan kita ngeningaken cipta saha manah kita, kanthi nyaosaken pujo puji syukur ing ngarso dalem Allah SWT, Gusti ingkang Maha Agung. Ingkang sampun paring kanugrahan saha kanikmatan dumateng kita sedaya, sahingga ngantos  ing kesempatan Jum’ah siang punika kita saget nindakaken pangibadahan dumateng Allah SWT. Kita nyuwun dumateng Allah SWT mugi-mugi ibadah kita ing siang punika saget katampi dening Allah SWT. Sahingga kita manggih kawilujengan ing donya dumugi ing akherat, amin ya rabbal ‘alamin. Sholawat saha salam mugia tetep kita aturaken dumateng junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.
            Salah satunggalipun surat Al-Qur’an ingkang asring kita waos saben dintenipun inggih punika Surat Al Fatikhah. Kanthi makaten, surat punika kasebat As sab’ul matsani utawi ‘pitung ayat sing dibolan-baleni’, inggih punika wungsal wangsul kawaos, paling sekedik kaping 17 wanten ing 17 rekaat shalat gangsal wekdal. Wanten kalih ayat paling akhir saking 7 ayat Surat Al Fatikhah, inggih punika :
ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ (٦) صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ (٧)
‘Dhuh Allah, mugi nedahna margi ingkang leres dumateng kawula. Inggih punika margining para tiyang ingkang sami Paduka paringi nikmat, sanes marginipun tiyang ingkang Panjenengan paringi bendu lan tiyang ingkang sami kesasar. Mugi-mugi Panjenengan nyembadani panyuwun kawula”.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’ah rakhimakumullah.
            Salajengipun ingkang bahan pitaken ing manah, sinten ingkang dipun maksud tiyang-tiyang ingkang pikantuk kanugrahan kanikmatan saking Allah SWT ?. Kagem njawab perkawis punika sumangga kita bikak firman Allah SWT wanten Surat An Nisa’ ayat 69, sebab ing ayat punika dipun sebadaken kelompok tiyang ingkang pikantuk nikmatipun Allah SWT :

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡہِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّہَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ‌ۚ وَحَسُنَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ رَفِيقً۬ا (٦٩)

“Lan sing sapa wonge taat marang Allah lan Rosule, deweke arep bebarengan karo wong-wong sing dianugrahahi nikmat saka Pangerane, yaiku para Nabi, shidiqin, syuhada lan shalihin. Lan deweke iku temen minangka kanca sing paling becik”.

            Kanthi makaten, dadas penting tumrap kita sedaya kangge mbudidaya murih sageta kita kagolongaken umat ingkang pikantuk kanugrahan saking Allah SWT. Salah satunggalipun kanikmatan ingkang paling inggil nilai saha kalenggahanipun inggih punika kanikmatan dipun turunaken agami Islam minangka agami ingkang leres lan dipun perjuangaken dumateng tiyang 4 kelompok kadas kasebat wanten ing Surat An Nisa’ ayat 69 ing nginggil. Kanthi makaten panyuwunan kita dumateng Allah SWT, mugia kita pikantuk petunjuk kanthi gambaran lan keterangan ingkang jelas, inggih punika kanthi mbudidaya sageta  kita niru lan nderek model pagesanganipun sekawan kelompok kasebat.
            Sebab, bilih kita kepingin pikantuk petunjuk saking Allah SWT, ananging kita mboten purun niru lan nderek kadas pundi model pagesanganipun tiyang sekawan kelompok ing nginggil, senaosa kita nyuwun dumateng Allah kaping 17 saben dintenipun, alit kadadosan kita saget pikantuk kanugrahan saking Allah SWT.
            Sekawan kelompok kadas ingkang dipun maksud ing nginggil, inggih punika :
Sepindah ; inggih punika para Nabi. Punika minangka tiyang-tiyang ingkang dipun pilih dening Allah SWT nampi wahyu lan nyebaraken dateng sedaya umatipun. Pramila saking punika Nabi mesthi kagungan sifat leres (sidik), kagungan ketekatan merjuangaken lan njejegaken nilai kebenaran lan siap nanggel resiko ing ndalem perjuanganipun. Pramila, punika sebabipun kita wajib nulat sifat keNabian, supadas kita saget pikantuk hidayah kadas ingkang kita suwun wanten ing Surat Al-Fatikhah.
            Kasebat wanten Surat Al Ahzab, ayat 21 :
لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا  ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى
“Satemene wis ana ing diri pribadinipun Rosulullah iku suri tauladan kang becik kanggomu, yaiku kanggo wong sing ngarep-arep rahmate Allah lan tekane dina kiyamat, lan dheweke akeh nyebut asmane Gusti Allah”.

            Kaum Muslimin  jamaah Jum’ah rakhimakumullah.
Kelompok ing nomor kaleh inggih punika para shiddiqin. Nun inggih tiyang ingkang sikep, pangandikan saha tingkah lakunipun mesti leres lan jujur. Para siddiqin kagolong tiyang ingkang kaparingan kanugrahan nikmat saking Allah SWT, sebab gesang saha pagesanganipun nuju dumateng kesaenan, sedeng kesaenan hakekatipun badhe mbekta dumateng kesenengan surgawi.
            Wanten ing salah satunggalipun hadits dipun sebadaken :
“Mungguhe sira kabeh, tumindaka jujur, awit kejujuran iku nggawa sira marang kebecikan lan kebecikan iku nggawa sira marang suwarga”.
            Sebab, ing Surat Al-Fatikhah kita sanget ngajeng-ngajeng pikantuk petunjuk kadas dene Allah sampun paring petunjuk dumateng tiyang-tiyang ingkang kaparingan nikmatipun, artosipun ing pagesangan kita punika, kita dipun tuntut supados nyonto para siddiqin, senaosa kita sampun ngetingalaken ketaqwaan kita dumateng Allah SWT.
Kadas firman Allah ingkang artosipun : “He wong-wong sing iman, taqwaa sira marang Allah lan padha dadia kancane para wong mukmin kang pada temen setia suhu”.


            Para sederek kaum muslimin,  jamaah Jum’ah rakhimakumullah.
Kelompok selajengipun, ingkang kaparingan nikmat saking Allah, inggih punika para suhadak. Nun inggih tiyang ingkang pejah kanthi sahid, krana berjuang njejegaken agamanipun Allah. Para suhadak dadas saksi kebenaran ingkang dipun perjuangaken. Para suhadak dadas salah satunggalipun kelompok ingkang pikantuk kanikmatan saking Allah karana piyambakipun anggayuh drajat ingkang paling mulia, malah-malah sedanipun mboten kaanggep minangka pejah biasa, ananging Allah ngendika taksih gesang ing sisinipun. Kadas kasebad wanten ing Surat Al Baqoroh ayat 154 :

“Lan sira aja padha ngarani menawa wong kang gugur ana ing medan perang sabil iku padha mati, ananging dheweke iku padha urip, nanging sira ora padha weruh”.
            Para sederek, kanthi pemehaman ingkang kadas makaten punika, bilih kita kaitaken kaliyan do’a ing Surat Al Fatikhah, kita lajeng kedah dadas tiyang-tiyang ingkang saestu nindakaken lan merjuangaken nilai-nilai Islam senaoso resikonipun awrat.
           
Para sederek kaum muslimin, rakhimakumullah.
Kelompok ingkang kaping sekawan, ingkang kaparingan nikmat saking Allah inggih punika tiyang shalih. Tiyang ingkang mbudidaya kanthi saestu kangge mujudaken kesaenan, sae ing pagesangan pribadi, keluarga dalah masyarakat. Kashalehan minangka tuntutan saking pengakenan kita minangka tiyang ingkang iman dumateng Allah SWT. Pramila saking punika iman kedah kita buktekaken kanthi amal shaleh lan amal shaleh kedah kita landasi  kanthi iman.
            Bilih amal shaleh sampun kita tindakaken, kanikmatan Allah SWT insya Allah badhe kita gayuh saha kita raosaken, malah-malah  mbaten namung ing pagesangan duniawiyan punika kemawan, kadas dene pikantuk rizki ingkang barokah, rizki ingkang halal, ananging ugi ing akherat mangke kita badhe pikantuk ampunan saking Allah SWT, ingkang yektosipun kita pikantuk kebahagiaan ing akherat. Salah stunggalipun ayat ingkang nyebadaken keuntunganipun tiyang ingkang amal shaleh, kadas kasebat wanten ing Surat Al-Haj ayat 50 :

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ۬ وَرِزۡقٌ۬ كَرِيمٌ۬
 “Dene wong-wong kang padha iman lan nindakake kebecikan, dheweke iku bakal pikantuk pangapura lan rejeki kang mulya”.
            Karana kita nyuwun dumateng Allah, kepingin pikantuk petunjuk kadas dene petunjuk ingkang sampun Allah paringaken dumateng tiyang-tiyang ingkang sholih, yektosipun ing pagesangan punika kita sampun purun lan mbudidaya kanthi saestu, sagete dadas lan kagolongaken tiyang ingkang sholih.
            Kanthi makaten, petunjuk ingkang kita idam-idamaken inggih punika petunjuk margi gesang ingkang leres, selaras kaliyan nilai-nilai salebetipun Al-Qur’an saha Al-Hadits. Wilujeng, bekja mulya ing ndonya lan ing akhirat, amin ya rabbal ‘alamin.


Jumat, 15 Juni 2012

KELUARGA TIANG NEGARA


Keluarga Tiang Negara
Oleh :  Anis Purwanto
           
Saudara pendengar Mimbar Agama Islam yang dirahmati oleh Allah SWT, kajian kita dalam mimbar kali ini adalah keluarga tiang Negara, yang insya Allah kajian kita akan lebih menfokuskan kepada aspek keluarga sakinah sebagai salah satu sarana untuk menjaga kelangsungan generasi pengabdi Tuhan. Hal ini sangat penting kita kaji karena didalam kehidupan modern seperti sekarang ini peranan keluarga sangat besar. Sebab selain keluarga sebagai bagian dari system bermasyarakat, dalam Islam keluarga merupakan tempat bagi terciptanya kehidupan yang bahagia bagi seluruh anggotanya baik di dunia sampai di akhirat nanti.
Oleh karena itu, sebelumnya marilah dalam kesempatan yang sangat berbahagia ini, kita panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberi rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga didalam bulan Ramadhan tahun ini kita dapat melaksanakan ibadah dengan ihklas, dengan iman dan mengharap ridho Allah SWT.   Shalawat dan salam kita aturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.
Saudara pendengar,  keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri atau suami istri dengan anaknya atau ayah dengan anaknya atau ibu dengan anaknya. Keluarga lazimnya disebut rumah tangga yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai wadah dalam pergaulan hidup.
Karenanya, ada yang istimewa setiap 29 Juni, khususnya bagi keluarga-keluarga Indonesia mendapat atensi khusus dalam rupa Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Keberadaan Harganas tak lepas dari keinginan untuk memberdayakan keluarga sebagai tiang negara.
Keluarga, yang biasa diartikan dengan ibu dan bapak beserta anak atau anak-anaknya; belakangan diartikan dengan semua dan setiap orang yang ada dalam sebuah keluarga/rumah tangga (lihat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tanggga, Pasal 2). Keluarga, dalam sistem hukum apapun dan di manapun, apalagi dalam perspektif hukum Islam, dipastikan memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan tingkat manapun. Terutama di tingkat rukun tetangga (RT) yang daripadanya terhimpun rukun warga, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, dan seterusnya sampai masyarakat dunia. Tanpa keluarga, yang sejatinya menjadi unit terkecil dalam sebuah komunitas, mustahil ada, apa yang dikenal dengan sistem sosial itu sendiri mulai dari sistem sosial yang sangat terbatas atau bahkan dibatasi; sampai komunitas yang bersekala nasional, regional dan intrenasional.
Sekedar untuk menunjukan arti penting keluarga, ada ungkapan yang menyatakan bahwa “Keluarga adalah tiang masyarakat dan sekaligus tiang negara; bahkan juga tiang agama.” Atas dasar ini, maka mudahlah difahami manakala agama Islam menaruh perhatian sangat serius terhadap perkara keluarga. Di antara indikatornya, dalam Al-qur’an dan atau Al-hadits, tidak hanya dijumpai sebutan keluarga dengan istilah “al-ahl” – jamaknya “al-ahluna,” atau “dzul qurba,” “al-aqarib” dan lainnya; akan tetapi, juga di dalamnya dijumpai sejumlah ayat dan bahkan surat Al-qur’an yang mengatur ihwal keluarga dan kekeluargaan.
Di antara surat yang menyimbolkan arti penting tentang peran keluarga dalam kehidupan sosial adalah surat ketiga, yakni surat Ali Imran (3) yang terdiri atas: 200 ayat, 3,460 kata dan 14,525 huruf. Secara umum dan garis besar, surat Ali Imran memuat perihal: keimanan, hukum, dan kisah di samping lain-lain. Yang menariknya lagi surat Ali Imran ini diiringi surat An-Nisa (4), yang mengisyaratkan arti penting bagi kedudukan seorang ibu khususnya dan kaum wanita pada umumnya dalam hal pembentukan dan pembinaan keluarga ideal yang disimbolkan dengan Keluarga Imran.
Masih dalam konteks peduli Al-qur’an terhadap peran keluarga, bisa difahami dari isi kandungan ayat 6 surat Al-tahrim:
 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.                                                                           
 Ayat tersebut pada dasarnya mengingatkan semua kepala keluarga dalam hal ini Bapak dan atau Ibu bahkan para wali, supaya membangun, membina, memelihara dan atau melindungi semua dan setiap anggota keluarga yang menjadi tanggungannya dari kemungkinan mara bahaya yang disimbolkan dengan siksaan api neraka. Sebab, dalam pandangan Islam, berkeluarga itu tidak hanya untuk sebatas dalam kehidupan duniawi; akan tetapi juga sampai ke kehidupan akhirat.

Indikator lain dari peduli Islam terhadap eksistensi dan peran keluarga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan ialah adanya hukum keluarga Islam yang secara spesifik mengatur persoalan-persoalan hukum keluarga mulai dari perkawinan, hadhanah (pengasuhan dan pendidikan anak), sampai kepada hukum kewarisan dan lain-lain yang lazim dikenal dengan sebutan “al-ahwal al-syakhshiyyah,” “ahkam al-usrah,” Islamic family law dan lainnya. Hukum Keluarga Islam benar-benar mengatur semua dan setiap urusan keluarga mulai dari hal-hal yang bersifat filosofis dan edukatif, sampai hal-hal yang bersifat akhlaqi yang teknis operasional sekalipun. Itulah sebabnya mengapa Islam memerintahkan pemeluknya agar selalu saling menyayangi dan bekerjasama antara sesama keluarga.
Ketika menikah, banyak sekali orang yang mendo'akan, "Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, rahmah dan da'wah". Tapi baru setelah menikah, kita menyadari bahwa perwujudan do'a itu membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang sangat panjang.
Persoalan kita dalam rumah tangga berbeda dengan persoalan kita ditengah keluarga. Dalam keluarga, kita selalu diberi dan diberi.. Tapi dalam berumah tangga, maka kita yang harus memberi dan memberi.. Ada banyak pesan Rasulullah saw, mengenai wanita yang sholeh,salah satunya adalah wanita tiang negara. Dan itu benar adanya.. Bahwa istri sholehah adalah tiang rumah tangga, tiang keluarga, bahkan tiang negara. Dia yang membuat rumah dalam hati setiap anggota keluarga, rumah bagi setiap anak-anaknya, bahkan tanpa ada dia, tidak akan ada negara yang kuat kokoh dan aman..
Masya Allah.. Rasulullah begitu dalam menjelaskan fungsi dan kedudukan wanita. Bagaimana mungkin krmudian para wanita mengecilkan fungsi itu. Memang suami pemimpin rumah, tapi sesungguhnya dengan kekuatan istri yang sholehah, suami lah yang banyak dipimpin. Dia hanya membuat keputusan, tapi yang menjadi dewan syuranya adalah istri. Jika istri tidak memiliki sesuatu yang bisa diberi, maka suami juga tidak akan menghormati dia, tidak akan meminta pendapat padanya, tidak akan mempercayainya.
Ada seorang teman memiliki suami pemarah. Masya Allah setiap suaminya marah, dia sabar dan tetap terus menasehati dengan kata2 dan sifat yang baik. Dia selalu yakin dia akan bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya. Subhanallah.. bahkan orang tuanya tidak tahu bahwa suaminya begitu pemarah, begitu buruk akhlaknya, Dia tutup-tutupi di depan mertua dan orang tua. Sampai sekian lama, ada ujian terhadap mereka, dan sungguh, akhirnya suaminya sangat menghormatinya, selalu meminta pendapat kepadanya, selalu mempercayainya.. Dia menang dalam menjadi tiang suaminya, maka dia menang menjadi tiang rumah tangganya..
Maka dari itu, rumah tangga itu adalah ibadah.. bukan diberi, tapi memberi, terus-terusan memberi.. maka Allah juga berikan pahala ratusan kali lipat untuk sholat orang yang sudah menikah, Allah juga berikan pahala untuk semua amalan ibadah ratusan kali lipat dari orang yang blm menikah. Karena rumah tangga itu kita harus terus memberi, dan khususnya perempuan, mereka harus menjadi tiang2.. jangan heran bagaimana seorang anak harus 3 kali lebih menghormati ibunya drpd bapaknya.. karena menjadi ibu itu tidak mudah, krn menjadi ibu itu butuh kekuatan yang mungkin 3 kali dari pada menjadi bapak.
Sebagai wanita harus bangun. suami harus diingatkan, dipimpin, dikuatkan, diluruskan, diayomi.. Hasil dari rumah tangga itu adalah hasil kerja bertahun2 merajut semuanya.. kita tidak akan pernah bahagia dalam rumah tangga, kalau kita hanya ingin merasakan hasil, bukan menikmati perjuangannya..untuk membangunnya, untuk menegakkannya.. Seperti dakwah yang kita rasakan bahagia, karena kita yakin pahala dari Allah walaupun mungkin kita belum atau tidak merasakan kejayaan islam sekarang. Dalam rumah tangga kita terus harus berjuang, dan menikmatinya, dan bahagia dengan perjuangan itu, bukan terus2an menjadi orang yang tidak mempunyai fungsi, tidak berdaya, tidak memberi..
Jika dalam keluarga kita, kita merasa nyaman, maka itu adalah hasil kerja keras orangtua kita,sehingga sekarang mungkin kita bisa mengerti bagaimana susahnya agar bisa memberikan hasil yang bisa dinikmati oleh anak2, dinikmati bahkan oleh tetangga.. yang merasakan hasil kerja keras sebuah rumah tangga.. Sekarang saatnya kitalah yang harus membangun itu semua..
Semua masalah rumah tangga itu tidak akan ada artinya ditangan seorang perempuan yang sholehah.. Dia akan selalu mencari jalan keluar, dan insya Allah dia akan selalu mendapatkan jalan keluar. karena Allah sendiri yang sudah menjamin, akan memberikan jalan keluar apalagi dalam masalah rumah tangga.. tapi itu semua tidak dapat diperoleh, kalau kita sendiri bukan orang yang mau berfungsi sebagai tiang penegak dalam rumah tangga.. Jangan kan masalah dengan mertua, masalah yang lebih berat saja insya Allah akan terlalui.
Oleh karena itu, disilah pentingnya membina keluarga yang sakinah, yaitu keluarga yang hidupnya damai. Seluruh anggotanya saling menghormati dan saling mencintai. Suka dan duka dihadapi bersama dengan penuh ketulusan hati. Keluarga harmonis bukan berarti tidak pernah ada masalah yang muncul didalamnya, sebab perselisihan dan perbedaan adalah manusiawi. Hanya saja perbedaan itu tidak sampai meruncing, sehingga menimbulkan pertengkaran, permusuhan atau yang lebih dari itu.
            Dalam keluarga perbedaan pasti terjadi, baik yang menyangkut kepentingan, sikap dan pikiran. Namun betapapun telah terjadi perbedaan, hendaknya kita dapat menyelesaikan secara jernih dan dingin hingga hasilnya bisa melegakan bagi siapapun dan dapat menumbuhkan rasa kasih sayang. Oleh karena itu maka masing-masing anggota keluarga hendaknya tahu akan posisi dirinya, demikian juga hak dan kewajibannya. Selain itu masing-masing anggota keluarga harus saling menghargai menyayangi, sehingga tercipta suasana yang damai dan harmonis. Dan keluarga sakinah tidak mungkin tercipta secara kebetulan dan tiba-tiba. Namun harus ada usaha yang maksimal dari semua anggota keluarga yang mendukung terciptanya suasana yang demikian.
            Sedangkan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan untuk membina keluarga sakinah adalah :
Pertama, Bahwa anggota keluarga kita semua adalah manusia. Entah itu bapak, ibu dan anakatau yang lainnya yang ada dalam keluarga. Kerena semua anggota keluarga itu manusia, maka hendaknya kita memanusiakan mereka. Mereka bukan setengah manusia, tapi manusia mahkluk Allah yang sesungguhnya. Maka masing-masing anggota hendaknya dapat hidup bersama, saling menghargai dan menghormati.
            Kedua, mereka semua adalah mahkluk hidup yang berrarti memiliki kebutuhan dan keingina. Untuk itu hendaknya diantara mereka saling memperhatikan kepentingan yang lainnya. Tidak hanya memperhatikan kepentingannya sendiri dan mengabaikan kepentingan bapak, ibu dan anak. Maka masing-masing anggota juga hendaknya tak memaksakan kehendaknya tak memaksakan kepentingannya tanpa menghiraukan kepentingan anggota lainnya.
            Ketiga,  semua anggota keluarga hendaknya mempunyai rasa tanggung jawab. Dalam kehidupan berumah tangga, ada berbagai jenis tanggung jawab. ada tanggung jawab yang harus dipikul bersama, ada pula yang harus dipikul perorangan. Semua membutuhkan tanggung jwab dari masing-masing anggota keluarga. Terutama dari ayah dan ibu, karena mereka itu pokok dari pada sebuah keluarga.
            Keempat, semua anggota keluarga harus mempunyai rasa kasih saying. Dengan adanya rasa kasih saying di dalam keluarga, maka akan membawa rasa bahagia diantara mereka. Sebab dengan rasa kasih saying, mereka akan jauh dari rasa curiga, benci, dendam dan sebagainya. Rasa kasih saying juga akan menumbuhkan rasa saling percaya dan saling membantu dengan lainnya.
Kelima, semua anggota keluarga harus sadar bahwa mereka merupakan ciptaan Allah dengan titah sifatnya masing-masing. Dengan titah dan sifat yang ditentukan oleh Allah pada setiap masing-masing itulah justru akan membuat sebuah keluarga yang lengkap. Ada laki-laki, ada perempuan. Keduanya diciptakan oleh Allah banyak kesamaan dan juga banyak perbedaan. Untuk masing-masing hendaknya tahu persamaannya dan perbedaannya. Seringkali kesalah pahaman yang timbul dan berlanjut menjadi gangguan dalam kehidupan keluarga karena antara mereka lupa akan titah dan sifatnya. Sang suami lupa kalau istri adalah seorang perempuan yang mempunyai kodrat lebih lemah dari dirinya. Atau sebaliknya istri lupa kalau suaminya adalah seorang lelaki yang bersifat keras dalam setiap gerak-geriknya. Mungkin suatu ucapan atau tingkah laku bagi laki-laki tidak berpengaruh apa-apa, tapi bagi perempuan menimbulkan sakit hati dan ketersinggungan. Ini juga salah satu contoh sebagai ciptaan atau mahkluk Allah yang mempunyai kewajiban terhadap khaliqnya yaitu Allah SWT.
Untuk itu maka mengingat manusia sebagai titah yang lemah dan tak luput dari salah, hendaknya dijadikan sebagai pegangan oleh masing-masing anggota keluarga agar saling mengingatkan pada kebenaran dan amal soleh demi menuju ridha Allah. Dan inilah puncak dari segala kegiatan manusia di dunia ini, baik yang berupa ibadah langsung maupun kegiatan sosial.
Jadi dari beberapa konsep dalam membentuk keluarga yang harmonis, sebagaimana yang telah kami sampaikan, maka harta dan kekayaan bukan faktor utama dari keharmonisan keluarga, akan tetapi saling pengertian dari masing-masing anggota keluarga yang merupakan factor yang paling dominan. Dari perasaan yang sama inilah pilar keharmonisan tumbuh dan ditegakkan. Tanpa rasa pengertian yang sama, rasanya sulit keharmonisan itu akan terwujud.                    

Firman Allah di dalam Al-Qur’an Surat Ar Rum ayat 21:                                                         “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteranm kepadanya, dan dijadikanNya  diantaramu rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
            Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan yang syah.   Menurut UU No 1 Tahun 1974 pasal 1 : Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan kata lain keluarga yang terbentuk dari perkawinan tersebut merupakan keluarga yang bahagia dan sejahtera lahir batin atau keluarga sakinah. Keluarga yang mampu memenuhi hajat hidup spiritual dan material yang layak’ mampu menciptakan suasana cinta dan kasih saying (mawaddah warahmah) selaras, serasi, seimbang serta mampu menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, amal saleh dan akhlakul karimah dalam lingkungan keluarga sesuai dengan ajaran Islam.
            Suami istri mempunyai peran yang harus dipegangnya, lebih-lebih pada zaman sekarang, dimana saat ini tidak akan dapat lagi mempunyai peran seperti waktu lampau yang istri cukup berhias, bekerja sebagai ibu rumah tanggaserta melahirkan anak (peranannya hanya berkisar dikasur, didapur, diusumur). Tetapi istri pada zaman sekarang ini haruslah meningkat perannya, yang antara lain  :          
  1. Shadieq adalah sebuah peran istri sebagai sahabat yang sangat akrap dalam segala hal. Baik dalam keadaan suka maupun duka. Bukan sahabat bila suami sedang mempunyai uang, lalu kalau sudah bangkrut suami ditendang. Ada uang abang saying bila tidak ada uang abang aku tending.
  2. Samier, yaitu kawan dalam senda gurau. Bercengkrama, saling menghiburuntuk melepaskan ketegangan dan kepenatan setelah bekerja sepanjang hari.
  3. Syarieq, yaitu mitra terpercaya dalam hal memgelola keuangan dan ekonomi rumah tangga, karena cukup atau tidak cukupnya biaya hidup keluarga ada di tangan istri.
  4. Rafieq, pendamping suami menjadi teman tawa dalam suka dan penghibur dikala duka.

Selain peran tersebut, istri juga bertugas menyiapkan generasi penerus, generasi baru. Istrilah yang melahirkan, menyusui, membesarkan dan membinanya sehingga generasi baru tersebut akan menjadi penerus yang dapat diandalkan baik fisik maupun mentalnya.
Setelah rumah tangga terbentuk, kegiatan yang sangat penting adalah memelihara dan membina lembaga perkawinan tersebut, sehingga terciptalah keluarga sejahtera (keluarga sakinah). Untuk mewujudkan keluarga yang harmonis, Islam member patokan-patokan sebagai berikut :
1.      Islam meletakkan prinsip bahwa suami istri mempunyai martabat dan kedudukan yang sama, sebagai manusia hamba Allah SWT.
2.      Islam menginginkan bahwa kehidupan rumah tangga, hubungan suami istri adalah saling melengkapi dan saling mengisi, saling mengingatkan bila salah, saling memahami dari kekurangan pihak lain.
3.      Islam menekankan kepada suami istri untuk menciptakan pergaulan yang baik, member contoh ahklak yang mulia dan kemudian menurunkan kepada anak-anaknya.
4.      Islam menekankan terciptanya suasana keagamaan dalam kehidupan rumah tangga.

Allah swt memberi arahan yang sangat tepat, supaya sebuah keluarga menurunkan generasi yang lebih tangguh, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An Nisa ayat 9 :
“Dan hendaknya takut karena Allah, orang-orang yang meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
            Disinilah sebenarnya letak pentingnya selalu menjaga generasi kita, agar menjadi generasi pengabdi Tuhan yang sejati dan sejauh mungkin menghindari sesembahan-sesembahan lain termasuk didalamnya nafsu-nafsu duniawi.
Salah satu cara menjaga kelangsungan generasi pengabdi Tuhan ini adalah dengan memaksimalkan peran keluarga. Allah secara gamblang menjelaskan fungsi ini melalui contoh profil keluarga Luqman, dalam firmanNya QS Luqman ayat 13 : “Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
            Hal inilah tampaknya yang seringkali kita lupakan. Kita lebih suka membekali anak-anak kita dengan ilmu-ilmu tentang bagaimana meraih kesuksesan material dari pada member bekal mereka dengan ajaran tentang tauhid dan akhlak. Akibatnya jelas, anak-anak kita piawai mencari rejeki tapi jadi lupa untuk berbagi, anak kita pandai beranalogi tapi kadang terperosok lupa diri, anak kita pandai berargumentasi tapi pandai juga menipu diri, dan anak kita sangat suka materi hingga lupa pada hati nurani.
            Gejala munculnya generasi salah asuh semacam ini mulai terasa kian nyata. Anak-anak menjadi korban kesibukan orang tuanya mencari materi. Mereka dibiarkan terasuh oleh seperangkat alat berteknologi tinggi macam internet, handphone, televise, dan media-media elektronik lain.
            Tehnologi adalah serangkaian alat yang berjalan berdasarkan program-program. Ia tidak peduli siapa yang menjalankan program dan memberikan perintah-perintah kepadanya. Anak kecilkah, remajakah, atau mungkin orang dewasa, atau bahkan orang tua ompong peyot. Sekali lagi ia tidak peduli. Selama benar cara memencet keypad atau keybordnya maka informasi apapun akan ia munculkan. Padahal ahli teknologi informasi manapun sepakat bahwa setiap informasi pasti memiliki aturan main tentang siapa yang layak mengkomsumsinya.
            Cost sosial yang harus kita tanggung atas kesalahan pemanfaatan tehnologi tentu sangat mahal dan berat kita rasakan. Tentu sudah sangat sulit menghitung tentang berapa banyak korbannya, ada anak yang nekat mencuri untuk mendapatkan HP, ada anak yang mesti drop out dari sekolah lantaran hamil setelah mempraktekkan adegan porno yang ditontonnya, ada yang terpaksa mreman untuk sekedar beli pulsa, dan lahirnya para pengangguran biaya tinggi yang semakin menambah berat beban Negara, serta akibat-akibat sosial lainnya.
            Ayat yang kami sebutkan diatas, menjelaskan tentang betapa pentingnya penanaman nilai-nilai ketuhanan pada diri anak-anak kita. Nilai tersebut terkristal dalam konsepsi taqwa yang oleh para ulama diberikan pengertian sebagai menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT. Artinya, sejak dini seorang anak harus mulai dilatih untuk menjalankan perintah-perintah agama dan hal ini juga sejalan dengan sebuah hadits Rasulullah :
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat saat berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika tak mau menjalankan shalat) jika sampai umur sepuluh tahun”. (HR Ahmad, Abu Daud dan Hakim).
            Disamping penanaman nilai-nilai ketaqwaan sejak dini anak-anak juga harus dilatih untuk jujur dalam perkataan-perkataan mereka. Salah satu caranya adalah dengan senantiasa memberikan contoh tauladan dalam keseharian kita. Kiat semacam ini tidak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi dinamika zaman telah membawa anak-anak kita selalu berlaku kritis dalam menyikapi fenomena sekitarnya. Seringkali ketidakjujuran dan ketidakmampuan kita memberi suri tauladan yang baik terkadang justru menjadi momok penyebab ketidakpercayaan anak kepada orang tuanya, sehingga pendidikan keluarga menjadi tidak efektip. Menurut sebuah penelitian yang dikutib oleh DR. Zakiah Darojat, perilaku manusia itu 83 % dipengaruhi oleh apa yang dilihat, 11 % oleh apa yang didengar dan 6 % sisanya oleh berbagai stimulus campuran. Dalam perspektip ini maka nasehat orang tua hanya memiliki tingkat efektifitas 11 %, dan hanya contoh teladan orang tua saja yang memiliki tingkat efektifitas tinggi.
            Mengembalikan fungsi-fungsi keluarga sebagai tiang negara menjadi sebuah keniscayaan bila kita ingin tetap menjaga kelangsungan generasi zaman ini. Berbagai disfungsi keluarga yang menggejala dewasa ini telah jelas-jelas merugikan dinamika sosial masyarakat kita. Budaya pengejaran tak berujung pangkal pada kepentingan duniawi yang terkadang membuat kita lupa untuk memperhatikan perkembangan psikologis anak-anak kita haus kita tinggalkan. Islam tentu saja tidak melarang kita untuk berlomba-lomba mencari setinggi mungkin kesejahteraan hidup, tetapi melupakan pendidikan agama yang akan menjadi pengawal langgengnya nilai-nilai budi pekerti anak-anak kita tentu bukanlah hal yang bijaksana. Kita harus menyadari sepenuhnya, bahwa sejauh apapun kita mengejar dan setinggi apapun kita meraih kebutuhan duniawi kita semua akan tiada artinya jika anak-anak kita yang merupakan harta paling berharga kita tiba-tiba kehilangan tabiat kemanusiaannya karena kealpaan kita mendidiknya.
            Kehadiran kita sebagai profil seorang ibu dan seorang ayah yang mampu menyisihkan waktu untuk keluarga adalah kebutuhan primer yang sangat mereka perlukan. Peluk cium penuh perhatian dan kasih sayang akan menyadarkan mereka tentang arti pentingnya hidup, sehingga anak-anak kita akan terhindar dari sketsa terorganisir pihak-pihak yang menginginkan mereka terjerumus dalam lembah kesesatan, sebab senyatanya perseteruan antara haq dan batil terus akan ada selama planet bumi ini masih ada dan senyatanya juga para pembela kebatilan terus berusaha melahirkan generasi mereka sehingga jika generasi pembela kebenaran tidak kita munculkan, maka kehancuran peradaban tidak akan mampu kita hindari.
            Akhirnya di bulan Ramadhan penuh berkah inilah harapan itu kita ketengahkan kembali, semoga peranan keluarga sebagai pencetak generasi yang taat kepada Allah SWT terwujud. Generasi yang bertaqwa akan tumbuh didalam keluarga yang mawaddah wa rahmah, yakni keluarga yang sakinah, sebagai wujud dari cita-cita menjadikan keluarga sebagai tiang Negara. Demikian kajian kita kali, terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf atas segala kesalahan, billahit taufil wal hidayah, wassalamu ‘alaikum wr. Wb.



Kamis, 14 Juni 2012

INVESTASI AKHIRAT


INVESTASI AKHIRAT
Oleh : Anis Purwanto

          Setiap hari kita bekerja guna mendapatkan nafkah, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Diantara kita ada yang berprofesi sebagai PNS, pedagang, petani dan lain-lain. Namun prinsip dan tujuannya sama. Untuk memenuhi tujaun tersebut, sebagian tenaga, pikiran dan potensi yang kita miliki kita kerahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut. Bahkan sebagian diantara kita, upaya tersebut terasa sangat berat. Hujan kehujanan, panas kepanasan. Dengan peras keringat dan banting tulang pun terkadang hasilnya sangat minim.  Meskipun sebagian orang nampak sangat bahagia. Dapat menikmati hasil dari usahanya. Secara lahiriyah hidupnya sangat berkecukupan. Rumah mewah bertingkat-tingkat, kendaraan mengkilat.
          Semua usaha yang kita laksanakan di dunia ini sering lebih mengatasnamakan kepentingan dunia semata. Dengan perkataan lain kita bekerja untuk kepentingan dunia kita. Bahkan,  terkadang terlupakan, bahwa nawaitu kita untuk bekerja tersebut adalah untuk kepentingan ibadah, untuk kepentingan dunia dan akhirat.  Yang terbayang di benak kita adalah materi. Soal pahala dan akhirat yang melekat pada setiap pekerjaan tak terpikirkan. Padahal kalau niat kita tiap-tiap melakukan pekerjaan tersebut sebagai ibadah, maka nilai yang terkandung didalam seluruh upaya, baik sistem, proses maupun hasil yang kita peroleh akan bernilai ibadah, yang berdimensi dunia akhirat. Artinya, kita bekerja untuk kepentingan materi, tetapi juga mengharap pahala dan ridha Allah.
          Sebab, tanpa sadar kita sering juga menjadikan dunia ini menjadi tujuan, bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang lebih mulia,  yakni untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Karena itu apabila kita hanya mementingkan materi , kita bisa saja bekerja melanggar aturan agama dan hukun negara. Menghalalkan segala cara, seperti menipu, memanipulasi, koropsi, kolosi dan nepotesme dan lain-lain, karena tidak mengenal dosa dan tidak mementingkan pahala dan akhirat. Padahal menurut pemahaman muslim, akhirat adalah segala-galanya. Dunia ”materi” memang penting. Untuk memenuhi kebahagiaan dunia perlu materi, untuk beribadahpun  juga perlu materi.
          Bagi kita seorang muslim, niat kita bekerja adalah mencari nafkah, untuk kebahagiaan di dunia, yang sekaligus mencari pahala sebagai pelaksanaan ibadah  ”Ghaira mahdhah” kepada Allah SWT. Bahkan dimensi ibadah/pahala yang ada di sisi Allah dipandang sebagai lebih baik dan abadi dari apa yang diperoleh berupa materi. Materi yang kita peroleh dari hasil kerja akan habis kalau kita gunakan, tetapi pahala di sisi Allah akan tetap kekal, dan merupakan investasi untuk kita dalam kehidupan di akhirat nanti. ”Dan apa yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah suatu kenikmatan hidup dunia dan perhiasannya. Sedang apa yang ada di sisi Allah (pahala) jauh lebih baik dan lebih kekal”(Al-Baqarah : 60). Karena itu adalah suatu kekeliruan jika kita meninggalkan nawaitu untuk akhirat, hanya untuk mencari materi saja, apalagi materi yang digunakan untuk maksiat.
          Investasi akhirat, yaitu tabungan yang berupa amal shaleh untuk keperluan hidup di akhirat. Malah bunga dari upaya ini,  nanti tidaklah sulit kita peroleh. Sebab, modalnya tidak perlu harus berjuta-juta ataupun ber M bahkan ber T, tetapi cukuplah apa yang kita peroleh saat ini, malah dengan tanpa materipun kita dapat memperoleh hasil yang abadi nanti diakhirat, misalnya dengan berbudi pekerti yang luhur, berahklak mulia dalam hidup bermasyarakat. Tidak berbuat yang merugikan orang lain, baik fisik maupun mental. Sebaliknya berwajah manis dan bersikap akrap dan lain-lain.                      Yang paling sederhana dan tak terlupakan oleh seorang muslim adalah di saat mengawali suatu pekerjaan mulia tidak lupa membaca basmallah. Arti basmallah tidak sekedar kita telah ingat kepada Allah, akan tetapi sekaligus memohon pertolongan kepada Allah, agar apa yang diupayakan itu berhasil dengan baik seperti yang diharapkan serta terjauh dari rintangan dan hambatan.  Karena itu bagi seorang muslim, nawaitu merupakan modal utama dalam melaksanakan semua kegiatan, baik yang bersifat mahdhah maupun ghira mahdhah. ”Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya”. Bagi Allah seseorang yang baru beriniat akan melaksanakan perbuatan yang mulia sudah mendapat pahala meskipun nantinya tidak jadi di laksanakan, apa lagi kalau nanti betul dilaksanakan, tentu akan mendapat pahala yang berlipat dari Allah SWT.
          Oleh karena itu pahala yang akan diperoleh di kampung akhirat merupakan buah dari tanaman kita di kampung dunia, sebab sesungguhnya dunia adalah ladang akhirat. Jikalau kita rajin menanam pasti akan mengetam dikemudian hari. Kenikmatan dan kebahagiaan dunia bersifat semu sedang kenimatan dan kebahagiaan akhirat adalah kenikmatan abadi. Rasulullah membandingkan kenikmatan yang diperoleh di dunia dengan kenikmatan di akhirat, dalam Hadits yang artinya : ”Demi Allah, tidaklah perumpamaan kenikmatan kehidupan di dunia dengan kehidupan di akhirat, kecuali seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya di lautan, maka apa yang hendaknya diperhatikan adalah apa yang melekat di jari itu saja”.
          Allah Maha Murah dan Maha Pengasih. Apa pun yang kita perbuat, sekalipun diumpamakan amal seberat biji sawipun, Allah akan memberi pahala dan bahkan dilipat gandakan.Sedikitpun Alah tidak akan menyia-nyiakan amal shaleh yang dilakukan dengan penuh keihklasan dan hanya mencari keridhaan Allah semata. ”Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal seseorang walau seberat dzarrah. Dan jika ada kebaikan dalam amalnya sebesar dzarrah itu, niscaya akan dilipatgandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”  (An Nisa:40).
          Kunci pokok agar seorang muslim menjadikan akhirat sebagai ladang investasi adalah  penyadaran diri akan hakekat hidup yang sesungguhnya. Sebab masih  begitu kuatnya kekuasaan nafsu jahat ditengah tergila-gilanya dengan kemewahan duniawiyah. Menganggap seakan-akan dunia ini abadi, kemewahannya kekal, dan seolah-olah merupakan puncak kepuasan hakiki. Padahal jika mau merenung, akan disadari bahwa pada hakekatnya manusia akan mati, semua kesenangan duniawiyah seperti  harta, tahta dan wanita akan ditinggalkan, rela atau tidak rela. Jasmani yang terbuat dari tanah akan kembali kepada tanah, sedang ruhani yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah, dengan membawa pertangungjawaban hidup. ”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan” (Al-Baqarah:28).
          Oleh karena itu untuk apa kita hidup di dunia ini jika semua kesenangan duniawi pada akhirnya ditinggalkan. Allah telah menegaskan bahwa sesungguhnya tujuan hidup manusia di dunia ini adalah henya mengabdi kepada Allah. Mengabdi bukan dalam arti sempit, tetapi dalam arti yang seluas-luasnya, yakni seluruh aktivitas hidup untuk mengabdi kepada Allaj. Mengabdi kepada Alah berarti menjalankan tuntunan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan mnusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS.Adz-Dzariyat : 56). Semua  itu kita kerjakan dengan penuh keihklasan, kecintaan dan penuh kesemangatan, tanpa sedikitpun beban pada dirinya, karena hidupnya telah diwakafkan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Pengabdian inilah yang merupakan investasi kita nanti diakhirat. Wallahu a’lam.


Sabtu, 02 Juni 2012

SHOLAT KHUSUK


SHOLAT KHUSUK
Kunci Sukses dan Kemenangan
Oleh : Anis Purwanto
 
Sholat adalah kegiatan ibadah wajib yang dilakukan umat Islam minimal 5 kali sehari semalam. Bahkan Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengerjakan sholat 5 waktu ia menambahkan dengan sholat sunat rawatib sebelum dan sesudah sholat wajib, sholat tahajud atau sholat malam,sholat Dhuha dan sholat sunah lainnya. Bahkan Rosulullah SAW didalam mengerjakan sholat sampai kaki beliau bengkak. Dan ketika istri Rasulullah SAW ditanya bagaimana model sholat beliau, dijawab secara deplomatis “lama dan khusuknya jangan ditanya”. Artinya sholat beliau tersebut sangat khusuk dan sangat tumakninah. Lalu yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah kekuatan yang terkandung dalam sholat itu, hingga Rasulullah begitu mengutamakan mengerjakan sholat dalam kesehariannya ?.
Memang sebagian besar umat Islam menganggap sholat hanya sebagai satu kegiatan ritual yang harus dikerjakan setiap hari. Banyak diantara umat Islam yang mengerjakan sholat namun tidak merasakan manfaat sholat selain dari letih dan lelah, bahkan ada diantara mereka yang mengerjakan sholat dengan malas dan menganggap kegiatan sholat hanya membuang waktu saja. Jika mereka memahami sebenarnya dalam ritual sholat terdapat kekuatan maha dahsyat yang dapat memberi kekuatan kepada mereka dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan.
Orang yang melakukan sholat dengan tepat dan benar niscaya dapat merasakan kekuatan dahsyat yang muncul sebagai efek dari pelaksanaan sholat tersebut. Energi dahsyat yang muncul dari pelaksanaan sholat yang khusuk dan benar memberi kekuatan dan kemudahan bagi seseorang dalam menghadapi berbagai masalah didunia ini. Allah menjamin kemenangan dan keberhasilan bagi orang yang khusuk dalam sholatnya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Mukminun ayat 1-2 :



Artinya : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang   khusuk dalam shalatnya”. (Al Mukminun :1-2)

Mengenai bagaimana cara meraih shalat khusuk memang banyak sekali kiat-kiatnya, namun secara umum cara awal yang sering kita lakukan adalah dengan cara memahami apa yang kita baca dalam shalat tersebut. Ini memang membutuhkan pembelajaran. Agar kita tidak hanya umak-umik, hewes-hewes tapi tidak paham artinya. Namun menurut Imam Ghazali memberikan kiat lain diantaranya dengan persiapan hati. Hadapkan hati kepada Allah dan kosongkan dari segala kesibukan yang melelahkan. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah ketika kita takbiratul ihram ALLAHU AKBAR, yang artinya Allah Maha Besar. Maka disaat itu, yang lain haruslah kita anggap kecil. Segala sesuatu selain Allah adalah kecil, maka hanya Allah yang Maha Besar. Segala kesibukan apapun adalah kecil, yang besar hanyalah Allah.
Dari sisi dhohir Imam Ghazali menyarankan agar disaat shalat hendaknya dijauhkan dari pandangan yang mengganggu. Misalnya kain yang dipakai untuk shalat, tempat sujud, baju, seyogyanya dihindarkan dari warna-warni gambar dan tulisan yang mengganggu. Dan ini susah memang. Sebab model sajadah yang kita pakai sekarang ini banyak yang bergambar, meskipun gambar masjid atau gambar ka’bah sekalipun. Namun sedikit banyak pernik-pernik yang ada disajadah tersebut justru dapat mengganggu imajinasi dan konsentrasi shalat kita. Belum disaat kita shalat berjamaah di masjid, ada jamaah yang memakai kaos bergambar dan bertuliskan macam-macam dipunggung, yang ini sangat mengganggu jamaah yang berada dibelakang. Apalagi jika kita shalat di tanah lapang dengan beralaskan koran, yang kebetulan disitu ada gambarnya Luna Maya atau Cut Tari. Apa kata hati kita disaat shalat. Bisakah kita shalat dengan khusuk ?.
Yang jelas shalat khusuk itu perlu latihan terus. Bahkan latihannya bisa seumur hidup kita. Hari ini kita belum bisa shalat dengan khusuk, besuk kita coba lagi shalat dengan khusuk, dan begitu seterusnya. Sampai kita benar-benar bisa mengerjakan kewajiban itu dengan khusuk. Sambil terus berdoa, semoga diberi kekhusukan oleh Allah. Karena yang menguasai hati kita adalah Allah, yang mbolak mbalik hati kita juga Allah. Selain memang niat kita harus ikhlas. Shalat itu hanya untuk Allah, bukan untuk selain Allah. Ini harus kita teguhkan diawal niat. Bukankah kita semua sedang menghadap Allah, layak dan sopankah jika kita menghadap Allahtanpa sepenuh jiwa dan hati. Padahal ketika kita mengucapkan takbir, sejak awal shalat maupun pergantian gerakan shalat, mestinya kita menyadari betapa seluruh totalits selain Allah itu ditakbiri. Sehingga sang hamba fana’ total dalam Baqo’Nya Allah. Sebab sebenarnya Allah tidak membutuhkan shalat kita, tetapi kitalah yang membutuhkan Allah melalui shalat. Karena itu shalat itu harus hanya untuk Allah. Allah tidak butuh disembah, tetapi kita yang bergantung kepadaNya membutukanNya secara total.
Shalat itu bukan sebagai kerangka jalan menuju hakekat, tetapi shalat itu adalah perintah Allah, bukan untuk kepentingan Allah tetapi demi kepentingan kita sendiri, karena cinta dan kasih sayang Allah Yang Maha Agung kepada kita. Jadi salah besar bahkan sesat kalau ada pandangan yang mengatakan bahwa shalat itubjalan menuju kepada Allah. Sebab jika kita sudah ketemu dan menyatu dengan Allah, berarti kita sudak tidak perlu lagi shalat. Karena kalau kita masih shalat berarti masih mondar-mandir dijalan, belum ketemu dengan Allah. Inilah pemikiran sesat dan menyesatkan umat Islam.
Bagaimana energi dahsyat itu bekerja ?, mengapa banyak orang yang sholat tidak pernah merasakan keberadaan energi yang dahsyat itu? Hal ini dikarenakan kita shalat baru sekedar mengerjakan, gugur kewajiban, belum kepada bagaimana shalat yang kita kerjakan itu memberi dampak positip dalam kehidupan sehari-hari. Sebab energi yang dahsyat ini hanya dapat dirasakan dan dimanfaatkan oleh orang yang khusuk dalam shalatnya ,"Amal pertama yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalat. Dan barangsiapa yang baik (diterima) shalatnya, maka baik (diterima) pula segala amalan yang lain, dan barangsiapa yang rusak (ditolak) shalatnya, maka rusak (ditolak) pula segala amalan lainnya” (HR Thabarani).
Inilah kekuatan yang menjadikan mengapa begitu besar manfaat shalat yang kita laksanakan. Shalat menjadi tolak ukur  bahkan menadi kunci diterima tidaknya semua amal kita. Semakin baik “khusuk” shalat kita semakin besar peluang diterimanya semua amalan kita kelak. Hal ini menjadi indikasi akan suksesnya kehidupan kita di dunia dan di akhirat. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yang khusuk dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna” (QS.Al-Mu’minun). 
Sedang untuk mendapatkan shalat yang khusuk, kita paling tidak harus mengenal kekuatan utama yang ada didalam diri manusia untuk mengenal mekanisme kerja energi tersebut, yang antara lain kekuatan fikiran dan hati manusia, kekuatan hukum ketertarikan serta kekutan imajinasi dan visualisasi. Sebab Allah telah menjadikan manusia dengan sempurna, melebihi mahluk lainnya dimuka bumi ini. Sebab Allah menempatkan kekuatan utama manusia di dalam otak dan dada mereka. Akal dan fikiran yang terdapat didalam otak, dan hati yang terdapat didalam dada merupakan kekuatan utama manusia yang menyebabkan manusia memiliki kelebihan dibandingkan mahluk lainnya.Islam adalah agama sempurna, yang semua ajarannya memberi manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi pemeluknya.                                   
Bahkan para ahli membagi fikiran yang berpusat pada otak ini menjadi dua, yaitu fikiran sadar dan fikiran bawah sadar. Fikiran sadar pada belahan otak sebelah kiri bertugas menghitung, menganalisa, mengevaluasi situasi dan keadaan yang dialami kemudian mengambil keputusan apa tindakan yang harus dilakukan. Fikiran bawah sadar pada belahan otak sebelah kanan bertugas antara lain mengendalikan saraf motorik yang menggerakan fungsi organ tubuh seperti denyut jantung, kedipan mata, keluar masuk nafas, peredaran berbagai enzym dan cairan dalam tubuh. Menyimpan memori ingatan kejadian masa lalu. Menyimpan ilmu dan keterampilan. Menyimpan Citra diri. Merasakan keindahan seni dan lain sebagainya. Dalam kehidupan sehari hari ternyata fikiran bawah sadar berperan jauh lebih besar daripada fikiran sadar. Fikiran bawah sadar menguasai 88% dari kehidupan manusia sedang fikiran sadar hanya menguasai 12%. Beberapa perananan dan fungsi fikiran bawah sadar dalam kehidupan manusia antara lain
  • Fikiran bawah sadar merupakan blueprint kehidupan seseorang
  • Kiprah seseorang dibatasi oleh batasan yang ada didalam fikiran bawah sadarnya
  • Fikiran bawah sadar negatif akan menarik berbagai kejadian buruk kedalam kehidupan seseorang, yang menyebabkan berbagai kesulitan dan penderitaan pada orang tersebut
  • Fikiran bawah sadar positip akan menarik berbagai kejadian baik kedalam kehidupan seseorang yang menyebabkan kesuksesan dan berbagai keberuntungan pada orang tersebut.
  • Fikiran bawah sadar membentuk citra diri positip atau negatif pada diri seseorang
  • Setiap orang akan mejalani kehidupan sesuai dengan gambaran mental yang tertanam dalam fikiran bawah sadarnya.
  • Gambar mental fikiran bawah sadar cenderung untuk menjelma kedalam kehidupan nyata seseorang
Karena itu didalam shalat yang khusuk peranan niat menjadi sangat central. 
Agama mensyaratkan niat sebagai kontrol nilai, apakah ia berada dalam kesadaran ihsan atau tidak, sehingga kadang kala Allah menegur kita saat beribadah: mengapa kita melakukannya dengan pikiran terpecah “riya’ . Niat kita terkadang berubah pada waktu berlangsungnya ibadah kepada Allah. Misalnya pada saat kita melakukan shalat, ditengah kita bersujud ternyata pikirar tidak turut bersujud malah melayang jauh menuju angan-angan.
Dari uraian masalah kesadaran atau niat dalam terminology fiqh di atas, terlihat perbedaan makna dari istilah niat dengan makna yang sudah terlanjur beredar dalam masyarakat. Padahal kita ketahui bersama, bahwa didalam melaksanakan sebuah ibadah harus didahului dengan niat.  Apakah niat itu hanya pada awal suatu perbuatan, sebagai syarat sahnya perbuatan tersebut, atau berniat itu adalah melakukan perbuatan dengan penuh kesadaran sepanjang perbuatan itu berlangsung.                                                    
Namun yang pasti kekuatan yang maha dahsyat yang akan muncul dari pelaksanaan shalat yang kita laksanakan dengan sempurna, yakni shalat dengan lebih mantap, shalat sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi “shalatlah sebagaimana kamu mengetahui aku shalat”, shalat yang memiliki nilai lebih agung (shalat berjamaah) dan shalat yang mempunyai nilai lebih nikmat (shalat dengan khusuk). Wallahu a’lam.